Sudah seminggu berlalu sejak malam bulan merah itu. Di rumah mereka yang terletak di tepi hutan, udara mulai hangat kembali. Pagi-pagi burung-burung bernyanyi dengan riang, dan aroma roti panggang memenuhi dapur. Meela berdiri di depan kompor, rambutnya yang panjang dikepang satu, mengenakan apron bermotif bunga matahari. Ia mengaduk adonan pancake sambil sesekali menatap ke arah ruang tengah, di mana Lira duduk di lantai, dikelilingi tumpukan mainan kayu. Gadis kecil itu terlihat jauh lebih segar dibanding seminggu lalu, pipi tembamnya kembali merona, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Goldbin muncul dari belakang rumah, mengenakan kaus abu-abu tipis dan celana training, rambutnya masih basah habis mencuci muka di sumur belakang. Sejak kejadian malam itu, ia nyaris tak bisa tidur n

