Author POV
Keesokan harinya Rania datang ke perusahaan Permata Abadi lebih awal. Saat membersihkan ruangan dia dikejutkan suara barang jatuh, Rania mencari sumber suara, ternyata suara itu dari ruang CEO. Rania melangkah secara perlahan dan menemukan bosnya yang tak sadarkan diri. Rania membawa bosnya menuju ruangan istirahat di tempat itu, ia mengecek keadaan bosnya, suhu tubuh panas, dan menggigil kedinginan. Kemudian Rania beranjak pergi mencari air dingin, dan lap. Ia dengan telaten mengompres bosnya. Ia pun mengambil jaketnya dan memakaikannya pada Revan. Terdengar suara lirih Revan yang memanggil Rania, Rania. "Hmm pak bos sakit mikirin gue mulu hadeh" gerutu Rania
Setelah 30 menit berlalu keadaan Revan membaik, Rania pergi untuk membelikan bubur. Tak lama OB shift pagi datang. Rania pun segera menemui mereka
" Mas Doni sudah datang" ucap Tara
"Iya, Tara kamu sudah datang dari pagi" ucap Doni
"Iya mas" ucap Tara
"Kamu beli bubur" ucap Doni
"Ini untuk pak bos, dia lagi sakit, mas aku izin untuk memeriksa keadaan pak bos, nanti setelah selesai aku akan kembali kerja" ucap Tara menjelaskan
"Ya udah, biar aku dan Indro yang membersihkan ruangan, kamu fokus aja sama pak bos" ucap Doni
"Terima kasih mas"
"Sama-sama"
Doni bersama Indri menuju membersikan ruangan mulai menyapu, mengepel, mengelap, dan menata barang yang berantakan.
Sementara itu Tara menuju ruangan CEO. Ia menyiapkan bubur, air putih, dan obat. Ia mengecek suhu badan Revan, sekarang suhu badan mulai turun, tak berselang lama Revan membuka mata dan bergerak bangkit.
"Pak bos sudah bangun" kata Tara
"Culun, kenapa kamu ada disini?" Tanya Revan
"Apa pak bos nggak ingat, saya tadi kerja, terus saya melihat pak bos pingsan, saya langsung bawa pak bos kesini" ucap Tara jujur
"Nggak ingat"
"Ok, sekarang pak bos makan dan minum obat ya"
"Nggak mau, saya bukan anak kecil"
"Siapa yang bilang pak bos anak kecil, saya hanya minta pak bos makan dan minum obat biar cepat sembuh" ucap Tara. Dalam hati " sudah dewasa tapi sifat anak kecil, sabar, sabar"
"Siapa kamu berani memerintah saya" ucap Revan galak
"Saya OG paling cantik disini, demi kebaikan pak bos harus nurut ok, soalnya tadi pak bos sakit panas dan menggigil kedinginan" ucap Tara
" Masa' " ucap Revan
"Iya tuh lihat, jaket saya ada di bapak, keringat pak bos banyak" ucap Tara
"Hmm"
"Ya udah, mau makan sendiri atau disuapin" ucap Tara ragu
"Suapin" ucap Revan manja
"Manja" ucap Tara. Dalam hati "nyesel tadi nawarin"
"Ya udah kalau nggak mau " ucap Revan
"Jangan ngambek pak bos yang tampan dan baik hati" ucap Tara. Dalam hati " mulai lagi sifat kekanakannya.
Tara pun menyuapi bubur ke mulut Revan sedikit demi sedikit sampai habis, Ia juga memberikan obat. Setelahnya Tara membereskan makanan dan pergi ke pantry tapi apa ada tangannya ditarik Revan.
"Pak bos lepasin, saya mau ke pantry sekalian kerja" ucap Tara
"Nggak mau, kamu harus tetap disini sampai keadaan saya lebih baik" ucap Revan
"Pak bos sudah mendingan kok, lagian sudah makan, minum obat, mau apalagi" tanya Tara bingung
"Maunya kamu temanin saya titik. Nggak boleh membantah" ucap Revan
"Memangnya pak bos nggak bete lihat muka saya terus" ucap Tara
"Sebenarnya bete melihat pemandangan jelek, tapi daripada sendiri lebih baik ada kamu" ucap Revan
"Huh" keluh Tara. Dalam hati "nyebelin banget pak bos udah ditolong malah hina lagi, emang gue yang salah bilang gitu".
Tara menemani Revan sambil membolak-balik majalah yang ada di sekitarnya. Ia merasa bosan dengan keadaan itu. 1 jam berlalu Revan akhirnya tertidur, Tara pergi mengendap-endap tanpa suara agar tidak menggangu tidur bosnya. Kemudian dia pergi menuju pantry, Indri datang dan menyapanya
"Tara, kamu masuk jam berapa?" Tanya Indri
"Dari tadi pagi kak" ucap Tara
"Terus kenapa kamu tidak ikut beresin ruangan?" Tanya Indri
"Maaf, itu karena aku sibuk merawat pak bos" ucap Tara
"Pak bos Revan" ucap Indri
"Iya, dia sakit" ucap Tara menjelaskan
"Kasian pak bos, kamu sekarang kok disini"
"Kondisi pak bos udah mendingan, jadi aku keluar dari ruangan"
"Oh gitu, gimana wajah pak bos apa masih tampan" ucap Indri kepo
" Tetap tampan tapi makin nyebelin kalau sakit" ucap Tara santai
"Oh ya aku jadi ingin melihatnya"
"Silakan mumpung dia tidur"
"Nggak ah, nanti kalau tiba-tiba bangun, dan marah, bahaya dong"
"Itu resiko kamu"
"Kalau gitu kita lanjutkan kerja aja"
"Setuju"
Tara dan Indri melanjutkan pekerjaan mereka. Sementara Revan terbangun, ia terkejut tidak menemukan keberadaan Tara. Ia mencoba bangkit dan mencari Tara, namun badan terasa lemah, ia kembali duduk.
Tara membagikan minuman satu persatu kepada karyawan kantor. Dan sampai di ruangan manajer, terlihat Jose yang kewalahan
"Permisi, boleh saya masuk" ucap Tara
"Masuk aja Tara" ucap Jose
"Hmm, ini minumannya" ucap Tara
"Iya, letakkan disitu"ucap Jose sambil mengarahkan ke meja yang kosong
"Ok, kak mukamu kok kusut, ada masalah" ucap Tara
"Iya dek, hari ini banyak masalah, klien pada telpon, sekretaris CEO izin, CEO nggak ada kabar, banyak berkas belum selesai pusing banget aku" keluh Jose
"Oh soal itu, pak bos sakit kak kelihatan kemarin begadang ngerjain berkas dan berakhir tumbang" ucap Tara
"Apa?? Kenapa kamu nggak bilang, terus gimana keadaannya, apa perlu panggil dokter pribadi?"
"Keadaannya mendingan lagian tadi pak bos sudah makan, dan minum obat" ucap Tara
"Baguslah, tapi nanti kamu cek lagi, agar lebih aman"
"Ok Kakak tapi sebelumnya gimana kalau aku bantu atur jadwal pak bos, biar kakak fokus urus dokumen"
"Boleh juga, apa kamu bisa"
"Bisa"
"Ok kerjakan sekarang, biar Revan nggak nunggu lama"
"Siap kak Jose"
Tara pergi menuju ruangan sekretaris, dan langsung mengecek beberapa berkas dan menelpon beberapa kolega untuk atur ulang pertemuan. Setelah 30 menit ia selesai mencatat jadwal baru di buku dan diserahkan ke Jose. Setelah itu ia pergi menuju ruangan Revan.
Revan yang duduk mendengarkan suara langsung kaki Tara, ia merasakan perasaan lega
"Kamu darimana Tara" ucap Revan
"Saya tadi mengantar minuman dan mengatur ulang jadwal pak bos" ucap Tara jujur
"Atur jadwal itu tugas sekretaris saya bukan OG seperti kamu" ucap Revan galak
"Saya tau, tapi sekretaris pak bos izin, jadi saya membantu tugas kak Jose, kasihan tugasnya banyak" ucap Tara menjelaskan
"Ohh"
"Gimana sekarang keadaan pak bos apa lebih baik, apa perlu saya panggilkan dokter pribadi" ucap Tara perhatian
"Sedikit lebih baik, tapi kamu jangan panggil dokter pribadi, mengerti"
"Mengerti bos"
"Apa kamu belum makan? Kok mukamu pucat" tanya Revan kuatir
"Belum sempat, tapi saya bawa bekal" ucap Tara menjelaskan
"Ok, bawa bekalmu kemari dan makan disini" perintah Revan
"Baik pak bos" ucap Tara
Tara pun mengambil bekalnya, dan memakaikannya dihadapan Revan. Revan mengamati tingkahnya. "Hmm kok lucu ya mukamu" ucap Revan dalam hati
Revan POV
Aku tak pernah menyangka, karena kemarin begadang, jadi kelelahan dan jatuh sakit. Saat membuka mata terlihat wajah Tara yang begitu peduli dengan keadaanku. Aneh meski Tara culun tapi aku merasa nyaman. Aku takut sendirian saat sakit karena itu aku sempat menahannya. Dia menyuapiku makanan dan obat dengan telaten.
Tak lama aku tertidur. Setelah beberapa menit berlalu aku terbangun mendapati dia tak disampingku rasanya gelisah, aku mencoba bangkit dan mencarinya. Tapi apa daya keadaanku masih lemah, aku urungkan diri dan memiliki duduk saja. Saat melihat Tara kembali rasanya lega sekaligus senang. Tapi kulihat dia pucat, mungkin dia tak sempat makan karena sibuk kerja dan merawat diriku. Aku menyuruhnya makan. Saat dia makan bekalnya terlihat lucu, rasanya aku terhibur.
Rania POV
Aku menikmati makanan bekalku yang kubawa sejak pagi karena tak sempat memakannya lantaran sibuk mengurusi bos yang tiba-tiba sakit. Betapa anehnya tingkah bos yang sakit mulai dari mengigau namaku, minta disuapi makanan, dan ditemani. Wajah killer yang kadang ditampilkan saat serius berubah menjadi anak kecil. Aku berusaha melakukan yang terbaik di pekerjaanku termasuk menemani pak bos di ruangannya. Untunglah dosen tak jadi datang, dan kuliahku kosong sehingga aku bisa di kantor sampai sore.
Sore hari kondisi bos membaik, mukanya tak lagi pucat, dan tubuhnya juga tak lemas. Padahal siang tadi juga sulit membujuk pak bos untuk makan dan minum obat. Rasanya aku bukan lagi OG tapi baby sitter pak bos.
Author POV
Sore harinya karena kondisi Revan membaik akhirnya ia pulang pulang diantar sopir ke rumahnya agar bisa istirahat. Sementara itu Tara menghampiri Jose di parkiran
"Dek, ayo pulang" ajak Jose
"Ok kak" ucap Tara
"Kamu hebat bisa mengatasi Revan yang lagi sakit" ucap Jose
"Memangnya kenapa kak?" Ucap Tara bingung
"Biasanya dia rewel banget kalau sakit, aku selalu pusing dibuatnya, kadang nggak mau makan, minum obat, mana bisa sembuh, bahkan tak jarang dia malah marah" ucap Jose
"Kenapa begitu?" Ucap Tara
"Entahlah mungkin kurang kasih sayang"
"Ya kak"
Tara pulang ke rumah Tania bersama Jose. Ia langsung membersihkan diri dan tidur pulas di kamar. Rasa kantuk dan lelah tak bisa dibendung sedari pagi, tidur dengan memeluk boneka bear. Tania hanya bisa geleng-geleng, melihat tingkah sahabatnya.