12 | Awal Mula

1323 Kata
Anatomi menjadi mata kuliah wajib mahasiswa kedokteran, mempelajari mengenai susunan bagian tubuh beserta organ di dalam tubuh manusia. Dan mata kuliah ini adalah mata kuliah favoritku, berbeda dengan Mikha, cewek itu napak tidak tertarik dan tidak bersemangat kala mata kuliah Anatomi sedang berlangsung. Yah, walaupun semua mata kuliah atau hal-hal yang berbau dengan kedokteran memang membuat dirinya tidak terlalu begitu bersamangat sih sebenarnya. "Benjamin!" Aku yang sedang berjalan bersisian bersama Mikha berhenti, menoleh ke arah sumber suara yang baru saja menyerukan namaku dengan keras. "Siapa, Ben? Cantik banget." "Iya dong." Mikha langsung menoleh, menatapku dengan tajam sementara aku tahu dia masih menuntut penjelasan dariku tentang siapa perempuan yang sedang berdiri di dekat mobil mewah yang terparkir disana. Itu kakakku, Jesri. Ini pertamakalinya dia mendatangiku ke kampus, dan ini adalah pertamakalinya juga aku melihat dirinya lagi setelah sekian lama aku pergi dari rumah. Herannya, tidak ada pengawalan apapun padanya. Padahal, dirinya adalah Anggota Legislatif di DPR, dengan langkah ringan aku berjalan mendekatinya meninggalkan Mikha yang berseru memanggil namaku namun aku memilih untuk mengabaikannya saja. "Kakak ngapain?" Kakakku tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang menjadi pemanis senyumnya, lalu memelukku singkat. "Kangen aja sama kamu, udah makan siang?" "Serius cuma karena kangen?" Tanyaku ulang pada kakakku, sebab tak merasa yakin dengan jawabannya barusan. "Iya. Sama ada satu hal yang mau kakak bicarakan sama kamu." Tak ingin dirundung rasa penasaran, aku pun mengikuti kakakku masuk ke dalam mobilnya. Aku duduk dikursi penumpang sementara kakakku menyetir mobilnya, selaju mobil yang kami tumpangi bergerak keluar dari kampus, lewat jendela kaca mobil aku melihat Mikha yang masih berdiri ditempat tadi saat aku meninggalkannya untuk bertemu dengan kakakku. Mungkin nanti, saat aku kembali pulang ke kosan Mikha akan langsung memberondong banyak pertanyaan padaku sebab ini adalah kali pertamanya melihat Kakakku walaupun dia tidak tahu jika itu adalah kakakku. "Tadi siapa?" "Calon menantu Mama." "Dia mau sama kamu?" "Nanti mau." "Kalau nanti masih nggak mau?" "Aku ruqiyah supaya mau." Seusai mendengarkan celetukanku yang terdengar lucu mungkin ditelinganya, Kakakku terkekeh ringan. Dia lalu membelokan mobilnya untuk masuk ke Tol, aku mau dia culik ke mana? Mengerti dengan raut wajahku, Kakakku berkata kalau dia akan mengajakku ke BSD. Bertemu dengan Ibuku, katanya Ibuku rindu ingin melihat anak laki-lakinya yang sudah lama tidak pulang ini, lalu kenapa harus jauh-jauh sampai sana? Katanya, Ibuku sedang berkunjung ke rumah Tanteku, itu ide kakakku supaya Ayahku tidak curiga dengan pertemuan ini sebab itu harus jauh-jauh sampai sana letak tempat pertemuan kami. Padahal aku yakin, saat Jesri menjemputku di kampus saja, Ayahku sudah pasti mengetahui hal tersebut. "Happy, Ben?" Aku menolehkan kepala menatap kakakku, bingung dengan maksud pertanyaanya padaku barusan. "Kamu seneng hidup seperti ini?" "Aku lebih senang melihat Kakak dan Mama senang." "Nyatanya kami nggak senang kalau kamu jauh dari kami." "Kita masih tinggal disatu kota yang sama, kak." "Meskipun tinggal disatu kota yang sama, bukanya kita jarang ketemu?" Katanya. "Kamu jarang mengunjungi kami di rumah padahal kamu tau Papa selalu pulang seminggu atau bahkan sebulan sekali." "Papa mungkin pulang seminggu atau sebulan sekali, tapi nggak dengan pengawal Papa yang selalu stand by di rumah kan, Kak?" Jawabku tidak mau kalah. "Aku nggak mau aja usahaku yang udah sejauh ini berakhir sia-sia." Tidak ada satu hari pun dimana aku tidak pernah merindukan Ibu dan Kakakku, tidak pernah. Setiap hari, setiap saat aku sslalu merindukan mereka. Kadang-kadang aku ingin nekat untuk pulang, tapi aku tahu jika itu bukanlah sebuah solusi. Aku tahu Ayahku tahu dimana aku berada dan berkuliah, aku juga tahu kalau Ayahku pasti tahu apa yang sedang aku, Ibuku dan Kakakku lakukan. Hanya saja aku berpura-pura tidak tahu, sebab dengan dia yang tidak mengusikku saat aku keluar dari rumah, itu saja sudah membuatku bersyukur padanya. "Kakak ... Selalu ngomong sama Papa, buat nerima kamu dan pilihan yang kamu pilih, tapi yah kamu tau sendiri Papa seperti apa." Kata Kakakku dengan nada getirnya. Saat Ayahku mengucap jika aku bukan lagi anaknya, bukan lagi salah satu dari anggota keluarga di rumah itu, saat itulah aku sadar jika aku sudah membuatnya marah. Marah besar sekali sampai-sampai aku sempat takut jika saat itu aku tidak akan pernah bisa melihat dunia lagi. Aku takut jalanku dipersulit, namun rupanya setahun belakangan ini jalanku selalu dipermudah oleh Tuhan. Aku pikir, saat memutuskan untuk keluar dari rumah, aku akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan atau kesulitan untuk membayar tempat tinggalku. Meskipun aku yakin Bimo dan Kakakku tidak akan pernah lepas tangan padaku, tapi tetap saja kan aku harus mempunyai opsi lain untuk menyalamatkan diri karena aku tidak mau terlalu banyak bergantung dan berharap kepada mereka. Tapi setahun ini, mereka lah orang-orang yang selalu membantuku secara diam-diam sehingga aku bisa sampai di posisiku saat ini. Lalu, apa jadinya esok jika Bapak Zaki yang terhormat itu tahu kalau hari ini aku akan bertemu dengan Ibuku yang tidak lain adalah istrinya? "Kakak yakin mau bawa aku ketemu Mama?" Tanyaku, memalingkan wajah menghadap jendela. "Iya." "Kenapa?" "Mama kangen kamu." "Papa gimana?" Tidak seperti tadi yang langsung menjawab pertanyaanku, kali ini kakakku memilih untuk diam. Sepertinya, tindakan kakakku kali ini hanya tindakan yang dilakukan secara implusif karena dirinya tidak tegas melihat Ibunya yang merindukan anak laki-lakinya yang sudah satu tahun tidak pulang ke rumah. Kakakku tidak memikirkan apakah Ayahku akan bertindak atau tidak setelah ini sebab yang dia pikirkan kali ini adalah Ibuku. "Papa pasti marah," kataku lagi, memilih mengatakan apa yang ingin aku katakan alih-alih menunggu jawabannya. "Hidupku pasti akan hancur setelah ini." Aku kenal baik dengan sifat Ayahku, jika dia sudah memberikan aku kesempatan untuk mengambil langkah apa yang aku mau artinya dia akan lepas tangan denganku. Menganggap aku hanyalah orang asing baginya dan keluarganya kini, namun jika aku kembali atau diam-diam keluargaku membawaku menuju ke kelemahanku yaitu Ibuku, dia pasti akan langsung bertindak. Dan aku rasa, kakakku pun tahu dengan sifat Ayahku itu. Karena sadar atau tidak, sedikit banyak sifat Ayahku menurun padanya. "Kakak akan bantu kamu kalau hidup kamu hancur setelah ini." Jawabnya dengan enteng. Sifat menggampangkan sesuatu ini lah yang kadang-kadang membuat aku tidak terlalu nyaman berada didekat kakakku, karena sewaktu-waktu dia mengingatkanku pada sosok Ayahku yang menakutkan. Dan oleh karena itulah aku diam setelahnya. Selama perjalanan, aku menutup mulutku rapat-rapat, bahkan sampai di kediaman adik Ibuku pun aku hanya menyunggingkan senyum kecil dan pertanyaan apa kabar saja kepada Ibuku. Selama kami makan siang bersama, selama itu pula yang aku lakukan hanyalah mendengarkan semua kata yang lalu menjadi sebuah cerita yang Ibuku sampaikan kepadaku. Hari itu aku tidak banyak bicara, aku tidak banyak mengeluarkan ekspresi selain tersenyum kepada Ibu, Kakak, dan juga Om beserta Tanteku. Bukannya aku tidak senang bertemu dengan Ibuku, hanya saja aku terlalu takut kebahagian ini hanya berlangsung sementara. Mungkin terdengar egois, tapi aku memang benar-benar menginginkan menjadi seorang Dokter. Aku menginginkan kehidupan yang normal, dimana aku, akan menjadi diriku sendiri tanpa menjadi bayang-bayang Ayahku. Aku tidak mau menjadi Politisi, aku tidak mau menjadi boneka Ayahku. Karena aku percaya, kelak akan ada hari dimana Ayahku akan merasa terpuruk karena kesombongannya dan saat itu tiba aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku, Ibuku, Kakakku dan Ayahku jika memang dia masih menganggapku anak dan jika dia memang ingin aku selamatkan dari dunia Politisi yang menurutku membahayakan. "Ben, kesini sebentar." Dari dalam rumah, kakakku memanggilku yang sedang duduk di halaman belakang. Tanpa banyak bicara, aku langsung menganggkat kaki dari balkon dan menuju kakakku. Rumah tampak sunyi, padahal tadi rumah ini cukup ramai. Ibuku menjadi ceriwis sejak kedatanganku dan itu membuat suasana rumah ini menjadi semakin ramai, tapi anehnya saat ini suasana menjadi sangat hening sekali. Kupikir kakakku memanggilku untuk bergabung di ruang tengah atau ruang keluarga, namun sesampainya aku disana rupanya tak ada orang sama sekali. Karena itu kulangkahkan lagi kakiku menuju depan rumah, mungkin mereka semua ada di halaman depan rumah, duduk-duduk santai sambil menikmati senja. Namun, alih-alih senja yang aku temukan, belum sampai aku pada halaman depan rumah ini langkah kakiku justru terhenti tepat di ruang tamu rumah ini. Untuk pertama kalinya, setelah satu tahun lamanya aku meninggalkan rumah. Kali ini, aku justru bertemu dengan Ayahku. Sial.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN