Happy reading .... . . . Untuk beberapa saat lamanya, Ella membeku tanpa tahu harus berbuat apa. Namun, setelah kesadarannya kembali terkumpul, dengan cepat Ella mendorong pundak Kallan agar menjauh dan melepaskan tautan bibir mereka. Ella menatap pria itu dengan sorot penuh amarah. Ingin rasanya Ella memaki bahkan menampar wajah tampan itu. Akan tetapi, entah mengapa Ella tak mampu melakukan itu. Hingga kemudian setitik bening itu jatuh begitu saja. Tatapan penuh amarah itu kini berubah dengan kesedihan. Ella menangis tanpa suara. Hanya air mata yang terus berbondong-bondong keluar dari sudut netra beningnya yang jika diperhatikan lebih lama, mirip sekali dengan milik Gita. Seketika rasa bersalah menyelimuti perasaan Kallan. Melihat gadis yang belakangan membuat hatinya gelisah itu

