Bab.25 Menyala Di Antara Bayangan

1516 Kata

Tiga hari setelah malam langit merah itu, suasana hutan kembali sunyi. Tapi keheningan itu bukan kedamaian, lebih seperti hutan yang sedang menunggu sesuatu. Goldbin tahu betul tanda-tanda semacam itu; hutan tidak pernah diam tanpa alasan. Namun pagi itu ia memilih menutup pikirannya dari segala kemungkinan buruk. Ia ingin memulai hari seperti manusia biasa, membuat roti, menyiapkan teh hangat, dan mendengar tawa Meela. Hanya itu yang ia mau. Di dapur kecil mereka, aroma kayu manis memenuhi udara. Meela sibuk menepuk-nepuk adonan di meja, rambutnya berantakan, pipinya sedikit bertepung. Goldbin berdiri di pintu, bersandar dengan tangan terlipat sambil tersenyum. “Kalau terus kamu liatin kayak gitu, roti ini bisa gosong, tahu?” goda Meela tanpa menoleh. Goldbin tertawa kecil. “Aku cuma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN