Sudah tiga minggu berlalu sejak kunjungan Luxen. Rumah kecil di tepi hutan itu kembali hidup dengan tawa dan aroma roti hangat. Namun di antara kehangatan, ada sesuatu yang berbeda, ada semacam getaran halus di udara, seperti bumi tengah menahan napas. Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di pepohonan. Meela menjemur kain di belakang rumah, sambil sesekali menatap Goldbin yang tengah mengasah pisau di serambi. Cahaya matahari menembus ranting-ranting, menimpa tubuh Goldbin yang berotot namun tenang, seperti binatang buas yang memilih menjadi jinak. “Aku belum pernah lihat kamu setenang ini,” ujar Meela, menaruh keranjang di dekat pagar. Goldbin mendongak, tersenyum samar. “Setelah malam merah itu, aku belajar akan sesuatu. Kadang, ketenangan justru lebih kuat dari amarah.” Meela men

