“Kak Reaz, apa tidak masalah kita mencuri?” ucap seorang anak kecil. “Tidak ada pilihan lain lagi, Elfan. Desa kita tidak bisa menaman gandum maupun sayuran. Tidak memiliki air dan lainnya, kedua wilayah tiak mau menerima kita. Maka dari itu kita harus hidup seperti ini,” jelas laki-laki tersebut dan membuat Ellena tertegun. Ellena tidak bisa berdiam diri saja. Dia tidak peduli dengan penjahat yang telah menculiknya. Justru dia menampakkan dirinya kepada mereka berdua. Mata keduanya membelalak lebar dan Reaz segera menuntun Elfan untuk bersembunyi di belakangnya. “Tenanglah, kalian panik sekali,” ujar Ellena pada mereka berdua yang sepertinya tidak mengetahui statusnya. “Hei, Tuan. Bukankah kamu sudah berjanji untuk menemaniku?” Reaz menggertakkan giginya. Laki-laki itu menggenggam g

