Malam turun pelan di atas kota. Angin membawa hawa yang begitu ganjil, lebih dingin, lebih berat, seolah ada sesuatu yang bernafas dari balik langit. Di ruang tamu rumah mereka, lampu remang memantulkan bayangan lembut. Lira, yang biasanya cerewet dan aktif, malam itu hanya berbaring di pangkuan Meela. Tubuh kecilnya panas sekali, wajahnya memerah seperti bara. “Sayang… Lira, pelan napasnya, ya,” bisik Meela, suaranya nyaris parau karena cemas. Di tangan kirinya, termometer kembali berbunyi, 40,7 derajat. “Empat puluh… lagi?” Meela menatap Goldbin, matanya sudah basah. Goldbin berdiri di dekat jendela, menatap keluar. Bulan bulat sempurna menggantung di langit, tapi bukan putih pucat seperti biasa. Warnanya… merah darah. Ia menelan ludah, dadanya menegang. Bulan Purnama merah. Fenom

