Merebahkan diri di sofa balkon kosanku, aku menatap gusar langit dengan merapalkan banyak doa. Pertemuan tak terduga dengan Ayahku tadi membuat aku nyaris tidak bisa berkutik, padahal dia hanya menyapa kemudian menanyakan kabarku. Namun, entah mengapa ketika aku menatap wajahnya aku tahu dia kesal setengah mati padaku dan entah apa hal yang membuat dia kesal setengah mati itu padaku.
Kami tak banyak mengobrol, kami hanya diam dan saling berpandangan sebelum pada akhirnya dia menyuruh salah satu anak buahnya mengantarkan aku pulang. Tidak ada yang berani mencegah, pun dia tidak sama sekali membiarkan Ibu dan Kakakku mengantarku ke depan untuk menaiki mobil atau hanya untuk sekedar memelukku dia tidak membiarkan itu terjadi.
"Duh, yang abis kencan."
Suara sindiran itu berasal dari Mikha, cewek itu baru pulang ke kosan? Di jam sepuluh malam? Dari mana dia?
Kutegakan tubuh dan memicingkan mata padanya, Mikha yang berdiri tepat dihadapanku berdecak dan lalu memutari meja untuk duduk disebelahku. Tangannya yang memegang paper bag meletakan paper bag itu diatas meja kemudian mengeluarkan isinya yang ternyata kopi.
Dia lalu, memberikan satu buah kopi kepadaku, memandangku dengan cemberut dan aku tertawa.
"Kenapa sih, lu?"
"Elu yang kenapa!" Mikha menjawab sewot. "Punya cewek kok diam-diam aja, kenapa nggak cerita kalau lo udah punya pacar, Ben? Gue pikir kita cukup dekat ya untuk berbagi cerita, ternyata hanya gue yang menganggap begitu rupanya."
Mau tak mau aku terkekeh, mengambil paper cup milikku yang Mikha berikan tadi padaku dan meminumnya sesaat. Menimbang-nimbang, apakah harus aku ceritakan soal keluargaku pada Mikha? Apakah harus aku setransparan dirinya mengenai keluarga?
Aku hanya tidak ingin saja dia membenci Ayahku karena dia mengetahui cerita dibalik hidupku saat ini. Satu tahun belakangan ini aku sudah bisa mengetahui tentang Mikha, cewek itu cukup baik. Namun sangat pemarah, dan yang paling penting adalah cewek ini adalah cewek yang paling berani. Aku yakin, setelah aku ceritakan soal Ayahku kelak ketika dia bertemu dengan Ayahku, Mikha pasti akan langsung memakinya tidak peduli pada resiko setelahnya karena begitulah Mikha.
"Ben, lo bisu?" Mikha masih menatapku, aku sendiri masih melamun dan akhirnya memilih untuk meneguk minumanku sebentar dan kemudian menyerongkan badan menatap Mikha.
Lucu, ekspresi Mikha saat kepo itu lucu sekali.
"Apa yang mau lo tanyain?"
"Tadi cewek siapa? Pacar lo?" Spontan, aku menggelengkan kepala membuat Mikha melanjutkan pertanyaannya. "Gebetan?"
"Bukan juga."
"Terus siapa?"
"Itu kakak gue."
Lima detik, Mikha terdiam. Kemudian dia menutup mulutnya dengan kedua tangan tangannya berpura-pura kaget dengan fakta yang baru saja aku katakan. "Jadi selama ini lo anak orang kaya, Ben? Gila, kenapa gue repot-repot neraktir lo terus selama ini."
Mau tidak mau aku terkekeh mendengar gurauan Mikha itu. "Gue emang anak orang kaya, tapi gue bukan orang kaya."
"Lo kabur ya?"
Aku menoleh menatapnya, heran dengan tebakannya yang entah disengaja atau tidak benar ini. "Lebih tepatnya gue memilih untuk pergi dari rumah."
"Kenapa?"
"Biasalah."
"Oke nggak masalah kalau lo nggak mau cerita," katanya. "Lagian kalau itu masalah keluarga gue nggak bisa ikut campur terlalu dalam dan nggak bisa terlalu kepo, semua itu terserah lo, lo mau cerita gue dengerin. Kalau enggak, ya nggak apa-apa gue nggak akan pernah maksa apalagi bersikap kurang ajar."
Mikha itu, tidak banyak memiliki teman. Di kampus saja temannya bisa kehitung dengan jari yaitu satu jari dan orang itu adalah aku. Mikha tidak pandai bergaul apalagi dengan sejenisnya alias perempuan, pasti ada saja hal yang membuat Mikha menjaga jarak dengan mereka.
Katanya, dia lebih nyaman dengan tidak mempunyai banyak teman. Karena itu akan merepotkan dirinya, kupikir perempuan ini adalah perempuan sombong yang tidak ingin banyak bergaul tapi rupanya aku salah. Perempuan ini adalah perempuan yang baik, pengertian dan juga sangat setia kawan.
Meskipun sangat blak-blakan tapi aku sangat menyukai sifatnya itu, aku menyukai bagaimana dia selalu memandang sebuah masalah kecuali soal percintaan, aku benci kalau itu berurusan dengan kisah asmara Mikha sebab cewek itu jadi sangat alay sekali. Tapi diluar percintaan, logikanya selalu terpakai dan aku menyukai ide-ide yang keluar dari otaknya yang kadang-kadang tidak berguna itu.
"Thanks, Mik."
Mikha hanya mengangguk ringan. "Lo udah makan?"
"Udah. Lo?"
"Udah juga, tadi gue habis ketemu sama Kakak gue." Katanya. "Dia titip salam buat lo, dia juga nanya kenapa lo nggak ikut."
"Tumben kalian ketemu dihari sibuk begini?"
Mikha mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Antara dia lagi suntuk atau memang dia lagi kangen adiknya seperti apa katanya tadi."
Biasanya, Mikha akan bertemu dengan kakaknya satu bulan sekali. Diantara tanggal 17 atau tanggal 30 biasanya ditanggal tanggal seperti itu mereka akan bertemu, namun dengan Ibu dan Ayahnya Mikha biasanya dia akan pulang ke rumah awal bulan ditanggal delapan.
Aku biasanya turut serta diajak pada setiap pertemuan dengan Kakaknya mungkin sebab itu pula aku menjadi akrab dengan dirinya, karena pada dasarnya kakaknya Mikha yang bernama Restu itu memang mudah akrab. Beda dengan Mikha yang ceplas ceplos, Restu begitu tenang dan dewasa. Dan, dia juga cukup tampan. Mungkin, memang semua keluarga Mikha itu good looking.
"Bahas apa aja?"
"Banyak deh, gue sampai pusing sendiri."
"Pusing kenapa?"
"Biasalah." Jawab Mikha lalu tersenyum lebar. "Ngomong-ngomong, waktu gue kabur ke gedung sebelah itu, lo nelpon kakak gue ya?" Tanya Mikha, tidak ada nada marah disana. Maka dari itu aku hanya menganggukan kepala kepada Mikha. "Ada kali satu jam dia ngebahas soal mantan gue itu, sampai sebal gue."
"Sebal apa senang?"
"Sebal, soalnya dia cuma ngungkit kesalahan-kesalahan mantan gue aja tanpa pernah mikirin kalau dia selama ini baik ke gue."
"Baik apanya? Kerjaan lo semenjak pacaran sama dia suka nangis."
Dan Mikha tertawa. Aku berkata apa adanya, Mikha semenjak berpacaran dengan laki-laki sok kegantengan itu kerjaannya cuma nangis. Dalam satu hari, tidak mungkin dia tidak menangis lalu setelahnya kembali bermesraan. Lalu dengan bangganya dia berkata jika dia bahagia saat itu? Bahwa mantan pacarnya itu adalah orang baik? Wah, kacau memang otaknya Mikha ini.
Aku akui, laki-laki itu memang tampan. Tidak ada aura-aura keberengsekan dalam dirinya tapi siapa yang sangka kalau penampilan laki-laki baik seperti dirinya itu justru membuat diriku ingin mengumpati dirinya setiap hari? Mana ada laki-laki baik yang gemar selingkuh lalu kemudian menyalahkan pacarnya atas kenapa dirinya berselingkuh? Itu yang Mikha sebut laki-laki baik?
"Mik," Panggilku, sebab dia hanya diam tidak merespon kata-kataku tadi.
"Hm?"
"Lo kenapa?"
"Nggak apa-apa, cuma lagi capek aja."
"Masuk kamar gih kalau capek, istirahat."
"Tujuh menit lagi."
"Biasanya lima menit lagi."
"Udah basi lima menit mulu."
Aku terkekeh pelan dan lalu menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi, Bimo tadi sempat mengirimiku pesan. Katanya ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan padaku dan dia meminta agar aku datang ke rumahnya malam hari ini namun aku menolak, kukatakan padanya kalau aku lelah karena baru saja pulang dari BSD dan tumben sekali dia tidak berisik dan banyak bertanya.
Mungkin besok saja akan aku temui Bimo di Kantor, besok aku akan bekerja dan pulang pukul empal sore lalu akan langsung ke kampus. Besok juga ada ujian praktik, ah ujian praktik. Mungkin, itu adalah salah satu alasan kenapa Mikha begitu murung saat ini dan terlihat lelah sekali. Karena besok kami ada ujian praktik yang dimana hal itu adalah hal yang paling horor untuk Mikha.
Mungkin dia akan muntah, atau pingsan lagi esok ketika mulai membedah. Aku tidak pernah bisa membantunya dalam mengatasi ujian praktik, walaupun sebenarnya aku ingin sekali membantu dan melindunginya.
Tapi perempuan sok tangguh di sebelahku ini selalu bersikap seolah-olah dia memang tidak butuh untuk dilindungi. Dia selalu mengatakan kalau dia baik-baik saja, sudah biasa dimaki dan sudah biasa dipandang remeh ketika ujian praktik tiba. Tapi aku tahu, kalau diam-diam dia selalu menangis.
Karena sejujurnya dia tidak sekuat itu, aku tidak pernah memberi tahu dirinya kalau aku tahu dia menangis saat ujian praktik nya gagal. Yang bisa aku lakukan adalah berada di sisinya dan tidak mengatakan apapun. Terdengar sangat kolot, tapi bagiku tidak semua orang ingin di hibur dengan kata-kata. Mereka hanya butuh kehadiran kita, untuk menenangkan mereka.
"Nggak mau masuk kamar? Udah tujuh menit." Kataku pada akhirnya.
"Kenapa sih lo ngusir-ngusir gue mulu?"
"Nggak ngusir," aku menegakkan tubuh, lalu merangkul pundak Mikha. "Muka lo asem banget, gue malas lihatnya."
"Tapi cantik, kan?" Kalau untuk itu, aku langsung mengangguk membenarkan. "Gue benci jadi anak nggak berguna."
Tuh, Mikha tuh. Paling tidak bisa yang namanya memendam sebuah rasa, kalau dia sudah merasa tenang dia pasti akan bercerita tentang apa yang dia rasakan kepada orang yang dekat dengannya. "Kenapa? Ada masalah sama orang rumah?"
"Nyokap gue lah, biasa."
"Mau cerita?"
Mikha mengangguk. "Sambil makan cilor enak, sih."
Aku terkekeh, kemudian mengacak-acak rambutnya singkat. Tidak banyak bicara lagi, aku langsung mengajak Mikha untuk berdiri dan mencari dimana tukang cilor langanan Mikha mangkal. Biasanya di persimpangan jalan, tapi ini sudah larut malam. Kalau sudah jam segini biasanya tukang cilor itu akan segera pulang atau berkeliling memasuki kompleks perumahan yang ada di sebrang jalan itu.
Mikha menggenggam tanganku, untuk pertama kalinya tanpa ada angin dan hujan Mikha menggenggam tanganku saat berjalan bersama. Mungkin, dia memang benar sedang tidak baik-baik saja saat ini dan dia bingung bagaimana cara membuat dirinya kembali baik-baik saja tapi akan aku pastikan kalau aku akan ada sampai Mikha sampai dia baik-baik saja.