"Lo pengen jadi dokter juga?"
Aku mengangguk ringan saat mendengar pertanyaan dari perempuan disampingku ini, perempuan yang beberapa jam yang lalu mengatakan jika pakaianku bolong. "Iya." jawabku.
"Sama gue juga, makanya kemarin gue kabur." Jawabnya singkat, kami sedang berjalan beriringan di koridor kampus saat ini.
"Orangtua lo nggak mendukung cita-cita lo menjadi dokter?"
Saat mendengar teriakannya aku langsung meminta driver ojek onlineku berhenti dan memintanya untuk menunggu sebentar karena aku akan mengganti celanaku dulu tapi dia menolak dengan alasan nanti dia bisa kehilangan penumpang lainnya sebab itu lah aku akhirnya pergi ke kampus ini bersama dengan perempuan bernama Mikhayla ini menggunakan taxi online. "Dukung, kok, mereka dukung gue buat jadi dokter banget malah."
"Ah, masa sih?"
"Iya."
"Terus kenapa lo kabur kemarin?"
"Gue sebenernya pengennya jadi hakim atau jaksa makanya kemarin gue ke sana buat daftar, tapi sayang ketemu nyokap jadi gue buru-buru deh kabur." Tepat diakhir kalimatnya, dia kembali memainkan ponselnya untuk melihat notifikasi sebentar kemudian saat sadar tak ada notifikasi yang dia tunggu dia pun hanya menggenggam ponselnya lagi ditangan kanannya.
"Selamet?"
“Iya.” Kami masih jalan beriringan di koridor kampus, perempuan disampingku ini benar-benar ketus dan angkuh. Wajahnya, kalau sifatnya aku belum tahu karena kami saja baru mengenal hari ini.
“Kalau selamat kok lo ngekost?”
“Harus gue kasih tau juga jawabannya ke elo?”
“Iya.”
“Dih, lo siapa emang?” Membenarkan letak tas selempangnya, perempuan itu mengibaskan rambut menjawab pertanyaanku dengan nada suara yang ketus sekali.
Aku menarik sedikit senyum, dan melanjutkan langkah dengan tenang. Iya, aku paham sekali kalau dia tidak nyaman denganku. Dengan semua pertanyaanku yang sebenarnya tidak perlu dia jawab karena kami baru saja berkenalan, dan kebetulan satu tempat kost juga satu kampus. Tapi, aku tertarik padanya. Pada pandangan pertama saat dia tidak sengaja menabrakku hari itu, walaupun mungkin saat ini aku tahu kalau dia sudah memiliki kekasih. Tapi, aku tertarik padanya. Hanya sekedar tertarik, tidak apa-apa bukan?
“Lo pake aplikasi yang namanya Whatapp nggak?”
Menoleh sebentar kearahku, perempuan jutek itu pun mengangguk tanpa ragu. Mengiyakan, dari pertanyaan yang baru saja aku tanyakan padanya. Mungkin, dia sudah paham dengan apa maksud dari pertanyaanku barusan sebab sejurus kemudian perempuan jutek itu mengeluarkan satu pertanyaan kepadaku. Pertanyaan, yang hampir saja membuat aku melebarkan senyumku karena merasa lucu atas perkataannya alih-alih aku harus merasa malu atau bahkan sakit hati.
“Lo mau minta kontak gue, kan? Nggak udah modus, gue nggak bakalan kasih juga.”
“Gue butuh, nih...,”
Masih dengan bibir yang tertutup ketus, delikan mata perempuan itu pun sungguh mematikan. Mungkin, kalau perempuan lain yang sedang berhadapan dengannya dan bukan aku. Perempuan itu mungkin akan langsung tersinggung atas sikapnya. “Butuh buat apa?”
“Buat berbagi kabar, kali aja kostan kita kebakaran atau kemalingan.”
Kembali, cewek itu menoleh dan menatapku dengan tatapan kesal namun dia tetap menyebutkan nomor telfonnya dengan cepat seolah-olah mengejek kalau aku tidak akan bisa ingat deretan angka yang baru saja dia ucapkan dengan cepat itu. “Chat gue kalau kostan nya beneran kebakaran, kalau nggak, ya nggak usah.”
“Iya.” Jawabku tenang sembari tersenyum.
Kemudian kami terpisah. Oh, lebih tepatnya dia yang memisahkan diri dariku dengan segera. Dia langsung berbelok, entah kemana yang jelas aku tahu kalau dia sedang ingin menghindar dariku. Sebab itu aku langsung tersenyum saja melihatnya tanpa berniat untuk mengejar atau menegurnya, kemudian. Aku mengambil ponsel dan memasukan nomornya. Sebelum aku benar-benar lupa pada deretan angka yang cewek itu sebutan dengan cepat tadi, aku juga masih sempat membalas pesan dari Bimo yang menanyakan dimana posisiku dan juga dia mengirimkan tawaran sebuah pekerjaan padaku. Aku langsung membalasnya, karena memang hal itulah yang sedang aku butuhkan saat ini. Pekerjaan, untuk menghasilkan uang dan untuk bertahan hidup.
“Eh, cowok aneh,” aku menghentikan langkah, gerakan tanganku yang masih mengetikan beberapa pesan untuk aku kirimkan kepada Bimo terhenti. Aku menoleh, dan menemukan cewek jutek itu sudah berada disampingku lagi. “Lo mau ke mana?”
“Kantin.” Jawabku, sambil melanjutkan kegiatanku membalas pesan Bimo.
“Nggak ke ruang administrasi?”
“Nanti, gue laper.” Selesai dengan Bimo, aku menaruh ponselku ke dalam saku celana dan memiringkan tubuhku agar bisa berhadapan dengan cewek itu. “Lo kenapa balik lagi?”
“Gue nggak ada temen.”
“Terus?”
“Ya ayok sama lo, temenin gue dulu. Nanti kalau gue udah punya temen, lo mau kemana terserah lo.” Jawabnya dengan bibir yang manyun.
Ternyata selain jutek dan judes, cewek beranama Mikhayla itu egois sekali. Dia lebih mementingkan dirinya sendiri dan tidak mementingkan perasaan oranv lain, kalau dirinya sendiri sudah merasa aman maka dia tidak akan perduli tentang apa kata orang lain dan bagaimana perasaan orang lain. Biasanya, aku kesal dengan orang-orang sepertinya. Namun, entah kenapa aku malah tersenyum dan tidak kesal dengan dirinya. Apa ini karena aku tertarik padanya? Apa kalau aku tidak tertarik padanya, aku akan kesal dengannya? Akan mengatakan kalimat atau kata-kata yang akan membuat dia sakit hati. Karena aku memang seperti itu, lebih sering membuat orang lain sakit hati terhadap sifat dan prilaku diriku.
“Gue mau makan.” Jawabku.
“Nanti aja makannya, abis dari ruang administrasi.” Dia semakin kerasa kepala, tipe-tipe perempuan yang harus sekali keinginannya dituruti saat ini juga.
“Siapa lo, nyuruh-nyuruh?”
Dia berdecak jengkel. “Elo ya! Lo minta nomor telfon gue, gue kasih. Ini gue, ketimbang minta temenin ke ruang administrasi aja lo nolak? Liat aja ya, kalau lo kirim pesan ke gue yang isinya basa-basi busuk nggak akan gue balas!” Dia mengucapkan sederet kalimat itu dengan satu tarikan napas, membuat aku ingin tertawa namun aku tahan.
“Oke, ayok.” Pada akhirnya aku mengalah juga, kuturuti keinginannya sebab aku pun masih ingin mengobrol dengannya.
Mendahului dirinya, aku bergegas berjalan menuju ruang administarsi yang berada di dekat loby kampus. Mikhayla, berjalan lambat dibelakangku. Namun tidak lama, dia mensejajarkan langkah kakinya lagi denganku. Ini adalah pertama kalinya aku berjalan beriringan dengan seorang perempuan yang bukan dari keluargaku, kalau boleh sedikit menggombal. Hari ini adalah hari terbaik, meskipun hari ini akan berakhir singkat. Tapi ini adalah hari terbaik bagiku, mengenal dan berjalan bersama Mikhayla. Perempuan yang misterius namun manis, dan juga kalian tahu? Mikhayla sangat cantik, bahkan saat dia marah. Membuat aku selalu tersenyum, dan melupakan sedikit kondisiku yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.
“Benjamin ...” aku menoleh, ketika cewek memanggil namanku dengan intonasi yang tenang sekali. “Benjamin ... Bagus nama lo, gue suka manggil nama lo dengan lengkap.”
“Panggil Ben aja.”
“Benjamin.”
Aku meluruskan arah pandangku lagi, perempuan disampingku ini memang batu sekali tetapi aku suka. Suka, nada suaranya saat memanggil namaku. Terdengar seksi, dan menggoda. “Baru ini ya punya temen namanya Benjamin? Norak banget, disebut terus nama gue dari tadi.”
“Berisik!”
Aku terkekeh. “Jangan sebut nama gue secara lengkap lagi, Mikha.”
“Kenapa?”
“Lo membangkitkan sesuatu yang sedang tidur.” Mikha tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat aku ikut menghentikan langkah dan menoleh padanya kemudian berkata. “Kalau lo yang manggil, terlalu seksi dan menggoda bikin gue nggak tahan.”