DENGAN langkah gontai, Fano memasuki rumahnya. Ia menghampiri Asya yang sudah terduduk di sofa bersama Erika dan Devan. Mendapati Fano sudah pulang, Erika langsung berdiri lalu menatap Fano kesal. "Fano! Udahlah, kamu di sini aja,” ujarnya seraya memanyunkan bibirnya. Sedangkan Asya hanya menatap Fano, begitu pun sebaliknya. Fano menghela nafasnya, "Fano udah besar, Ma." Mendengar itu, Erika melipat kedua tangannya ke depan lalu menatap Fano kesal. "Ya emangnya kalo udah besar kenapa? Mama nggak ngerasa kerepotan kok adanya kamu sama Asya di sini. Ma-" Erika menghentikan ucapannya ketika Devan memegang pundaknya. "Sudah. Fano pergi karna jarak kampusnya dari rumah cukup jauh, jadi biarkan saja," potong Devan, Erika menghela nafasnya pelan. Fano hanya menatap Devan datar. "Hm..yaudah d

