Bab.26 Nyala Harus Pulang

1524 Kata

Goldbin masih duduk di tempat yang sama sejak malam, matanya tak lepas dari arah pepohonan seberang. Ia tidak tidur, hanya mengamati, berjaga. Begitu matahari menembus kabut, Meela perlahan terbangun. Ia mendapati kepala Goldbin menunduk, rambutnya sedikit berantakan, dan mata keemasannya memantulkan sisa api unggun yang padam. “Semalaman kamu nggak tidur?” tanya Meela lirih. Goldbin tersenyum lemah. “Aku takut kalau aku terlelap, dunia akan berubah saat aku bangun.” Meela menatapnya penuh kasih. Ia tahu, di balik ketenangan Goldbin, ada rasa was-was yang terus membakar. Ia lalu menyentuh pipinya lembut. “Kalau dunia berubah pun, aku ingin tetap bangun bersama kamu, Goldbin." Goldbin memejamkan mata sejenak, meresapi kalimat itu. “Kamu tahu, Meela… setiap kali kamu bicara seperti itu,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN