Hari Jum'at adalah hari yang selalu aku sukai, karena pada hari itu. Biasanya, aku bisa bersama dengan Mikha selama satu hari penuh. Mulai dari berangkat ke kampus bersama, dengan menggunakan taksi online, kemudian kami akan masuk kelas, makan siang bersama, dan Mikha akan menungguku selesai melaksanakan ibadah solat jum'at kemudian kami akan pergi belajar di kedai kopi dekat kost kami baru setelahnya kami akan bersantai di kost kami masing-masing sampai akhirnya kami makan malam bersama. Oh dan, jum'at aku tidak masuk bekerja. Karena aku bekerja di kantor Bimo mulai dari hari senin sampai kamis saja. "Lo nggak capek?"
"Capek kenapa?" Tanyaku santai, saat ini kami sedang berada di kantin kampus. Mikha tidak makan, dia hanya menemani aku yang sedang makan mie ayam.
Mikha menekuk kedua tangannya diatas meja, kemudian badannya condong memandangku. "Kerja sambil kuliah. Emang lo beneran miskin?"
"Iya gue miskin. Dan, gue nggak capek kerja, justru enak. Gue bisa dapat kerjaan dengan nyesuaiin jam kuliah gue tanpa potong gaji, tempat lain mana bisa begitu."
"Lo pacaran ya, sama dia?"
"Kelihatannya gitu?" Aku bertanya santai, masih dengan menikmati makananku.
"Iya."
Aku menatapnya sebentar, menggelengkan kepala tanda jika aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya kemudian aku melanjutkan makanku yang sempat terhenti.
Mikha melanjutkan kata-katanya, tidak puas karena aku memilih diam dan mengabaikannya. "Karena Bimo baik banget sama lo, se-bro-bro nya orang, nggak ada yang memperlakukan bro nya ini secara khusus kayak Bimo memperlakukan lo, Ben."
"Gue nggak nafsu sama Bimo, dan gue juga yakin Bimo nggak akan nafsu sama gue." Jawabku santai.
"Emang lo nafsunya sama siapa?"
"Lo."
"Oh sorry, Benjamin. Gue nggak akan baper lo gituin."
"Karena lo belum move on makanya nggak baper sama gue." Celetukku, sambil mengelap bibirku dengan tisu, makananku sudah habis.
Mikha berdecak, dia memalingkan wajah dan menahan tanganku yang akan mengambil rokok dari dalam tasku. Iya, aku merokok. Baru-baru ini, dan Mikha tidak suka dengan hal yang baru-baru ini aku lakukan itu.
"Lo itu nggak cocok merokok, Benjamin. Jadi, berhenti merokok." Mikha berujar dengan nada tegas, membuat aku menarik tangan dari dalam tas.
Kira-kira baru tujuh bulan yang lalu, aku memutuskan untuk merokok. Awalnya, karena aku membutuhkan pengalihan untuk pikiranku yang terus menerus memikirkan Ibuku. Mungkin, aku merindukannya. Karena itu aku merokok, agar aku bisa mengontrol diriku. Dari satu batang, menjadi satu bungkus dan akhirnya menjadi berbungkus-bungkus rokok. Hingga kini, setidaknya selama satu hari aku bisa menghabiskan dua bungkus rokok.
"Ngomong-ngomong gue suka diperhatiin kaya gini, Mik." Ucapku tanpa tersenyum padanya.
Dan respon yang dia berikan memang sesusai dengan dugaanku, dia mendengus sinis dan menatapku tajam. "Terserah. Gue nggak peduli lo mau ngomong apa."
"Iya deh, gue emang nggak pernah dinotic sama lo."
"Karena lo bukan tipe gue," Jawab Mikha cepat. "Jadi berhenti suka sama gue, Benjamin."
"Mana bisa."
Katanya, perempuan yang sedang kesulitan mudah dirayu saat laki-laki mengulurkan tangan mereka. Kepercayaan bahwa laki-laki ini akan melindungi mereka, bahkan saat semua orang mengabaikan mereka. Perempuan tergila-gila akan kepercayaan itu. Jadi, kesempatan ini bukankah kesempatan terbaik bagiku?
"Kenapa nggak bisa?" Tanyanya, dengan wajah cemberut.
"Ya emang nggak bisa," Jawabku enteng. "Lagian, lo beneran nggak mau coba?"
Mikha memandangku dengan raut wajah tak mengerti. "Coba apa?"
"Coba sama gue."
"Pacaran?" Aku mengangguk membenarkan tanpa ragu. "Nggak." Dan dia, langsung menjawab dengan cepat tanpa pikir panjang.
"Kenapa nggak mau?"
"Karena gue nggak suka sama lo."
Aku mengangguk-angguk mengerti, tidak berniat memaksanya lebih jauh. "Yang penting lo cepet move on aja."
"Tenang aja, gue udah nggak mau nangisin dia." Katanya, lalu memalingkan wajah. "Eh, besok lo kerja?"
"Libur."
"Cakep!" Dia lalu berseru senang. "Mau ikut gue nggak? Makan malam sama Abang gue?"
Selama aku mengenal Mikha, aku sudah delapan kali bertemu dengan Kakaknya. Tidak pernah bertemu di rumahnya, hanya saja kami sering makan bersama setiap kali bertemu. Kakaknya Mikha seorang Dokter bedah, semua anggota keluarganya adalah seorang Dokter. Mungkin sebab itulah saat ini Mikha mengambil kuliah kedokteran agar dirinya bisa menjadi seperti keluarganya. Mikha anak bungsu, sama seperti diriku. Satu bulan sekali, biasanya Mikha akan pulang ke rumahnya. Dia sering bertanya tentang keluargaku, tapi aku masih enggan untuk menceritakan tentang keluargaku padanya. Bukan karena aku tidak percaya padanya hanya saja aku malas menceritakan soal Ayahku, padanya atau pada siapapun.
"Boleh."
Mikha tersenyum. "Abang gue seneng banget ngobrol sama lo, setiap telfon dan ngajak ketemu, dia pasti selalu bilang buat nggak lupa ngajak lo."
"Itu karena gue pinter, makanya Abang lo betah ngobrol sama gue."
"Maksud lo gue bego gitu?" Tanyanya dengan tatapan jengah.
"Lo pinter kok, teori."
"Yayaya," Katanya, dia sudah memakai tas selempangnya. Sepertinya dia sudah akan mengajakku pergi. "Gue mau ke toilet dulu, lo mau tunggu apa langsung balik ke kosan?"
"Bareng aja, gue tunggu."
"Tunggu di sini?"
"Lo mau pake toilet yang di mana?"
"Gedung sebelah."
"Lo mau ke toilet apa mau caper sama mantan, Mik?"
Mikha tak menjawab perkataanku, dia hanya tersenyum dan bangkit untuk segera pergi. Namun, sebelum dia meninggalkan kantin. Aku, sudah lebih dulu menyusulnya dan menyamai langkahnya. Aku tahu, dia tidak benar-benar ingin ke toilet sebab itu ketika langkah kaki kami sudah sama aku langsung bergegas menggenggam tangannya dan membawanya langsung untuk pulang ke kosan. Jangan kira, menyeret Mikha itu mudah. Dia adalah gadis penuh drama, sepanjang jalan dia tidak berhenti berteriak dan memakiku. Dan aku hanya memasang wajah tak berdosa seraya terus menyeretnya untuk terus pergi. Mikha tidak boleh kesana, Mikha tidak boleh bertemu dengan mantan kekasihnya sebab aku cemburu.
Sudah, itu saja alasanku bertindak gila saat ini.
"BENJAMIN!" Entah sudah berapa kali Mikha meneriakan namaku dengan sangat kencangnya seperti itu. Aku tidak peduli, mau sekencang apapun dia terus meneriakan namaku seperti itu sambil berusaha melepaskan cekalan tanganku dari tangannya, aku hanya akan berpura-pura tidak mendengarnya saja. Mungkin, sampai kami nanti tiba di kosan. "TOLONG GUE DI CULIKKKKK!" Dengarkan? Adalah hal yang bodoh jika Mikha berteriak seperti itu, karena mana ada penculikan seperti ini. Dimana sang tersangka justru menyeret dengan santai korbannya di tengah-tengah orang. "TOLONG INI ORANG GILA SATU MAU JUAL GUEEEE." Aku terkekeh, untuk apa dia dijual? Memang, ada yang mau menampung perempuan gagal move on seperti dirinya?
"Diem, Mikh. Lo teriak-teriak begitu cuma akan bikin diri sendiri malu."
"YAUDAH LEPASIN GUE BENJAMIN, LEPASIN. GUE JANJI, BAKAL JALAN SENDIRI KE KOSAN." Padahal aku berkata dengan nada rendah, tapi Mikha justru menjawabku dengan nada tinggi.
"Janji?"
"IYA JANJI!" Pada akhirnya, aku menghentikan langkah. Namun belum melepaskan genggaman tanganku darinya, aku menghadapkan diriku padanya. Dan dengan begitu, dia bisa melihat diriku dan aku pun bisa leluasa melihat dirinya. Aku tersenyum, namun Mikha menatapku dengan tatapan mata yang tajam. Seolah-olah dia menaruh dendam yang sangat besar karena aku menariknya secara paksa dari kantin kampus.
Maka, setelah aku menatap matanya. Aku langsung melepaskan cekalan tanganku. Mikha langsung mencebik, dan menatapku dengan sorot mata yang bengis namun anehnya wajah itu tetap cantik dengan apapun ekspresi wajah yang ditampilkan oleh si pemilik wajah. “Lo kenapa sih?!” Tanyanya kemudian.
“Kenapa apanya?”
“Kenapa narik-narik gue kaya tadi?”
“Biar lo nggak ketemu mantan.”
“Ck!” Dia berdecak nyaring, wajahnya terang sekali menunjukan ketidaksukaannya pada jawabanku barusan. “Siapa juga sih yang mau ketemu dia?”
“Ya kalau gitu ngapain lo repot-repot ke toilet di gedung sebelah kalau nggak karena memang mau ketemu sama dia?”
“Itu cuma pikiran negatif lo aja meskipun emang bener begitu sih kenyataannya.”
Dan, belum sampai aku sempat mengomeli dirinya. Dia, sudah lebih dulu berlari menjauh dari diriku. Sambil memegang pergelangan tangannya, dia berlari mundur sembari mengejekku dengan menjulurkan lidahnya, dasar Mikha! Cewek licik itu memang paling tidak bisa diberi kepercayaan. Oleh karena itu, sembari menggelengkan kepala aku langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor seseorang yang bisa membuat Mikha menghindari gedung itu. Lihat saja, cewek licik itu pasti akan pulang ke kosan dengan keadaan menangis. Biar saja, biar rasa. Biar dia tahu kalau tak selamanya mantan itu indah, kalau tak selamanya melihat mantan dari jauh itu indah dan bisa mengobati rindu.