Pembalasan dan Paksaan...

1738 Kata
“ Om tadi itu gak serius kan? Kau Cuma pura pura melamar kan? Paman akan baik baik saja?” Tanya Nayara saat mereka tiba di lobi Rumah Sakit. Farzan menyerahkan sebotol teh ke tangan gadis itu yang langsung ia tenggak tandas. “ Tidak.” “ Uhuk uhuk.” Nara langsung terbatuk. Apalagi saat seseorang tiba tiba datang dengan beberapa berkas di tangannya dan bertanya “ Ini calon istri anda?” Nayara langsung berdiri dengan wajah memerah. Bagaimana bisa Farzan mendatangkan penghulu tanpa seizinnya. “ Anda langsung ke ruangan ayah saya. Tunggu kami di sana!” perintah Farzan tak mendengarkan, penghulu itu pun bergegas mengikuti suster menuju kamar tempat Hendri di rawat. “ Om kalau mau gila sendiri saja sana! Jangan ngajak ngajak dong. Aku gak mau nikah hari ini. Enak saja!” Celetuk Nara memalingkan wajah “ Ayahmu bukan orang miskin. Dia adalah pewaris utama salah satu perusahaan ternama. Seseorang merampas seluruh hartanya, membunuh ibumu lalu menipunya dalam kemiskinan.” Celetuk Farzan yang seketika membuat Nara menatapnya dengan ekspresi kaget “ Kau mengarang semua ini kan? Ibuku dibunuh? Ayahku kaya? Tapi kenapa selama ini ayah hidup biasa saja? Jangan menipu hanya untuk menikahiku Om.” Tekan Nara dengan wajah memerah. Mendengar itu, Farzan menatap Nara dengan senyum dingin. “ Aku Farzan Adikara, aku bisa mencari tahu apa pun yang aku mau. Kau pikir aku sudi menikahimu Hm?” Ujarnya meremehkan “ Jadi kau mengatakan kebenaran? Kau tidak berbohong?” Nara menatap Farzan kelu. Pria itu mengangguk tegas “ Siapa yang melakukan semua itu?” Tanyanya dengan mata berkaca kaca “ Apa kau pikir tenagaku gratis? Kau bukan siapa siapa dan urusan keluargamu bukan tanggung jawabku.” “ Lalu kenapa kau mengatakan semua ini Hm?” Air mata Nara mengalir turun. Apa pun mengenai orang tuanya memang selalu menyakitkan baginya. Apalagi jika apa yang dikatakan Farzan benar. “ Aku ingin ayahku pulih. Dan keinginan yang bisa membuatnya berjuang hanya dengan melihatku menikahimu. Dia sangat menginginkan hal itu. Aku akan membantumu mencari tahu semuanya, tapi jadilah istriku selama beberapa waktu.” Farzan kembali menawarkan. Tentu saja, Nara tampak berpikir. Hingga... Farzan menyerahkan sebuah amplop ke tangannya. Amplop yang berisi foto foto ayahnya saat masih muda. Ia terlihat sangat berbeda, mengenakan jas mewah, salah satu fotonya bahkan berada di luar negeri, bersama mobil mewah dan harta yang melimpah. Terlihat jelas, ayahnya tidak berasal dari golongan biasa saja. Di salah satu foto memperlihatkan Leon sedang duduk di restoran mahal bersama Hendri. “ ayah.” Nara seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat “ Aku menemukan foto itu di album milik ayah. Ayah sempat menceritakan sedikit kisah padaku. Jadi aku mungkin lebih tahu tentang ayah dan ibumu. Tenang saja, selama menikah, aku tidak akan menyentuhmu. Tugasmu hanya merawat ayah dan tinggal di rumahku sampai ayah pulih. Kau juga masih bisa kuliah, selama itu, aku akan mencari tahu kebenaran tentang keluargamu.” Tawar Farzan mengulurkan tangannya Nara menatap tangan putih itu lekat. Jika ia menikah dengan Farzan, bagaimana perasaan Vendra? Nara yakin, Vendra menaruh perasaan yang sama dengannya. “ Apa aku boleh berpikir dulu?” tanya Nara getir. Farzan mengulas senyum dingin “ Penghulu ada di kamar ayah, aku juga akan ke sana. 20 menit, aku akan menunggu keputusanmu. Jika datang artinya setuju, kau bisa pergi jika kau mau. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu yang buruk pada ayahku. Itu merupakan tanggung jawabmu!” tunjuk Farzan kemudian beranjak pergi. Nara terduduk kembali, menatap potret potret lama itu. Sejauh yang ia ingat ayahnya adalah pekerja keras, tidak pernah mengeluh bahkan tidak pernah menceritakan apa pun padanya tentang masa lalu. Leon adalah sosok ayah yang kuat, ia bahkan rela menjadi tukang parkir demi biaya hidup dan menyekolahkan Nara. Mungkinkah ada rahasia besar yang disembunyikan ayahnya? Jika memang benar ayahnya orang berada, lalu siapa yang telah merampas semua hak hak yang seharusnya menjadi miliknya? Nara kembali menatap ke arah Farzan yang sudah menjauh pergi. “ Ini tidak untuk selamanya kan ayah? Tidak ada salahnya aku menerima tawaran Om itu kan? Ayah pasti ingin paman sembuh, ayah bahkan mengorbankan nyawa ayah untuk menyelamatkan paman. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menerima tawaran Om itu? Bagaimana dengan masa depanku?” gumam Nara sedih. Gadis itu mengambil napas panjang... Entah apa yang harus ia lakukan, menerima atau mengabaikan? ------***----***----***------ Sementara itu, di lain tempat... Eliana baru saja terbangun, ia melepaskan selimut yang menutupi sebagian tubuh telanjangnya. Pipinya terlihat lebam dan sudut bibirnya berdarah, rambut panjangnya kusut, kelopak matanya pun terlihat bengkak, mungkin semalaman ia menangis. Dengan susah payah, ia meraih ponsel di meja. Baru ia sadari, Bumi telah berkali kali menelefonnya. Eliana ingin menelefon balik. Tapi... Tiba tiba seseorang merampas telefon itu dari genggamannya. Ya, ia bersama seseorang “ Berikan ponselku!” pinta Eliana dengan suara serak. Apa yang sebenarnya terjadi pada model cantik itu. “ Kau ingin ponselmu kembali? Layani aku sekali lagi!” Pinta orang itu. Eliana menatapnya jijik, ia berdiri menjajari sosok yang mungkin seumuran dengan ayah Farzan itu. Menatapnya marah, lalu melayangkan tangan hendak menamparnya. Tapi... Sosok itu dengan mudah menahan pergelangan tangan Eliana lalu mencengkeram dagunya kasar “ Aku sudah membayar mahal untuk mendapatkan dirimu. Bertahun tahun aku hanya bisa memandangi fotomu di majalah majalah itu. Malam ini hidupku terasa begitu indah akhirnya aku bisa bermalam denganmu. Sudahlah! Lagi pula aku sudah puas denganmu. Ambil ponsel ini! Jika aku butuh, aku mungkin akan menghubungimu kembali.” Sosok itu kemudian mencium leher jenjang Eliana yang hanya bisa menangis kemudian terduduk lemas di sisi ranjang. Pria hidung belang itu kembali merapikan dirinya, sebelum akhirnya pergi setelah meninggalkan beberapa tumpuk uang di ranjang. Eliana berteriak melepas marah, sama sekali tidak ada yang mendengar teriakannya, hotel itu kedap suara Entah apa yang terjadi padanya. Tiba tiba saat ia hendak membuka pintu rumah semalam, seseorang membekap hidung dan mulutnya, seluruh dunia menjadi gelap dan saat sadar, Eliana sudah berada di kamar hotel bersama pria tua tadi. Ia berusaha kabur, mencari celah jalan ke luar, tapi pria itu justru menyiksa, mengoyak pakaiannya dan menyetubuhi dirinya dengan paksa. Seakan akan Eliana adalah p*****r yang bisa dibayar kapan saja. Gadis itu hanya bisa menangis sedih meratapi nasib, entah siapa yang telah begitu tega menjualnya, Eliana tidak berurusan dengan siapa pun. Kalau memang orang itu berniat menjualnya, kenapa pria tua tadi menyerahkan semua uang ke pada Eliana langsung. Jauh dalam sedihnya, tiba tiba... Ting tong Bel kamar berbunyi... Eliana ketakutan, ia segera mengenakan kembali pakaiannya dan menyiapkan garpu di tangan. Takut takut ada pria lain yang mencoba melecehkannya. Eliana mungkin memang tidak perawan, tapi ia hanya melakukan hal itu dengan orang yang ia cintai saja. Ting tong Bel pintu kamar kembali berbunyi Eliana bergegas membukanya dan menyodorkan garpu itu ke depan. Alangkah kagetnya ia saat mendapati beberapa preman yang tempo hari mengganggu Nayara di jalan ada di hadapannya dengan kondisi babak belur. Kenapa para preman itu menemui Eliana? Apakah mereka mengenal Eliana? “ Kenapa kalian ke sini! Kenapa? Urusan kita sudah selesai. Pekerjaan kalian juga tidak ada yang beres.” Tekan Eliana marah. Para preman itu pun tak kalah marah. Salah satunya langsung menjambak rambut Eliana dan mendorongnya masuk kembali ke kamar “ Tutup pintunya!” Teriaknya pada yang lain “ Apa yang kalian lakukan?” Teriak Eliana saat tubuhnya terlempar ke ranjang Para preman itu mendekatinya “ kau tidak membayar kami dengan baik, kau menyuruh kami mengganggu gadis itu tapi kau tidak membayar kami dengan baik! Jadi seseorang membayar kami untuk menikmati hari ini bersamamu! Lumayan kan dapat uang, dapat enak!” senyum mereka lapar. Eliana langsung beringsut takut Ya, Elianalah yang membayar preman preman itu untuk mengganggu Nayara saat hendak ke makam ayahnya. Tapi siapa yang tahu kalau itu adalah siasatnya? “ Jangan mendekat! Aku akan membunuh kalian jika kalian berani menyentuhku!” Ancam Eliana “ Alah bispak saja belagu. Pegangi dia! Jangan sampai bidadari ini kabur!” celetuk preman itu. “ Tolong!!” Teriak Eliana, tapi lagi lagi sama, tidak ada yang mendengar suaranya. Justru pelecehan kembali ia terima, bagai harga diri yang hancur, preman itu memaksanya, sama seperti yang dilakukan pria tua semalam. Siapa yang telah membalas Eliana dengan begitu kejam? Hari itu Eliana menjadi bulan bulanan, ia sama sekali tidak berdaya, seakan harga dirinya hancur terkoyak habis. Bermalam dengan paksa bersama lelaki tua yang menyiksanya dan kali ini beberapa preman menggilir dirinya bagaikan kupu kupu malam yang tidak berharga sama sekali. Seolah orang itu ingin membalas Eliana 1000x lipat dari apa yang ia lakukan pada Nayara kemarin. Eliana hanya bisa menjerit dan menangis, tanpa ada seorang pun yang mendengar tangisannya. Siapakah sosok yang membalas Eliana itu? Usai bersenang senang, para preman itu turun ke lobi hotel. Di sana, mereka menemui seseorang, sosok yang kemarin menghajar mereka habis habisan. Benar, Vendra, Navendra. Sepupu Nayara. “ Kalian sudah puas?” tanyanya seraya menyerahkan tumpukan amplop ke tangan para preman itu “ Wah kerjaan begini sih enak. Enak enak dikasih duit lagi. Mantap sih cewek itu. Bos gak mau gabung?” tanya mereka tersenyum senang. Mendengar itu, Vendra berdiri dari duduknya kemudian mengulas senyum licik “ Aku tidak berminat dengan barang bekas.” Ucapnya kemudian beranjak pergi. Di kamar, Eliana berusaha menghapus air matanya. Ia membuka kertas yang diberikan preman tadi usai bermain main dengannya, kertas yang bertuliskan : Jika tidak bisa bersikap baik, setidaknya jangan mengganggu Nayara. Atau aku akan membuatmu jauh lebih hina dari pada siapa pun di muka bumi ini. Jangan main main denganku -V Eliana meremas kertas itu penuh emosi. “ Kau akan menerima akibatnya! Siapa pun dirimu! Aku bersumpah!” teriak gadis itu kemudian menangis serak Bagaimana dengan Nayara? Apakah ia sudah memberikan keputusan? Di rumah sakit, Nayara melangkah gontai dengan foto foto di tangannya. Ia menatap pintu besar yang menyimpan Hendri di dalam. Berpikir kemudian kembali menghela napas berat. “ Setidaknya, aku harus tahu apa yang terjadi pada orang tuaku bukan? Tidak ada salahnya jika aku memenuhi keinginan paman Hendri. Ini hanya sementara, ya, ini hanya sementara.” Gumamnya menarik napas panjang kemudian membuka pintu itu dengan jantung berdebar Farzan menatapnya dengan dagu terangkat, sementara Hendri mengulas senyum pucat. “ Ke marilah nak! Ke mari! Jangan ragu!” Panggil Hendri dengan wajah berbinar. Ya, aku tidak tahu yang kulakukan ini benar atau salah Aku tidak tahu yang akan terjadi berikutnya... Aku hanya ingin melangkah beberapa kali ke depan untuk tahu apa yang terjadi dengan ayahku... Tapi aku sama sekali tidak berpikir, langkah ini akan membawaku pada takdir yang lebih jauh. Takdir yang bahkan mungkin tidak pernah terlintas di pikiranku sedikit pun Karena aku... Terlalu muda
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN