EP 3

1018 Kata
Pagi cerah mentari bersinar terang. Langkah baru dimulai Rania Tami dengan merubah penampilan menjadi sederhana menggunakan celana jeans dan kemeja kotak-kotak merah hitam, rambut terurai dan jepitan cantik membuat mahasiswa terheran-heran akan perubahan yang dibuatnya. Tak lama Cillia cantik, pintar, suka cowok ganteng, Raka kaya, tukang gombal, Denia baik, manis menghampiri teman baiknya. "Rania, apa itu kamu?" Tanya Cillia yang tak percaya akan perubahan Rania "Iya memang ada salah denganku" ucap Rania yang santai "Kenapa sekarang kamu berbeda berpenampilan sederhana seperti yang lain, tidak memakai barang branded" ucap Denia cemas akan keadaan Rania "Itu karena sekarang aku jatuh miskin" ucap Rania yang jujur "Apa kok bisa? Setahuku perusahaan keluargamu baik-baik saja tidak ada berita tentang kebangkrutan" ucap Raka yang merasa aneh "Memang bukan keluargaku tapi aku yang hidup pas-pasan soalnya aku kabur dari rumah" ucap Rania "Apa alasan kamu kabur?" tanya Cillia yang bingung "Aku mau dijodohkan dengan anak sahabat papa" ucap Rania santai "Ya ampun hari gini masih musim dijodohkan, terus kamu tau orangnya seperti apa?" kata Cillia "Nggak tau" Rania menjawab dengan acuh "Seharusnya kamu pastikan dulu orangnya seperti apa siapa tau dia muda, tampan, pintar semisal dosen Revan gitu, nanti kamu akan menyesal" ucap Denia yang mencoba membujuk teman baiknya "Uhhhk" kata Rania. Dalam hati "kok bisa sih tebakannya benar, gawat nih" "Kamu kok batuk, apa ada yang salah dengan perkataanku" ucap Denia curiga akan sikap Rania "Habisnya kamu sih tadi bahas jodoh malah jadi dosen kan bisa yang lain misalnya Lee Minho, Lee Jong Suk" ucap Rania mencoba mengalihkan perhatian "Maaf itu karena aku fans berat dosen Revan, dosen keren banget" ucap Denia yang memang menjadikan Revan sebagai dosen favorit di kampus secara paket lengkap gitu. "Ya dosen Revan memang top banget, tampan memukau" ucap Cillia menambahkan "Tampan akulah, Raka gitu" Raka yang merasa bahwa ia lebih tampan dari yang lain "Apa? Jauh gitu bagai langit dan bumi" ucap Cillia geli akan sikap Raka "Hei nggak separah gitu" kata Raka yang tidak terima direndahkan oleh Cillia "Cukup ayo kita ke kelas sebelum terlambat" kata Rania membujuk temannya agar tak lagi berdebat. "Ya, tapi kalau kamu butuh bantuan bilang ke aku" ucap Cillia yang menawarkan bantuan " Aku juga siap bantu" kata Denia dengan rasa solidaritas "Apalagi aku Raka akan selalu ada untukmu Rania sayang" Raka yang masih suka gombal "Sudah gombalnya, yuk let's go" ucap Rania "Yuk" ucap Denia, Cillia, Rakka Tanpa mereka sadari Revan menguping pembicaraan dan tersenyum. "Dan meski kau telah berubah entah kenapa hatiku tetap tertuju padamu Rania, aku akan terus berusaha untuk mendapatkan cintanya" dalam benak hati Revan. Revan pun melangkah ke kelas dan mulai mengajar. Setelah pelajaran usai dan kelas sepi Revan menghampiri Rania yang termenung "Rania, apa kamu ada masalah?" Tanya Revan "Tidak pak" sanggah Rania "Kalau tidak ada kamu jangan melamun" kata Revan "Maaf pak" Rania yang menyesal karena tak memperhatikan pelajaran "Bagaimana dengan tugas yang kemarin saya berikan, apa sudah selesai?" Kata Revan menerka "Belum pak" kata Rania 'Kalau begitu besok kamu kumpulkan tugasnya" kata Revan. Dalam hati "berbicara denganmu saja sudah cukup membuat diriku bahagia". "Baik pak" anggukan Rania Revan pergi menuju ke ruangannya dengan senyum di wajah, seolah-olah dia jatuh cinta seperti remaja membuat yang melihat menatapnya aneh, tapi juga yang terpesona. Sementara itu Rania pulang ke rumah Tania dengan lesu, ia merebahkan badan di sofa sembari memainkan hp. Tak lama Tania datang setelah berganti pakaian. "Woi, kenapa kamu melamun?" Tanya Tania "Nggak ada" ucap Rania yang memeluk bantal dengan erat "Masa' sih aku nggak percaya" ucap Tania "Aku lagi berpikir apa yang kulakukan itu benar atau salah?" Ucap Rania ragu-ragu akan keputusan yang dibuatnya "Terus mau kamu apa? Pulang dan dinikahkan dengan dosen Revan atau berjuang demi cinta dan cita-cita mu" tanya Tania "Itu yang aku pusingkan" ucap Rania yang bingung "Tumben amat, biasanya maju pantang mundur. Menurutku kamu sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang terbaik, kamu harus berjuang demi kebahagiaan mu jangan hanya mengikuti apa yang menurut orang lain baik, kan kamu yang jalanin bukan mereka" ucap Tania bijak sambil minum jus jeruk yang diambil dari kulkas "Yap aku suka gayamu, aku sekarang sudah mantap" kata Rania yang mulai memantapkan hatinya "Mantap apa? Jadi nyonya Revan" ledek Tania pada sahabatnya "Apaan sih, aku mantap memperjuangkan apa yang ingin kulakukan" "Itu baru sahabat yang kukenal dulu" kata Tania "Iya, thanks" "You're welcome" ****** Di perusahaan Permata Abadi melangkah CEO baru tampan, muda, memikat dengan optimis. Revan Aditya Putra setiap langkahnya diikuti karyawan yang memberikan hormat dan ada pula yang terpana. Revan pergi ke ruang manajer Jose Mahendra. Jose Mahendra muda, mandiri, pintar yang merupakan kakak sepupu Tania dan sahabat baik Revan. "Bro, apa kabar?" Tanya Revan "Baik, tumben kamu ke sini" kata Jose "Aku disuruh papa untuk jadi CEO di perusahaan ini" ucap Revan santai "Bagus kalau gitu, langsung bekerja ya" kata Jose penuh semangat "Jangan dulu, aku mau cerita?" ucap Revan yang ingin menceritakan masalahnya "Ada masalah apa?" Ucap Jose yang ingin tau permasalahan sahabatnya "Aku mau dijodohkan dengan anak sahabat papa, kebetulan dia termasuk mahasiswi ku" Revan yang mulai menjelaskan secara gamblang "Terus masalah dimana? Apa dia bukan tipemu ?" Ucap Jose yang menerka-nerka "Dia tipeku banget, tapi masalahnya dia kabur dari rumah" ucap Revan yang lesu "Apa seorang Revan ditolak?" Ledek Jose "Nggak gitu juga karena dia hanya tau akan dijodohkan dan tidak tau akan dijodohkan dengannya" kata Revan menjelaskan "Ohh, terus kamu menyerah" Jose dengan nada kecewa. Karena yang dia tau Revan bukan tipe pesimis. "Nggak, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan cintanya" ucap Revan yang percaya diri "Kalau gitu semangat 45" kata Jose sambil menepuk bahu Revan dan berusaha menyemangati "Ya, tapi aku butuh saran darimu untuk mendapatkannya" kata Revan "Bukankah mudah bagimu, biasanya wanita langsung terpana padamu" "Nggak semudah itu Jose, dia berbeda" "Ok menurutku kamu harus memberikan dia perhatian yang tulus tapi tidak boleh terlalu berlebihan, seperti itu" "Gitu doang" "Itu langkah awal dulu bro, jangan cepat-cepat nanti dia ilfeel ke kamu" "Ok" "Ya udah sekarang kamu urus dokumen ini, kerja bro" kata Jose sembari memberikan dokumen "Ya" kata Revan Revan pun melangkah menuju ruangannya dan memiliki dokumen perusahaan. Sementara Jose kembali ke lingkup pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN