Awal Tawa...

1915 Kata

“ Pamaaan semangat! Paman pasti juara!!!” Teriak Nayara menyemangati. Hendri mengulas senyum dengan tongkat golf di tangannya. Ia seakan melihat bayangan Khairana yang selalu setia menyemangatinya dulu. “ Kalahkan Om Farzan, paman!! Semangat!!” Teriaknya bagai anak kecil. Teriakannya itu terhenti saat melihat Farzan melangkah ke sana dengan topi di kepalanya. Penampilan kasual Farzan membuat Nayara tak berkedip. Entah kenapa, seakan ada sosok Vendra dalam dirinya. Itu membuat Nayara sedih, di mana Vendra sekarang? Apa kabarnya? “ Non, mau puding?” Lamunan Nayara buyar saat bi Marsih menyodorkan puding ke hadapannya. Gadis itu mengulas senyum “ Terima kasih ya non.” Ucapnya begitu lembut. Nayara mengernyit “ Terima kasih untuk apa?” “ Untuk semua ini. Mungkin ini adalah ulang tahun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN