JAM sembilan malam, aku baru sampai di tempat ini. Tempat yang mungkin akan menjadi tempat tinggalku untuk beberapa tahun ke depan, yap! Benar. Saat ini aku sudah berada di sebuah kamar kos yang berukuran sedang dan hampir seluruh perabotannya dihiasi dengan warna putih, juga dengan warna dinding kamar ini yang sama dengan warna perabotannya yaitu berwarna putih. Setelah mendapatkan kunci kamar aku segera pergi ke kamar ini, kutaruh begitu saja koperku dan aku menghempaskan diri di atas kasur empuk berbalut bad cover berwarna biru. Meskipun kasur ini tak senyaman kasurku di rumah tapi aku suka tempat ini, tempat yang aku pilih sendiri saat keadaan darurat dan tanpa sepengetahuan Bimo.
Ya, kamar kos ini aku dapatkan dari sebuah aplikasi di ponselku. Aku tak mau mengambil tempat yang di mana tadi siang aku mencarinya bersama dengan Bimo karena mungkin ayahku sudah mengetahui semua tempat yang aku kunjungi tadi siang. Sekarang, aku pun tak bisa jamin jika dia tidak akan mengetahui tempat ini nantinya, karena dia adalah Bapak Zaki yang di mana hal-hal remeh seperti ini saja dia pasti akan bisa mengetahuinya. Ah, masa bodo dengan hal itu. Sekarang, aku hanya ingin beristirahat sejenak sebelum berpikir akan bagaimana aku sekarang tanpa uang dan kendaraan, tanpa restu dari ayahku dan tanpa keluargaku.
Saat menyeret koperku keluar dari rumah tadi, ayahku langsung berkata kalau aku tak boleh keluar dengan membawa uang sepeserpun. Maka semua uang yang ada di dalam dompetku juga kartu-kartu sejenis ATM yang pernah dia berikan kepadaku aku berikan semuanya kembali padanya. Hal hasil, di dalam dompetku saat ini hanya ada kartu tanda kependudukan diriku saja. Tadinya aku pun sudah ingin menyerahkan kartu tanda pengenalku kepadanya tapi dia menyerahkan kembali kepadaku karena katanya dia tak butuh itu, sebab itu lah aku bisa menyewa kamar kos ini. Lalu, kalian tanya dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk menyewa tempat ini? Jawabannya adalah aku sudah mempersiapkan ini sejak lama.
Sejak aku bertekat menjadi dokter pun sejak aku tahu kalau mungkin aku akan kehilangan tempat tinggal karena ayahku pasti akan mengusirku. Sejak aku sadar akan hal itu pelan-pelan aku mengambil uang dari kartu sejenis ATM yang dia berikan kepadaku tak langsung banyak tapi sedikit demi sedikit sehingga dia tak akan curiga kepadaku. Karena jumlah uang yang aku tarik saat itu dia pikir pasti hanya untuk aku bermain atau makan di luar rumah saja. Dan uang itu aku kumpulkan di dalam lemariku, tak akan ada yang mengetahuinya karena aku sangat pintar menyembunyikan sesuatu hal sama seperti ayahku yang agung itu.
Tunggu di mini market depan komplek kita, biar kakak suruh orang kasih uang ke kamu.
Aku terdiam sejenak mengingat kata-kata kakak ku tadi saat aku benar-benar sudah berada di ambang pintu utama rumahku, pintu yang memisahkan antara dunia luar dan dunia rumahku. Pintu yang, saat aku membukanya aku tahu kalau saat itu pula aku sudah tidak bisa kembali lagi ke rumah itu. Lalu aku mengingat wajah kakak ku, juga tangis ibuku yang lalu aku dengar suara teriakan sangat keras dari ruang tengah rumahku yang mana bisa aku hafal dengan jelas kalau suara teriakan itu adalah suara ayahku. Suara teriakan kekesalannya, suara teriakan kemarahannya.
Aku lantas terkekeh ringan mengingat dia yang selalu mengatakan kalau aku akan kepusingan perihal materi jika aku sampai benar-benar berani melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah itu.
Ah, yang benar saja?
"Kenapa gue harus takut perihal uang?" Aku bertanya kepada diriku sendiri, kenapa aku sempat mencemaskan sesuatu yang sebenarnya tak perlu aku pikirkan. Tak seharusnya aku mencemaskan perihal apapun itu termasuk takdir, sebab selembar daunpun Allah sudah atur akan jatuh kapan dan dimana. Saat ini, tidak ada yang lebih menenangkan selain berdamai dengan ekspetasi. Mengakui segala kesalahan kita lalu beristigfar untuk itu, dan kemudian yang bisa kita lakukan setelahnya adalah berdoa, memohon untuk hidup yang lebih baik.
Sebenarnya yang membuat aku sangat berat untuk keluar dari rumah itu adalah ibuku, aku sangat menyayanginya dan aku tidak bisa jika satu hari saja tidak melihat wajahnya dan mendengar suaranya. Dan saat mendengar dia menangis tadi jujur saja sebenarnya hatiku tergerak untuk berbalik dan memeluknya. Aku belum sempat memelukanya karena ada Bapak Zaki yang terhormat itu sebab itulah aku sudah merasa rindu dengan ibuku saat ini padahal aku baru beberapa jam saja keluar dari rumah. Bersedihlah sebentar, Ma. Aku sedang ingin berjuang membahagiankanmu. Kalimat itulah yang aku ucapkan dalam hati sehingga aku mantap untuk melangkah pergi tanpa ragu.
Engga usah kak, titip Mamah ya, kakak dan Mamah harus hidup dengan baik.
Dengan sedikit senyuman aku mengatakan jawaban itu kepada Kakak Ku saat dia berkata akan memberikan aku uang dan aku harus menunggu di mini market depan komplek kami. Aku masih ingat betul bagaimana raut wajahnya, juga ekspresi tak sukanya saat mendengar jawabanku itu. Dan ketika aku melepaskan tangannya perlahan yang menahanku dengan senyuman, dia mungkin tahu kalau aku benar-benar tak mau menerima bantuannya. Lantas, ketika tangan itu benar-benar melepas tanganku aku langsung pergi meninggalkan rumah.
Kakak Ku pasti akan menjaga ibuku, aku yakin sekali itu dan aku pun tak perlu khawatir. Aku percaya Kakak ku lebih dari siapapun, aku percaya kalau dia pasti tak akan mengecewakan aku seperti ayahku mengecewakan aku. Untungnya, diantara kami berdua, tak ada yang benar-benar mirip sifat dan prilakunya seperti ayahku. Kami berdua, sangat mirip dengan ibu kami dan aku harus bersyukur untuk itu. Karena kalau aku terlahir seperti ayahku, aku tak tahu akan sehancur apa hati ibuku saat ini karena memiliki suami dan anak yang sama-sama senang menyiksanya secara batin. Ibuku adalah wanita yang baik, dan dia tak pantas mendapatkan seorang suami seperti ayahku.
Ayahku memang tak pernah memukul ibuku, sama sekali tak pernah. Hanya saja, sikapnya yang tak manusiawi kadang membuat ibuku terdiam dengan senyuman untuk menghadapinya. Tak jarang aku melihat wajah ibuku murung dan kadang mendung, ayahku tak sama sekali pernah menghibur ibuku ketika dia sedang bersedih. Malah yang aku tahu dan lihat, ketika ibuku bersedih hal pertama yang ayahku lakukan adalah kembali memarahinya. Mengeluarkan kata-kata kasar dan tak sama sekali memikirkan bagaimana perkataanya akan menyakiti hati istrinya, keluarga kami jauh sekali dari kata harmonis. Tak sama dengan seperti apa yang dia katakan kepada publik agar image nya sebagai politikus bagus. Karena itulah aku membenci ayahku dengan sangat, dan terkadang aku pun pernah berpikir tentang kami yang hidup tanpa dirinya apa kami akan bahagia?