Tak Diakui

1697 Kata

Lama dalam keheningan, perlahan Hermawan berjalan mendekati kedua anaknya. Syifa menghapus air mata yang seenaknya jatuh tanpa perintahnya dengan kasar. Lantas menatap pria paruh baya yang kini berjalan ke arahnya tanpa memutus tatapan darinya. Kemudian Hermawan beralih menatap Ilham. “Kamu bilang dia adikmu? Apa ibu kalian menikah lagi?” Ilham dan Syifa sontak terkejut mendengar pertanyaan yang tidak masuk akal itu. “Mama tidak pernah menikah lagi,” ucap Ilham penuh penekanan, menahan amarah yang tiba-tiba muncul. “Lalu, maksudmu dia anakku?” tanya Hermawan menatap Syifa kembali. “Mama mengandungnya tepat setelah Papa pergi.” Ilham masih berusaha mengendalikan emosinya. “Begitukah? Tapi bagaimana aku tahu kalau dia memang benar-benar anakku? Bisa saja dia anak dari pria lain,” ucapn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN