Menemukan Pahlawan...

1871 Kata
Dia masih mematung dengan kondisi menggigil menahan dingin dan rasa takut walaupun sudah berada di tempat yang aman. Sesekali suara tangisnya terdengar “ Kau ingin membeli mawar lagi?” Tanya sosok itu menghentikan laju mobil di halaman sebuah toko. Nayara menggeleng tak menatap, ia masih ketakutan. “ Mawar itu untuk ayahmu kan? Kau pasti tidak nyaman mengenakan pakaian mini seperti itu. Turunlah, ganti bajumu di toko itu. Pilih apa pun yang sesuai dengan keinginanmu.” Pintanya membuat Nayara menatapnya kelu. Ya, sosok yang menyelamatkannya adalah Vendra. Kebetulan Vendra yang bermaksud pergi ke makam ayah Nara lewat di sana dan melihat preman preman itu mengganggu Nayara. Ia yang notabene jago bela diri sejak dulu dengan mudah bisa mengalahkan seluruh preman itu bahkan tanpa sedikit pun terluka. Nayara turun dari mobil, ditemani Vendra melangkah memasuki toko, alangkah bahagianya ia menemukan jeans, kaos, dan jaket yang seperti biasa ia kenakan sehari hari. Nayara langsung mengganti pakaiannya, ia benar benar merasa nyaman. Usai belanja kebutuhan, ponsel Nara kembali berdering. “ Kau sudah memiliki ponsel sendiri?” Tanya Vendra usai membelikan seikat mawar untuk Nara. “ Abaikan saja kak. Tidak terlalu penting.” Ucap Nayara dengan nada kesal. “ Tunanganmu?” Vendra mengangkat sebelah alisnya yang sumpah demi apa pun dia memang menawan. “ Entahlah. Kakak jangan salah paham, aku tidak bertunangan dengannya karena harta. Aku terpaksa kak, ini karena aku harus berhutang budi padanya dan keluarganya. Mereka membiayai sekolahku dan menebus hutang hutang ayah, mereka juga membeli rumah itu untukku.” Tutur Nayara. Sosok itu mengulas senyum dingin. Tidak menanyakan apa pun lagi, hanya menyetir dan suasana menjadi hening. Dia memang seperti itu, misterius dan sangat tertutup Jika ia peduli, ia akan bertanya sekenanya Itu yang aku suka darinya Beberapa menit kemudian, mereka tiba di makam ayah Nayara. Gadis itu menyerahkan seikat mawar kemudian mengecup nisan ayahnya lembut, seakan itu tangan renta yang biasa ia cium. “ Nayara kangen ayah. Ayah apa kabar? Baik baik saja kan? Nayara juga baik baik saja.” Ucapnya sedih “ Kak Vendra ada di sini ayah, dia sudah pulang. Lihat, dia bisa menjaga Nayara tadi. Hampir saja Nara celaka, ayah jangan khawatir lagi ya.” Celetuk gadis itu seolah berbicara dengan ayahnya. Usai menyekar, Vendra mengantar Nara pulang. Setibanya di halaman rumah, belum turun dari mobil, mood Nara langsung berubah melihat siapa yang datang. “ Dia tunanganmu?” Tanya Vendra yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Nara. Farzan mendekati mobil Vendra lalu menggedor kacanya agar Nara segera turun. Gadis itu pun ke luar dari mobil, menghadapi tunangan barbarnya dengan wajah masam. “ Kenapa kau tidak mengangkat telefon dariku hah?” Tanyanya dengan wajah angker “ Malas.” Jawab Nara sekenanya “ Hei tidak tahu diri, kau tahu berapa lama aku menunggumu di kampus itu? Dan kau justru pulang dengan laki laki lain? Aku ini tunanganmu! Jadi belajarlah menghargai.” Tunjuk Farzan emosi “ Kenapa sih om bawaannya marah terus. Nih ambil! Aku juga gak butuh ponsel ini!” Nara memberikan tas beserta iPhone ke tangan Farzan. Melihat tangan Nara yang tergores dan tampak pelipisnya lebam, Farzan mengernyit “ Ini kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Dan apa yang kau kenakan ini? Kau mengenakan baju murahan lagi? Apa laki laki itu yang membelikanmu?” “ Ini semua gara gara baju baju mahal dan ponsel yang kau berikan itu. Dengar ya om, aku tidak mau menjadi orang lain. Jadi tolong jangan memberikan apa pun padaku lagi. Aku hampir saja celaka gara gara semua itu.” Jawab Nara “ Kalau kau mengangkat telefonku semua ini tidak akan terjadi.” Farzan masih bisa membela dirinya. “ Eh Om cukup ya! Kemarin tante Bumi marah marah ke rumah gara gara barang barang itu dan sekarang aku hampir celaka.” Wajah cantik Nara memerah Melihat pertengkaran itu, Vendra turun dari mobil “ Siapa kamu?” Tunjuk Farzan berang. “ Putuskan pertunanganmu dengan Nayara sekarang juga!” Deg “ Eh?” Nara tak kalah tertegun. Datang datang bukannya memperkenalkan diri, Vendra justru memancing emosi Farzan. Ia bahkan tidak terlihat takut sedikit pun berhadapan dengan sosok angker itu. “ Apa kamu bilang? Kamu tidak tahu siapa saya hmm?” “ Farzan Adikara, pewaris Adikara Group. Aku tahu, maka dari itu putuskan pertunanganmu dengan Nara sekarang juga!” Senyum Vendra dingin “ Kak, kak Vendra... Aku tidak apa apa... Kakak beneran aku gak apa apa kok. Kak Vendra pulang saja ya.” Bujuk Nara melihat tatapan Farzan yang mulai mengobarkan api. Bukan karena takut akan kemarahan Farzan, Nara takut Vendra yang kenapa kenapa. Tapi, pemuda itu bergeming. Ia tetap menatap Farzan tajam “ Gadis ini berhutang banyak pada keluargaku! Jadi dia harus menuruti apa kemauan kami. Kau tidak berhak ikut campur!” Tunjuk Farzan “ Nara, berapa uang yang dia berikan untuk studimu?” Tanya Vendra “ Du-dua ratus juta kak.” Jawab Nara takut “ Kirimkan nomor rekening anda. Saya akan mengirimkan 2 milyar berikut rumah Nara yang anda tebus.” Senyum Vendra dingin Deg Wajah Farzan semakin memerah “ Apa kau pikir uang sejumlah itu penting bagiku hmm? Simpan saja uangmu dan jangan ikut campur urusan kami berdua.” Farzan merapatkan rahangnya. “ Kalau kurang tinggal bilang, 3,4,5 milyar? Cek atau transfer?” Ujar Vendra justru semakin mengangkat dagunya. “ Kau!” Farzan hendak menghantamkan tinjunya, tapi dengan tangkas Vendra menahan tangannya. Nayara tersenyum senang melihat pembelaan Vendra, ia merasa bebas sekarang. Puas melihat si tengil Farzan memerah menemukan rival yang setara. Wajah tampan Farzan terlihat benar benar berkobar emosi, sebaliknya, Vendra terlihat begitu tenang. “ Nayara, lepaskan cincinmu dan serahkan padanya lalu masuklah ke rumah. Mulai saat ini, kau tidak ada hubungan apa pun dengan Farzan Adikara. Tidak ada yang berhak membeli hidupmu saat ada aku di sini.” Senyum Vendra dingin. Nayara pun menurut, ia melepaskan cincin itu dan meletakkannya ke saku Farzan yang meradang. “ Kau akan menyesal Nara, pemuda ini tidak sebaik yang kau kira.” Tekan Farzan menatap Nara tajam “ Aku mengenal kak Vendra sejak kecil. Yang tidak baik itu kamu om. Syukurlah, aku bisa terlepas darimu berkat kak Vendra. Cari tunangan lain yang umurnya sepantaran ya. Jangan cari ABG, entar dikira paedofil loh. Byee!!” Senyum Nara lebar kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya. Ia benar benar menuruti semua perkataan Vendra “ Jangan macam macam denganku. Aku pastikan kau akan menyesal!” Farzan memalingkan wajahnya kemudian bergegas ke mobil dan melaju kencang. Seperginya Farzan, Vendra mengulas senyum... “ Kau yang akan menyesal Farzan. Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu dengan sangat baik.” Gumamnya dengan tatapan yang sukar diartikan. Ia kemudian melangkah santai menuju rumah Nayara dan masuk tanpa permisi ke dalam. Nara tampak senang melihat Vendra baik baik saja. Gadis itu merasa, mungkin Vendra memiliki perasaan yang sama dengannya, karna itu Vendra mati matian membela dirinya sampai rela mengeluarkan uang sebanyak itu. Mungkin itu juga alasan Vendra kembali setelah bertahun tahun pergi ke luar negeri. Karena ia tidak mau Nara sendirian. “ Kak Vendra, terima kasih ya. Lagi lagi kakak menolongku dari om om penindas itu.” Ucapnya berbinar binar. Vendra mengulas senyum kemudian meletakkan tangannya ke pipi Nara yang langsung merona. Bagaimana tidak, diperlakukan seperti itu oleh pria idaman tentu membuat siapa pun mabuk kepayang. “ Aku tidak akan membiarkan Farzan menekanmu lagi. Selama ada aku, kau akan baik baik saja.” Ujarnya tegas “ Kakak mau teh? Nara buatkan ya.. tunggu sebentar!” Nara segera beranjak pergi, menyembunyikan wajahnya yang merona. Bisa kacau kalau Vendra tahu ia mulai salah tingkah. Di dapur, Nara memegang dadanya, jantungnya seakan terpompa begitu cepat, sampai sampai ia seakan kehilangan napas. Hatinya benar benar berbunga bunga. Sementara itu, Vendra mengulas senyum, tapi bukan senyum manis seperti biasanya, melainkan senyum sinis saat menatap potret ayah Nara di meja. “ Nara berpikir aku kembali karena berduka dengan kepergianmu paman. Dia tidak tahu, bahwa kau sendiri yang dulu mengusirku. Aku hanya bisa kembali saat kau tiada. Harusnya dulu kau mendengarkan penjelasanku, tapi sudahlah, dengan begini aku bisa kembali tanpa menjelaskan apa pun bukan.” Gumamnya dingin Siapa sebenarnya Vendra? Bagaimana sebenarnya watak aslinya? ----***----***----***---- “ Mamaaaa!!!” Teriak Farzan marah saat tiba di rumah megahnya “ Ada apa sayang?” Tanya Bumi menuruni tangga dengan elegannya. “ Ambil ini!!!” Farzan meletakkan cincin Nara ke tangan ibunya “ Ini kan...” Bumi mulai mengulas senyum “ Iya, Nara memutuskan pertunangan kami. Sekarang mama senang?” “ Gadis itu memutuskan pertunangan denganmu? Baguslah, itu artinya dia sadar bahwa dia tidak pantas masuk ke dalam keluarga ini. Kau harusnya merayakan ini. Gadis itu tidak hanya berasal dari kalangan bawah tapi dia juga tidak punya attitude yang baik, tidak tahu balas budi dan tidak tahu terima kasih.” Ujar Bumi berbinar binar “ Terserah mama saja!” Celetuk Farzan kemudian berlari ke lantai atas menuju kamarnya. Meninggalkan Bumi yang tersenyum senang menatap cincin berlian di tangannya. “ Aku harus menelefon Eliana. Hanya dia gadis yang pantas memakai cincin ini. Setidaknya tidak akan mempermalukan keluarga ini.” Gumamnya kemudian bergegas ke kamar. Bumi segera mencari ponselnya dan menghubungi Eliana, tapi... Berkali kali dihubungi, Eliana sama sekali tidak mengangkatnya. “ Tumben, biasanya Eliana segera mengangkat telefon. Ada apa ini? Padahal aku ingin memberikan kabar yang baik.” Gerutu Bumi, kemudian kembali menelefon Eliana. Tapi tetap saja, tidak diangkat “ Ya sudahlah, mungkin dia sedang sibuk. Dia kan bukan pengangguran seperti si Nara itu. Setidaknya aku bisa tidur nyenyak malam ini setelah mendengar kabar gembira ini.” Gumamnya senang hendak meletakkan ponsel. Sebelum... “ Siapa yang coba kau telefon? Kabar bahagia apa?” Tanya suaminya saat ia berbalik. Entah sejak kapan Hendri berdiri di sana “ Bukankah kau ada klien di luar kota, kenapa sudah pulang?” Tanya Bumi mengalihkan topik “ Aku bertanya padamu Bumi, siapa yang coba kau telefon tadi dan ada kabar bahagia apa? Kau terlihat sangat bahagia, aku khawatir kau berbuat macam macam lagi.” Sosok berwibawa itu kemudian duduk di tepi ranjang. Melepaskan dasi yang seakan mencekik leher. Menatap istrinya penuh kecurigaan. Bumi pun duduk di sisinya kemudian membantu Hendri melepaskan jasnya “ Kau tahu sayang, aku sudah membuktikan bahwa pilihanmu salah. Sudah aku katakan bukan, Nayara itu tidak pantas masuk ke dalam keluarga Adikara. Lihat ini, lihat, cincin yang kau belikan untuk gadis kesayanganmu ini dikembalikan dengan tanpa sopan santun. Bukankah ini keterlaluan.” Bumi menyerahkan cincin itu ke tangan suaminya. Hendri pun mengambil cincin itu dengan tangan gemetar dan wajah yang penuh kekecewaan “ Dikasih nyaman, rumah ditebus, Farzan juga membelikan barang barang mewah, cincin ini juga mahal, ini berlian dan usianya sudah cukup tua dan langka. Selain rendahan dia tidak tahu diri. Untunglah dia dan Farzan sudah tidak memiliki hubungan apa apa lagi.” Imbuhnya. Tapi... Hendri justru gemetar, tangan tua itu meraba cincin berlian dengan penuh kasih sayang. Seberkas ingatan terbesit di benaknya “ Aku harus menemui Nara. Cincin ini tidak boleh lepas dari jarinya.” Ujarnya hendak berdiri. Bumi langsung menahan lengan suaminya “ Kenapa sih sayang, kenapa harus dia! Masih banyak gadis yang layak. Sudahlah, jangan rendahkan diri kita demi gadis seperti itu. Lagian juga ayahnya kan sudah meninggal!” “ Hentikan Bumi! Kau mau tahu kenapa harus Nayara hmm? Mau tahu? Akan aku beri tahu! Cincin ini dititipkan Leon padaku! Cincin ini milik ibunya! Milik ibunya!” Teriak Hendri emosi. Tentu saja, sikap Bumi sudah sangat keterlaluan padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN