Aku sedang merebahkan diriku disofa pantri kantor Bimo, pukul delapan malam karyawan di kantor Bimo sudah mulai sepi hanya tinggal beberapa orang saja yang masih tinggal untuk menyelsaikan pekerjaan lembur mereka. Kantor Bimo bergerak pada bidang entertain, semenjak bekerja disini aku sudah beberapa kali bertemu dengan artis-asrtis ternama yang sering aku lihat di tv-tv. Dan, job desk ku bekerja di kantor ini adalah sebagai pesuruh. Aku mengerjakan apa saja yang mereka suruh, menfotocopy, mengetik, menyiapkan ruang rapat, menyiapkan mobil untuk digunakan. Kadang, aku juga membantu-bantu OB disini jika memang diperlukan. Karena aku sendiri pun tidak tahu untuk apa aku dipekerjakan disini jika memang saat itu sedang tidak ada lowongan.
Mungkin saat itu, Bimo kebingungan denganku. Bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan uang pas-pas, bagaimana aku bisa membayar sewa kost dan juga membayar uang kuliahku yang jumlahnya sangat sangat tidak sedikit. Setiap bulan, melalui gaji yang aku terima semenjak bekerja di kantor ini aku bisa membayar sewa kost dan juga mencukupi makanku sehari-hari. Namun, untuk biaya kuliah aku biasanya menjual beberapa foto yang aku ambil pada sebuah website penyedia jasa jual foto yang dibayar secara dollar. Perlu usaha keras agar beberapa fotoku bisa menemukan pembelinya, juga aku yang selalu berpura-pura tidak tahu kalau kakaku yang masih mengirimiku uang setiap bulannya. Dengan jumlah yang lumayan, kadang aku bertanya-tanya apakah Ayahku tahu soal ini?
Kakaku memang tidak pernah mengirimkanku uang ke rekeningku, tapi dia selalu mengirimiku uang melalui seseorang. Orang itu hanya menyebutkan nama kakakku saat memberikan amplop berisikan uang padaku dan dengan begitu aku pun tahu apa maksud dari amplop itu. Setiap hari pun Ibuku selalu menelfon, menanyakan kabar dan bertanya kapan aku akan pulang. Kurasa begitu saja cukup, aku hanya perlu mendengar suara Ibuku dan tahu jika dia masih berada di bumi yang sama denganku. Suatu hari nanti aku pasti akan pulang, saat aku sudah mewujudkan cita-citaku menjadi seorang dokter.
"Ben, belum balik?" aku meneggakan badan, dan menemukan Bimo yang berdiri menjulang didekat pintu pantry.
"Bentar lagi, lo ngapain belum balik?" Tanyaku, kembali menyandarkan kepalaku pada sofa.
"Ini mau balik. Lo mau ikut nggak?"
"Kemana?" Tanyaku lagi agak sedikit curiga kalau Bimo mengajakku pergi.
Bimo memberikan cengiran lebar padaku, tangannya bersidekap didada dan dia menilai penampilanku dari atas hingga bawah. Aku tahu arti pandangan itu, sepertinya dia akan mengajakku senang-senang. Hal yang sering dia lakukan padaku setidaknya satu bulan sebanyak empat kali dan itu pun belum tentu aku mengiyakan ajakannya untuk ikut bergabung.
"Biasa, minum-minum. Mau?"
"Sama siapa aja?"
"Gue sama tim humas aja, kok."
"Enggah deh, thanks. Lo lanjut aja." Jawabku sembari memijit pilipisku pelan. "Gue udah ada janji sama Mikha."
Saat Bimo mendengar nama Mikha disebut, cowok itu langsung mendudukan diri disebelahku dengan cepat. Bimo dan Mikha sudah saling berkenalan, dan Bimo juga Mikha masih saling mempunyai hubungan yang tidak baik. Setiap kali bertemu, mereka berdua selalu saja terlibat perselisihan. Apa pun, selalu mereka perdebatkan. Bimo kalau sudah bertemu Mikha akan bertransformasi menjadi laki-laki setengah wanita karena dia tidak bisa diam dan selalu membalas apa yang Mikha lakukan padanya.
Bimo selalu bilang padaku kalau Mikha itu cewek aneh yang hanya bisa memanfaatkan diriku saja untuk kepentingan dirinya, aku tidak langsung menyalahkan Bimo atas ucapannya yang selalu dia ucapkan padaku mengenai Mikha karena jujur saja itu semua adalah benar. Mikha memang memanfaatkanku, semua orang bisa melihat itu dan aku pun bisa merasakannya. Tapi, selama dia berada dekat denganku, terus disisiku dan tersenyum malas kepadaku, kuanggap itu adalah bentuk dari semangat hidupku dalam menjalani hari-hari saat ini sebab aku memang seaneh itu perihal menyukai seseorang. Oh ya, dan Bimo pun sudah tahu kalau aku menyukai Mikha. Dan sejak hari pengakuanku pada Bimo itu terjadi sudah tidak terhitung berapa kali umpatan yang selalu Bimo berikan padaku.
Katanya, ada banyak cewek lain yang bisa aku pacari. Yang jauh jauh jauh lebih cantik dari Mikha, yang lebih baik, lebih pintar, lebih menarik, lebih tulus dan lebih menyukai diriku. Jadi, kenapa aku harus rela menjadi pembantu sukarela seorang Mikhayla? Saat itu aku tidak bisa menjawab Bimo, sebab memang kalau aku jawab maka kami akan bertengkar jadi karena itu aku memilih untuk diam saja. Dan memang benar, ada banyak yang lebih baik dari Mikha tapi aku hanya menginginkan Mikha saja. Iya, Mikha saja cukup. Tidak perlu ada yang lain, dan kupastikan suatu hari nanti dia pasti akan bisa menerimaku.
"Lo mau kemana sama itu cewek aneh?"
"Nugas."
"Nugas malam-malam, cuma berdua?"
"Emang ada yang salah dengan hal itu?"
"Ada dong."
"Apa?"
"Lo mau berkeringat bareng kan sama dia, ngaku lo!"
"Jangan gila!" Seruku galak. "Mana adalah begitu-begituan, gue emang beneran mau nugas sama dia."
"Emang nugas nggak bisa ditunda besok?"
"Besok presentasi."
"Oh...," Bimo mengangguk-angguk sok mengerti. "Kalian satu tim?"
"Tim apaan sih?!" Aku jadi kesal sendiri padanya. "Gue kan bego masalah materi, kalau praktek gue juara. Nah, karena gue bodoh perihal materi makanya gue minta tolong Mikha. Bersyukurlah itu cewek pelit ilmu mau bantuin gue nugas, kayaknya dia udah sayang deh sama gue. Makanya, mau bantu.”
Bimo masih memandangku dengan raut wajah yang curiga, padahal aku jelas-jelas sudah berkata jujur padanya. Mikha itu, pintar perihal teori sementara aku bodoh. Dan, aku pintar perihal praktik namun Mikha bodoh. Kami adalah dua orang yang sangat-sangat berbanding terbalik, dan menurutku itu sangat bagus karena kami bisa saling melengkapi bukan? Mikha beberapa kali muntah saat kami sedang melakukan praktik, dia tidak bisa membedah. Dia takut darah, dan yang lebih gila lagi adalah dia tidak bisa menggunakan alat-alat kedokteran dengan semestinya.
"Nggak mungkin. Paling, dia cuma mau mainin lo aja." Jawab Bimo tenang. "Ngerjain tugasnya habis minum-minum aja emang nggak bisa, Ben?"
"Selesai minum-minum itu jam berapa, Mo? Jam tiga subuh? Lo gila? Ngerjain tugas jam segitu Mikha mana mau."
"Ya ajak aja dia sekalian."
"Jangan gila."
"Dia nggak suka ya?"
Aku mengangkat dua bahuku, acuh tak acuh. Pertanda, kalau aku tidak tahu. "Udahlah, jalan sana."
"Nanti ah, gue datang mau belakangan aja."
"Lah, tumben?" tanyaku agak heran. "Kenapa?"
"Bokap gue udah mulai bawel, katanya sebagai CEO, nggak boleh terlalu dekat sama anak buah apalagi sampai keseringan minum-minum bareng. Merusak citra katanya."
Bimo adalah anak yang baik, dia selalu menuruti apa perkataan orangtuanya kecuali Ibu tirinya sebab dia tidak pernah sekalipun Bimo anggap sebagai orangtuanya. Bimo adalah anak satu-satunya, dan dia adalah anak kesayangan Ayahnya dan juga Almh. Ibunya yang sudah lama meninggal. Ayahnya, tiga tahun yang lalu menikah lagi. Dan, selama tiga tahun itu pula Bimo selalu menunjukan diri kepada Ibu tirinya bahwa dia tidak menyukai dirinya, kehadirannya bahkan Bimo terang-terangan mengatakan jika Ibu tirinya itu tidak akan pernah mendapatkan sepeserpun harta milik Ayaynya sebab semua itu adalah miliknya dan juga milik Almh Ibunya.
“Kurang-kurangin lah m4buk, Bim.”
Bimo berdecak. “Iya, iya.” Katanya. “Jadi lo mau ketemu Mikha aja, nih?” aku mengangguk mengiyakan, dan Bimo kembali bersuara. “Gue saranin lo jangan sampe jatuh cinta sampe m4mpus sama dia, Ben.”
Aku terkekeh. “Emang kenapa?”
“Mikha prilakunya minus, sob. Gue kasih tau aja biar lo nggak kaget.”
“Nggak usah dikasih tau juga gue tau kok kalau prilaku dia emang minus.”
“Nah, udah tau begitu kenapa lo masih demen?”
“Soal hati, siapa yang tau? Soal perasaan, siapa yang bisa menentukan? Bukan mau gue buat suka sama dia, tapi memang jatuh cinta sama dia itu nggak memerlukan logika semuanya ngalir aja dan gue suka itu. Saat-saat dimana gue, nggak bisa berkutik karena Mikha.”