Satu tahun kemudian...
Aku menghembuskan napas keras-keras ketika melihat Mikhayla yang sedang menangis sesenggukan di rooftop kosan kami. Kedua kakinya menekuk, tangannya masih sibuk membersihkan air mata dengan tisu yang entah sudah habis berapa lapis. Aku tahu kenapa dia menangis, bukan karena persoalan keluarga, pendidikan atau pertemanan. Tapi, dia menangis karena sedang putus cinta. Sudah lima bulan berlalu sejak kali terakhir dia menelfonku dan memakiku, menjadikan aku samsaknya untuk dia meluapkan amarah yang tidak bisa dia sampaikan kepada mantan pacarnya yang kini sudah memiliki pacar baru disatu bulan mereka putus. Cewek galak itu, mendadak menjadi cewek melow sekali. Selalu menangis tiap malam, seolah-olah dengan menangis mantan pacarnya itu akan kembali padanya. Padahal, itu hal yang tidak mungkin sekali bukan? Karena seharusnya, kalau dia masih belum bisa move on maka seharusnya dia berusaha agar mantan pacarnya itu kembali padanya bukan malah menangis setiap malam. Buang-buang waktu dan energi saja kalau begini, oh dan juga merepotkan aku. Iya, ini merepotkan sekali karena hampir setiap hari selama lima bulan ini aku harus mendengarkan keluh kesahnya dan juga menemaninya menggalaukan mantan pacarnya yang mungkin saat ini sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Karena itu, sekarang dengan langkah berat aku menghampiri cewek itu dan mendudukan diri disebelahnya.
“Ben...,” Panggilnya sesenggukan. “Susah banget move on dari dia, Ben...,” dan dia menangis lagi.
Aku menghela napas lagi. Harus aku apakan manusia ini Tuhan?! “Makanya lo jangan selalu ngeliat kebelakang terus! Ngapain lo inget-inget hal yang udah Tuhan jauhkan dari lo? Itu tandanya, itu cowok enggak beres Mikha! Udah lupain aja dia, dan inget gue aja. Cukup gue, nggak perlu orang lain.”
“Lo nggak ngerti...,” Jawabnya, masih sesenggukan. “Dia tuh sempurna, gue udah suka sama dia dari lama. Dan, setelah gue udah berhasil dapetin dia ternyata...,” Dia menangis histeris lagi, membuat aku harus menunggu tangisnya reda terlebih dahulu agar bisa mendengar kata berikutnya. “Ternyata ini masih tahap cinta bertepuk sebelah tangan.”
Aku menghela napas, bosan juga menasehati dirinya. Dari awal mereka putus dan sampai detik ini, aku selalu menasehati dirinya tapi Mikha tetaplah Mikha. Cewek jutek yang tidak pernah dengar apa kata orang kecuali apa katanya ibunya, maka yang aku lakukan saat ini hanyalah diam saja, mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut cewek itu. “Tau nggak sih Ben, sampai sekarang pun gue masih nggak baik-baik aja sama fakta yang gue dapet tentang dia dan hubungan barunya itu. Gue masih suka kebayang, dan nggak terima. But life must go on right?” aku paham perasaannya, dan aku juga paham dengan apa yang akan terjadi setelahnya. “Tapi susah, Benjamin. Gue nggak bisa begini, gue kangennnn sama dia.” Nah, dengar sendiri kan? Dia menangis, lagi.
Saat aku sedang sibuk-sibuknya mengejar mimpiku menjadi dokter, Mikha justru sedang sibuk-sibuknya menangisi mantan kekasihnya itu. Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan selama ini, tapi aku merasakan sedih ketika melihat Mikha menangis seorang diri sebab itu ketika dia menelfonku. Dalam keadaan apapun diriku, aku pasti akan datang menemuinya meskipun tugasku hanya diam dan mendengarkan semua ocehannya yang tidak masuk akal. Lalu, ketika dia sudah mulai lelah menangis dia akan masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan aku sendiri, dengan tidak tahu terimakasihnya.
Tapi meskipun begitu, aku menyukainya. Menyukai caranya terus mengusirku menjauh dan sadar kalau perasaanku tidak akan pernah bisa terbalas sebab dia masih sangat menyayangi mantan kekasihnya itu. Aku, juga menyukai caranya yang selalu saja bertingkah gengsi untuk memintaku untuk tinggal jika aku akan pergi mencari kesibukan lain sehabis pulang bekerja di kantor Bimo. Dan, yang paling penting adalah aku ... Menyukai caranya yang selalu ingin menandingi aku dalam hal apapun perihal mata kuliah kami. Aku benar-benar menyukai perempuan ini, tapi aku juga tahu kalau saat ini bukanlah saat yang tepat untuk memintanya menjadi kekasihku.
“Telfon aja, kalau kangen.” Kataku.
Lalu dia memukul punggungku, keras sekali. “Gengsi dong! Masa iya, gue yang dia sakitin, gue juga yang telfon dia duluan?! Apa nanti kata pacarnya coba?!” Katanya berapi-api.
“Pacarnya pasti bilang lo ganggu.”
“Mulut lo nyaktin Benjamin! Pergi deh sana!”
“Bener?”
“Lo tega?!”
Aku mendesah lelah, perempuan ini selain jutek juga penuh dengan drama. “Pacaran sama gue aja deh mending.” Ucapku bercanda.
“Enggak mau, lo jelek.”
“Jelek-jelek gini juga kalau gue berdiri ditengah jalan suka banyak yang klakson.”
Mikha berpikir sebentar, kemudian berseru heboh. “Ya iya lah diklaksonin, lo mau mampus berdiri ditengah jalan?!”
Tapi sedetik kemudian, dia tertawa. Sembari mengusap air matanya dia tertawa dan memalingkan wajahnya dariku, meskipun aku tahu dia belum terlalu baik-baik saja tapi dengan melihatnya tertawa seperti ini membuatku setidaknya agak sedikit tenang. Putus cinta itu memang menyakitkan, mau lama atau sesingkat apapun kisahnya perihal putus dan perihal melupakan itu bukanlah sebuah hal yang mudah. Karena kita, sedang berbicara soal hati bukan logika. Sebab itu, aku memaklumi tindakan merepotkan Mikhayla saat ini. Aku belum pernah putus cinta dan semoga saja tidak akan pernah merasakannya, dan beginilah caraku menghibur Mikhayla dari rasa patah hatinya.
“Lo baru pulang kerja?” Tanyanya, setelah tangisnya reda dan juga setelah dia selesai dengan air mata juga air yang keluar melalui hidungnya.
“Menurut lo gimana?”
“Baru pulang kerja.”
“Nah itu tau, kenapa pake nanya?”
“Lo emang nggak pantes hidup sih Benjamin, asli.”
Aku terkekeh. “Udah makan?”
“Belum.”
“Mau makan apa?”
“Lo mau beliin gue makan?” aku mengangguk, mengiyakan. “Gue mau ... Soto, tapi di Bogor.”
“Sekarang yang lebih nggak pantes hidup siapa ya, Mik?”
“Ya elo lah.” Jawabnya, wajah juteknya sudah kembali. “Lo keberatan? Kalau makan sotonya di Bogor?”
“Ya iya lah, gila kali gue kalau nurutin.”
“Tapi mantan gue mau lho, Ben ... Kalau gue minta begitu, pasti langsung diturutin.” Mikha menundukan kepalanya lagi, dan menangis lagi. “Gue kangennn Ben, gimana donggg.” Bahkan sekarang tangisnya, lebih kencang.
Lagi-lagi mantannya, ini bukan satu atau dua kali tapi selalu. Apa pun yang aku lakukan, apa pun yang aku tawarkan pada dirinya pasti selalu akan mengingatkan dia pada mantan kekasihnya. Dari hal-hal remeh bahkan sampai hal-hal besar dia pasti akan selalu teringat pada mantan kekasihnya, aku bahkan sampai bertanya-tanya. Sebenarnya hal apa yang belum pernah dan tidak pernah dilakukan oleh mantan pacarnya itu pada Mikhayla, sebab semua hal pernah dia lakukan sehingga membuat aku agak kesulitan untuk memberikan modus cintaku kepada Mikhayla.
“Ayo makan.”
Dengan isakan tangisnya Mikha menjawab perkataanku. “Di Bogor?”
Aku memandangnya dengan tatapan wajah yang datar, seharusnya aku tidak mengatakan iya. Seharusnya, aku mengatakan kalau itu hanya akan buang-buang waktu saja. Seharusnya, aku memarahinya seperti biasa. Dan, seharusnya aku ingat kalau besok aku ada mata kuliah pagi lalu aku harus bekerja. Maka, seharusnya yang aku lakukan adalah beristirahat bukan malah berinisiatif untuk menyenangkan seseorang yang bahkan hanya memanfaatkan diriku saja untuk kepentingannya sendiri. “Cepet ganti baju, gue tunggu di bawah. Gue mau coba pinjem mobil Bimo, takut hujan. Delapan menit kalau lo nggak turun, gue tinggal tidur.”
Rupanya memang benar, aku sudah gila.