Rahasia Pertama...

1896 Kata
“ Cincin ini milik almarhum ibunya yang dititipkan Leon padaku! Jadi ini harus menjadi milik Nayara.” Ucapan Hendri tadi benar benar memukul perasaan Bumi, wanita karir itu hanya bisa duduk seraya menenggak botol wiskinya tandas sebelum akhirnya melangkah gontai ke arah kamar dengan sesuatu di tangan, tatapannya benar benar penuh kebencian pada suami tercintanya. “ Jadi itu alasanmu bersikap dingin padaku selama ini? Aku hanya memiliki ragamu dan tidak dengan cintamu? Lalu untuk apa aku bertahan lama dengan semuanya, sayang?” Gumamnya meracau sembari mendekati Hendri yang begitu lelap karna lelahnya “ Untuk apa semua ini? Bahkan kau masih menyimpan cincin miliknya?” “ Tidak Hendri tidak! Cukup! Semuanya harus berakhir! Kau tahu, aku sangat lelah. Aku lelah berpura pura bahagia denganmu, cangkang kosong yang Cuma bisa menemani tanpa mencintai. Aku benar benar lelah. Maafkan aku!” Ujarnya kemudian menyuntikkan sesuatu itu tepat di nadi Hendri. Entah apa itu, yang jelas, sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Esok paginya... Saat Nayara baru tiba di kampus... “ Sial, dia lagi dia lagi!” Nayara ingin berbalik sebelum Farzan melihatnya. Bukankah hubungan mereka sudah putus? Kenapa Farzan berada di kampusnya sepagi itu? Beruntungnya, banyak kerumunan wanita yang sibuk memotret Farzan, jadi Nara bisa lebih cepat menghindar. Gadis itu menghela napas, duduk di kantin terengah engah sembari memesan segelas teh untuk memulihkan tenaga. “ Beruntung, aku bisa menghindari Om itu.” Gerutunya menyeruput teh itu lalu mengambil napas lega. Tapi tiba tiba... “ Ikut aku!” Deg Gak ada angin gak ada hujan, entah dari mana tiba tiba Farzan memegang lengannya erat dan sedikit menyeretnya untuk berdiri “ Eh Om apaan sih ini! Yang sopan dong. Masak anak orang main tarik tarik saja. Ada apa? Muncul sesuka hati, bikin kaget saja!” Celetuk Nara menarik lepas lengannya. Mereka berdua langsung jadi pusat perhatian di kantin. Ya tentunya Farzanlah yang menarik perhatian, tidak mungkin Nara yang penampilannya biasa saja, bahkan sedikit tomboi. “ Ikut aku! Ayah kritis, dia ingin bertemu denganmu.” Ujar Farzan kemudian. Barulah Nara sadar, penampilan Farzan hari itu sangat berbeda. Ia yang biasanya sangat rapi terlihat kasual dengan rambut yang tidak tertata, mengenakan kaos lengan panjang non formal dan celana longgar. Ganteng juga sih kalau dilihat lihat, pantas saja banyak yang mengambil fotonya. Sudah pasti Farzan sedang galau tingkat kronis. “ Om sakit? Kok bisa?” Tanya Nara masih berdiri mematung “ Sudah ikut saja! Jangan banyak tanya!” Farzan menyeret paksa Nara untuk ikut ke mobilnya Wajah Farzan hari itu terlihat sangat berbeda, ia sama sekali tidak bicara selama perjalanan walaupun Nara menanyakan kenapa Hendri bisa sakit tiba tiba. Yang ia jawab hanya Hendri mengalami ke lonjakan gula darah yang cukup parah dalam waktu semalam dan harus membuatnya dilarikan ke rumah sakit. Hendri memang diketahui memiliki diabetes yang cukup mengkhawatirkan hingga ia harus memakai insulin, tapi kenapa secara tiba tiba diabetesnya naik itu tidak ada yang tahu. Setibanya di depan rumah sakit... “ Turun!” Perintah Farzan kemudian mengawali langkah begitu saja tanpa membukakan pintu Nara. Nara pun dengan terpaksa mengikuti langkahnya... Sesampainya di ruangan VVIP, Farzan bertemu dengan dokter yang baru saja memeriksa ayahnya di dalam. “ Tuan Hendri sudah sadar tapi tolong jangan membuatnya tertekan. Kondisinya masih kritis dan lemah.” Tuturnya yang hanya dibalas anggukan oleh Farzan. Ya iyalah, sosok itu kan memang skillnya nyuekin orang. “ Ayo masuk!” Ajak Farzan melirik ke arah Nara yang tiba tiba ciut “ Kenapa?” “ Tante Bumi ada? Sebaiknya aku tidak masuk saja. Ntar malah ribut gak enak sama paman.” Tolaknya. Mendengar itu, tanpa basa basi, Farzan menarik lengan Nara dan memaksanya masuk ke dalam. Benar saja, Bumi langsung menatapnya tajam dari sisi suaminya. “ Kenapa dia di sini!” Bentaknya mulai meradang. Kali ini, Nara melihat kebencian yang jauh lebih besar di mata Bumi ke pada dirinya dari pada sebelumnya. Entah apa lagi yang Nara lakukan. Ia selalu salah di mata wanita berambut pirang itu. “ Sudah cukup ma, Farzan mohon mama ke luar dulu!” Pinta pria itu membuat Nara terkagum kagum. Rasanya begitu hebat saat anak dan ibu itu berduel, Farzan bisa dengan mudah membuat ibunya mati kutu. Bukannya mendukung pendurhakaan anak ke ibu, tapi ibu seperti Bumi apa iya gak boleh didurhakai? Itulah yang ada di benak Nara “ Mama tidak mau melihat dia di sini.” Imbuh Bumi “ Aku tidak membawanya untukmu. Aku membawanya demi ayah. Jadi tolong jaga kondisi ayah!” Pinta Farzan lagi Dengan berat hati, Bumi berdiri kemudian melenggang pergi setelah memberikan tatapan setajam samurai ke arah Nara yang bergidik ngeri. Beruntung ia sudah tidak bertunangan dengan Farzan, kalau tidak bagaimana bisa ia hidup dengan ibu mertua segalak itu? “ Pantas saja anaknya walaupun cakep gak kawin kawin.” Gumam Nara menghela napas “ Apa?” Farzan mengernyit “ Gak apa apa kok om.” Dalih Nara kemudian berlari ke arah Hendri yang tersenyum pucat menyambut kehadirannya. Terlihat jelas, Hendri begitu lemah tak berdaya. Wajahnya tak seperti biasanya. Hendri membelai wajah Nara dengan lembut. Seakan ada banyak kenangan di wajah itu. Nara terlihat seperti wanita yang dulu pernah singgah di hatinya. Ya, wanita yang sangat dicintai Hendri, Ibu Nayara. Perlahan, pria tua itu merogoh sesuatu dari sisinya. Sesuatu yang membuat Nara terhenyak.. “ Kenapa kau melepaskan cincin ini?” Tanyanya dengan wajah sedih. Nara terdiam, ia tidak ingin jawabannya semakin membuat Hendri tertekan “ Kau tidak menyukai Farzan? Dia memang galak tapi dia sangat baik.” “ Ti-tidak kok paman. Tidak. Bukan begitu, aku.. Nara.. Nara hanya merasa tidak pantas paman. Om Farzan, maksud Nara kak Farzan kan jauh lebih dewasa dari pada Nara. Iya kan? Pasti banyak yang lebih pantas.” Nara berdalih, sebaliknya, Farzan hanya diam. Entah apa yang ia pikirkan. Apakah memang sosok ini terlahir dengan mode hemat kata kata? “ Paman boleh meminta sesuatu?” Nara mengangguk cepat Perlahan, Hendri memegang tangan putranya, lalu memegang tangan Nara dan menyatukannya dengan Farzan. Firasat Nara langsung tidak enak “ Menikahlah dengan Farzan sebelum Paman tiada. Paman ingin melihat kalian bersatu.” Pintanya Baru saja tadi Nara merasa bersyukur bebas dari Farzan, eh sekarang justru dipaksa menikahi bongkahan es itu. Napas Nara bahkan seakan tak mau ke luar saking kagetnya “ Paman gak bercanda kan?” Tanya Nara dengan bola mata membundar kaget Lebih kaget lagi saat... “ Aku akan menikahinya. Ayah jangan terlalu memikirkan itu. Aku sudah menelfon penghulu agar datang ke sini secepatnya. Hari ini kami akan menikah!” Tutur Farzan gamblang “ Eh om lo kok gitu sih! Main nikah nikah saja. Kapan ngelamarnya? Kapan aku setuju? Kapannn!! Ni orang lama lama nyebelin ya! Dasar!” Teriak Nara yang langsung menarik tangannya lepas. “ Uhuk Uhuk.” Hendri langsung terbatuk Dan saat itulah, Nara melihat kelembutan sikap dari Farzan, ia menatap Nara kemudian berdiri dan melangkah ke hadapan gadis itu. Tanpa di duga duga, Farzan berlutut di hadapan Nara, dengan cincin di tangan Seromantis itu... “ Nayara, aku melamarmu. Maukah kau menikah denganku?” Pintanya Nayara depresi, ia seakan berada di gerbang antara neraka atau negeri siluman. Tidak ada pilihan yang nyaman. Melirik wajah Hendri yang tersenyum pucat, seakan itu adalah kebahagiaan terakhirnya membuat Nara berat. Mungkinkah Farzan melakukan hal ini hanya demi ayahnya? Haruskah Nara berpura pura menerima lamaran itu juga? “ Nara, paman mohon.” Pinta Hendri lemah. Ah sudahlah, lagian juga ini pasti pura pura juga kan... Batin Nara “ Please!” Pinta Farzan sekali lagi. Naraya menghela napas dalam, ia kemudian mengangguk. Membiarkan Farzan memakaikan kembali cincin itu ke jarinya. Pemuda itu kemudian berdiri dan menarik Nara ke dalam pelukannya. Hangat Kenapa pelukan om ini begitu hangat? Jauh dalam rasa nyaman... Tiba tiba Farzan berbisik “ Selamat datang di neraka.” Deg Apa maksudnya -----***----***----***------ Hendri memejamkan matanya tenang, senyum tersungging di bibirnya... Seberkas ingatan menggurat jiwa.. ingatan dari senyum gadis yang ada di masa lalunya, gadis cantik dengan keranjang bunga di tangan, rambut panjang dan senyum yang menawan. “ Aku sangat mencintaimu Khairana...” Ucapnya memeluk gadis itu ke dadanya. Cinta yang begitu besar sampai sampai tidak bisa dikalahkan oleh kematian. Sebuah cincin berlian, ia sematkan di jari manisnya. Gadis itu dipanggil Rana, ia adalah ibu dari Nayara. Dan itu adalah masa lalu yang indah. Air mata Hendri menetes mengingat bagaimana takdir memisahkan mereka yang sejak kecil sudah bersama. Ayah Hendri memaksanya menikah dengan Bumi Alexsandra, Karena Bumi dinilai lebih pantas dan lebih bermartabat. Hal itu membuat ia harus merelakan Rana. “ Kau jahat Hendri, kau sangat jahat. Aku begitu mencintaimu. Tapi kau meninggalkanku seperti ini?” Tangis Rana yang tak pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Hendri meninggalkan hati dan cintanya, jiwanya pada masa lalu. Dan selamanya ia hanya hidup bagai cangkang yang kosong. “ Leon, aku titip Rana ya, tolong jaga dia. Obati lukanya, jangan pernah menyebut namaku lagi di depannya. Buatlah dia bahagia seperti dulu.” Pinta Hendri pada sahabat sekaligus rekan bisnisnya, Leon. Ya, Hendri menitipkan Khairana pada Leon. Butuh waktu yang sangat lama bagi Leon untuk bisa membuat Rana kembali tersenyum dan membuka hati. Bahkan hampir 10 tahun lamanya. Itu kenapa jarak usia Farzan dan Nayara cukup jauh. Leon tidak sepengecut Hendri, ia bahkan rela meninggalkan semuanya dan memilih hidup sederhana bersama Khairana. Sampai hari itu pun tiba... Hari di mana... Leon mendatangi kediaman Hendri, menyerahkan kembali cincin itu ke tangan Hendri, dan memberi kabar, bahwa Rana telah meninggal. Saat itu, Hendri berjanji, ia akan menyatukan cintanya dengan Khairana... Melalui Farzan dan Nayara. Kisah cintanya dengan Rana memang telah lama berakhir, tapi hati dan perasaan Hendri masih saja sama. Bumi juga merasakan rumah tangganya hampa, ada gadis lain yang telah menempati suaminya. Sejauh apapun Bumi berusaha, Hendri tidak pernah bisa mencintai dirinya. Itu membuat Bumi marah dan membenci gadis yang tak pernah bisa ia temukan itu. Itu kenapa, Bumi semakin membenci Nara saat menyadari, Nara adalah anak dari wanita impian suaminya. Wajah Nara adalah bayang bayang masa lalu yang begitu mengerikan baginya. Bagaimana bisa ia menerima Nara? Usai ke luar dari ruangan Hendri dan membiarkannya istirahat. Bumi langsung menghadang putranya... “ Kenapa kau membawa gadis ini ke mari! Kau ingin menyakiti mama hah? Apa yang ada di dalam otakmu itu Farzan! Kau ingin membuatku mati!!” Teriak Bumi meluapkan emosinya. Sebaliknya, Farzan mengulas senyum dingin yang tenang. Menggenggam tangan Nara yang sudah sangat ketakutan “ Sebaiknya mama diam saja, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayah. Ayah sangat menjaga pola makannya. Tidak mungkin ayah tiba tiba seperti ini bukan.” Ujarnya penuh maksud “ Apa maksudmu hah! Kau... “ Ini.” Farzan merogoh kantong plastik dari saku celananya. Bola mata Bumi langsung membulat melihat suntikan yang ia gunakan sudah berpindah tangan ke putra tunggalnya itu. Bagaimana bisa? Bumi langsung bungkam “ Itu apa Om?” Tanya Nara dengan polosnya. Tapi Farzan hanya diam, bahkan tidak menjawab. Ia menatap ibunya dalam. “ Mama terima saja konsekuensinya. Dan ingat satu hal, aku tetap putramu! Dan aku ingin kebaikan untuk orang tuaku. Bukan sebaliknya.” Ucapnya kemudian menarik lengan Nayara agar pergi bersamanya. Bumi merapatkan rahang, jari jarinya mengepal tegas, bola matanya memerah dan setetes air mata mengalir di pipinya melihat putranya yang melangkah tegap bersama gadis yang paling ia benci di dunia. “ Aku mengandung dirimu dengan susah payah, aku merelakan perutku memiliki noda sesar karna melahirkanmu. Tidak mungkin aku membiarkanmu memilih wanita yang salah seperti ayahmu. Kau milik ibu Farzan, dan ibu akan melakukan apa pun yang menurut ibu baik untukmu.” Gumamnya menyeka air mata Ya, apa pun
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN