7 | Perempuan Itu Lagi

1228 Kata
Pagi ini aku sudah siap untuk pergi ke kampus yang aku pilih untuk melanjutkan studiku. Setelah memasukan beberapa berkas ke dalam tas, aku langsung menuju cermin berukuran besar yanh terletak di sudut ruangan sebelah kiri untuk melihat tampilan diriku sendiri di sana. Setelah kurasa penampilanku baik-baik saja, dan tak ada barang yang tertinggal atau berkas yang tertinggal aku langsung mengenakan sepatu kemudian keluar dari dalam kamar kostku. Jarak dari tempat kost menuju kampus yang aku pilih jaraknya lumayan jauh, dari sini aku harus menggunakan ojek online atau bisa saja menggunakan busway tapi aku lebih memilih untuk nenggunakan ojek online hari ini karena jujur saja aku belum terbiasa untuk menggunakan transportasi umum, dari pada aku terlambat nantinya karena bingung mencari rute jadi lebih baik aku menggunakan ojek online saja. Ketika sedang menunggu driver ojek onlineku datang di luar pagar pintu kost, aku bertemu lagi dengan seorang perempuan yang aku temui secara tak sengaja di kampus tempat ayahku menyuruhku untuk berkuliah kemarin. Dia berdiri disebelahku, sedang bertelfon entah dengan siapa tapi aku tahu kalau perempuan ini adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang aku temui kemarin. Meskipun hanya sekilas, tapi aku pandai mengingat seseorang jika seseorang itu memberikan kesan pertama yang membuatku penasaran. Dan perempuan inilah contoh kecilnya, dua kali pertemuan kami dua kali pula dia membuatku penasaran tentang dirinya. Aku adalah laki-laki yang sunyi dimulut tapi berisik dikepala, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bersarang dikepalaku, tentang banyak hal tetapi jarang aku sampaikan kepada siapapun karena aku, terlalu malas untuk membuka pembicaraan. Banyak berbicara kepada orang lain itu membuatku kerepotan, karena aku sulit sekali untuk bersosialisasi. Dan sekarang, apakah aku harus bertanya kepada perempuan disampingku ini? Yang baru saja mematikan sambungan telfonnya tetapi dia masih memainkan ponselnya? Haruskah aku bertanya kepadanya, tentang kenapa dia pun ada di sini saat ini? Dan kenapa kemarin, dia seperti ini menghindari seseorang? Haruskah aku, berbasa-basi denganya? Kudengar perempuan itu mendumel sembari tetap memainkan ponsel, dari sekali lirikan mata aku tahu jika dia sedang membalas chat seseorang. Mungkin dia sedang kesal dengan seseorang yang sedang bertukar pesan denganya sebab itulah dia mendumel, perempuan disampingku ini tidak terlalu tinggi, juga tidak pendek. Tingginya kira-kira 167cm mungkin, aku takut salah mengira. Badanya kurus, tapi tidak terlalu kurus juga. Kulitnya berwarna putih bersih, dan rambutnya berwarna cokelat. Dari pakaian yang dia gunakan, aku bisa menebak kalau dia ini sangat memperhatikan penampilannya, sama dengan diriku. Aku paling tidak suka tampil berantakan, sekalipun aku bukan orang kaya aku sama sekali tidak suka berpenampilan acak-acakan. "Lah, elo?" Dia baru saja melihat kesamping, melihat kearahku yang memang sedari tadi sedang melihat kearahnya. Begitu dia melihatku, dia langsung terkejut dan mengeluarkan suara seperti tadi. Sebenarnya aku sedang heran saat ini, apa dia juga mengingatku sama seperti aku mengingatnya kemarin? Apa, dia ingat kalau dia sempat menabrak tubuhku di koridor kampus kemarin? Mimik wajahnya masih terlihat terkejut, berbeda sekali dengan aku yang menampilkan mimik wajah seadanya meskipun dalam kepalaku banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya. Tapi aku tahan, menunggu dirinya berkata lagi terlebih dahulu karena aku, bingung harus memulai dari mana dengan dirinya. "Lo kost di sini juga?" tanyanya sambil melipat kedua tangan di atas perutnya. Aku mengerjab perlahan, lalu kemudian mengangguk-anggukan kepala untuk menjawab pertanyaannya barusan. "Lo inget gue?" "Inget, kok." "Gue siapa?" tanyaku kembali untuk memastikan apakah dia benar-benar mengingat diriku. "Dan lo ngapain di sini?" Perempuan dengan balutan busana senada berwarna cokelat itu pun menjawab pertanyaanku masih dengan tetap mempertahankan gesturenya seperti tadi. "Gue nggak tau nama lo siapa, tapi gue inget ketemu lo di mana dan ya gue kost di sini," dia melihat ke arah belakang tubuhnya dan lalu menatapku kembali. "Lo juga kost di sini ya?" Aku kembali mengangguk-anggukan kepala untuk menjawab pertanyaanya barusan dan dia pun sepertinya mengerti dengan anggukan kepalaku karena itu dia diam. Sembari sesekali mengecek ponselnya, dan aku pun juga sama sepertinya saat ini yaitu sudah tidak memperhatikan dirinya. Aku masih menunggu driver ojek onlineku sampai, dan dia entah menunggu siapa tapi kami sama-sama tidak beranjak dari tempat kami berdiri tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami lagi. Perempuan di sampingku ini, dia ... Sangat sederhana, mulai dari pakaian dan aksesoris yang dia gunakan kecuali ponselnya, semua yang dia kenakan sangat sederhana. Dan mungkin saja, hatinya luar biasa baik meskipun wajahnya tak menunjukan dia adalah orang yang baik. Tapi biasanya, orang-orang yang berpenampilan sederhana adalah orang-orang yang hatinya luar biasa baik sekali, betul atau tidak? Harus aku akui kalau dia memang cantik, tapi jangan mengharapkan kesan lemah lembut yang terpampang dari wajahnya. Karena jujur saja, wajahnya sangat judes. Mirip-mirip seperti kakak kelas yang galak kepada adik kelasnya, merasa paling senior dan merasa harus di hormati. Haus akan pujian dan penghormatan, seperti itu lah wajahnya. Tak ada kesan ramah tamah apalagi si paling murah senyum, ketika kita sedang lelah lalu kita bertemu denganya maka sumpah serapahlah yang pasti akan keluar dari mulut kita untuk dirinya karena memang wajahnya semenyebalkan itu untuk dipandang. Tak berselang lama, ponsel miliknya kembali bergetar. Kupikir itu adalah notif dari ponselku yang mengatakan jika driver ojek onlineku akan tiba dalam beberapa menit lagi namun rupanya getaran itu adalah milik perempuan yang berdiri di sampingku ini. Itu adalah getaran telfon, tanpa melihat layar ponselnya lebih lama dia segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan tak berselang lama percakapan pun kembali terdengar kembali. Mendadak raut wajah judes itu berganti dengan senyuman mengembang dan tutur kata yang ramah, mungkin saja si penelpon itu adalah kekasihnya atau mungkin orang yang sedang dekat dengannya. Karena jika si penelpon itu hanyalah seorang teman, tak mungkin dia akan berubah dalam waktu sepersekian detik. Aku yang diam-diam menyaksikan itu lantas berdecak kagum. Karena, baru kali ini aku melihat secara langsung perubahan seseorang dalam fase jatuh cinta. Memang sedahsyat itukah rasanya? Sehingga, siapapun yang merasakanya akan bisa merubah mimik wajahnya secepat itu. Bagaimana rasanya jatuh cinta? Aku tidak pernah merasakanya, sama sekali semasa aku hidup. Apakah jatuh cinta itu memang menyenangkan atau menyakitkan? Atau, apakah semenyedihkan itu? Aku selalu penasaran perihal jatuh cinta, karena sejujurnya aku ingin merasakanya. Aku ingin tahu bagaimana rasanya patah hati dan bagaimana perasaan rindu kepada seseorang, apakah aku akan merubah diriku bila aku jatuh cinta? "Lo kuliah di sana? Di tempat yang kita ketemu kemarin?" tanyanya tiba-tiba sesaat setelah dia mematikan sambungan telfonnya. "Enggak." "Terus lo ngapain di sana kemarin? Kabur juga kaya gue?" Sebenarnya aku tidak ingin menjawab pertanyaannya barusan, namun tanpa aba-aba leherku mengangguk dengan patah-patah. Dan perempuan di sampingku ini langsung mengerti kembali tentang gesture tubuhku itu, kenapa aku menjawabnya? Harusnya tak usah bukan? Kami tidak saling mengenal lebih lama, kami juga baru bertemu sebanyak dua kali. Seharusnya aku tidak perlu seterbuka itu kepadanya karena bisa saja dia adalah orang yang ayahku sengaja kirimkan untuk memata-matai aku, apa aku terlalu overthink? "Kenapa lo kabur?" tanyaku balik padanya. "Bukan urusan lo buat tau by the way." Jawabnya, dengan wajah judes dan nada suara lempengnya. Aku mendengus pelan. "Oke." Jawabku singkat, karena memang aku pun sebenarnya tak terlalu ingin tahu tentang hal itu. Aku, hanya ingin berbasa-basi saja denganya tapi mungkin basa-basiku salah. Tak berselang lama sebuah motor datang menghampiri aku dan dia, dia menyebutkan namaku dan aku menerima helm darinya. Aku kemudian menaiki motor tanpa mengucapkan kalimat apapun lagi padanya, aku tahu dia memperhatikan aku sampai motor yang aku tumpangi berlalu. Kemudian samar-samar aku dengar teriakannya yang mengatakan. "Woi, celana lo sobek tuh!" katanya dengan kencang dan lantang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN