"Kamu yakin? Jangan ambil keputusan begitu aja. Ayah cuma ingin kamu jadi yang terbaik,” ujar Devan menanggapi ucapan yang baru saja anaknya keluarkan. Sedangkan Fano memiringkan kepalanya seraya menimang, lalu ia kembali kepada posisi semula. "Yakin, Yah. Yaudah Fano ke kamar dulu,” ucap Fano finalnya lalu pergi meninggalkan ruang kerja Ayahnya. Sedangkan Devan hanya bisa menghela nafasnya. Fano terus melangkahkan kakinya sampai ke kamar dan mendapati Asya-nya sedang menulis sesuatu. Entah tulisan apa yang ia ukir saat ini, namun itu sanggup membuat Fano penasaran. Dengan berjalan perlahan agar tidak terdengar langkahnya, ia terus mendekat sampai pada saatnya ia mendengar suara gadis itu. "Ada apa, Fan?" Suara itu seakan mengetahui bahwa Fano ada di belakangnya. Fano mendengus pelan.

