Preman Suruhan...

1859 Kata
“ Di sini?” Tanya pemuda kemarin mengantar Nayara ke kampus. Gadis itu tidak menjawab, justru memandangi sosok itu lekat dengan tangan di dagu “ Nara!” Suaranya meninggi. Barulah Nayara sadar dari lamunannya. “ I-iya kak, apa?” Tanyanya kikuk, ketahuan mandangin cogan yang begitu, agak malu malu kucing. Bagaimana Nayara tidak meleleh, Sepupunya ini memang ganteng dari lahir, cool sepenuh hati dan pesonanya mengalahkan sihir 7 benua. Siapa yang gak bakal terpesona? Nayara bahkan sudah lama menjadikan Navendra sebagai target calon suaminya kelak. “ Kampusmu di sini?” Tanyanya lagi “ Iya, kakak mau masuk?” Tanya Nara Pemuda itu menggeleng “ Tidak, aku masih ada pekerjaan.” Tolaknya “ Ah baiklah, terima kasih kak Vendra.” Nara pun turun dari mobil mewah itu kemudian melangkah dengan wajah berseri seri ke kampusnya. Paginya diawali dengan yang manis manis, pasti hari ini akan menjadi semanis madu. Gadis itu melangkah sembari mengulas senyum. Hingga... Twing Senyum di wajahnya langsung surut melihat siapa yang berdiri di depan sana sembari melipat tangan di depan d**a. Bagai pagi ketemu malaikat dan langsung berhadapan dengan iblis, mood Nara yang tadinya Happy berubah menjadi Creepy saat melihat Farzan. Entah kenapa, se cool apa pun gaya Farzan dan semenarik apa pun dia, Nara sama sekali tidak tertarik. “ Ini!” Ujarnya tanpa basa basi menyodorkan kotak I-iPhone ke hadapan gadis itu “ Apa ini?” Nara mengernyit “ Ponsel, buta ya?” Celetuk Farzan malas “ Iya tahu om, itu ponsel. Tapi buat apa?” Tanya Nara malas “ Untukmu. Di dalamnya ada nomorku, nomormu juga sudah aku Save. Jadi ambillah!” Perintah Farzan “ Gak mau!” Nara hendak beranjak. Tapi.. Farzan menarik pundaknya dan menyerahkan ponsel itu ke tangannya lalu beranjak pergi begitu saja “ Hei Om!!” Teriak Nara mengejar. Ingin rasanya membanting iPhone itu tapi sayang rasanya. Farzan memang selalu berbuat semaunya. Dia bahkan tidak mendengarkan Nara dan segera melaju dengan mobil sport mewahnya, meninggalkan Nara yang mengumpatnya kesal. Beberapa saat kemudian, gadis itu duduk dan membuka kotak IPhone. Benar saja, isinya IPhone paket lengkap dan model terbaru. Tak lama kemudian, ponsel itu berdering. Nara bergidik membaca layar nama di ponsel itu “ Tunanganku” “ Halo!” Teriaknya kesal “ Tidak pernah memakai ponsel ya? Bicaralah dengan pelan dan sopan. Atau orang akan menganggapmu baru datang dari kampung!” Tegas Farzan. Bahkan di ponsel saja, ia terdengar menyebalkan “ Aku tidak mau ponsel ini! Nanti ibumu datang marah marah ngatain aku matre. Ambil kembali ponselmu. Sampai kapan sih kamu ganggu hidupku terus! Aku gak pernah minta apa apa, kenapa selalu diberi sesuatu. Ambil kembali ponsel ini!” Teriak Nara justru semakin nyaring. Mendengar itu, di sana, Farzan mengulas senyum. Ia mematikan ponselnya, membiarkan Nara mengomel semaunya “ Gadis lucu. Semua orang bahagia diberikan sesuatu. Dia malah tidak suka.” Gumamnya. Di sana, Nara melihat ponsel itu dari segala sisi. “ Jadi ini yang namanya IPhone? Biasa saja! Sama seperti ponsel lainnya. Entah apa yang membuatnya mahal.” Celetuknya kemudian meletakkan ponsel itu kembali ke tempatnya, Nara kemudian kembali melangkah memasuki kelas dan menyelesaikan studi pertamanya hari itu. -----***----***----***------ Beralih ke lain tempat, setibanya Farzan di kantor... “ Di mana Pricilia? Hari ini ada jadwal meeting kan, minta dia ke ruangan saya!” Celetuk Farzan pada salah satu karyawannya. Ia menanyakan sekretaris pribadi yang biasanya selalu on time menjemput dirinya di depan lobi, menyerahkan jadwal dan mengiringinya masuk ke dalam ruang kerja. “ Maaf tuan, tapi ibu Pricilia sudah tidak bekerja di sini lagi.” Jawab karyawan itu. Farzan mengernyit “ Tapi saya tidak menerima surat pengunduran dirinya dan saya juga tidak memecatnya.” “ Maaf tuan, ibu Bumi yang mengeluarkan surat pemindahan kemarin. Ada sekretaris baru yang sudah menggantikan tempat ibu Pricilia. Menurut ibu Bumi, tuan butuh sekretaris yang lebih ahli. Jadi beliau...” “ Stop! Aku akan mengurus ini sendiri.” Potong Farzan dengan wajah geram kemudian melangkah cepat menuju Lift yang akan mengantar ia ke lantai 5 tempat ruangannya berada. Sesampainya di ruangan itu, Farzan langsung merogoh ponsel dan menghubungi ibunya. “ Iya nak?” Tanya Bumi halus “ Mama kenapa memecat Pricilia tanpa seizinku. Bukankah aku sudah bilang jangan ikut campur urusan kantor lagi! Dia sudah bekerja selama 10 tahun di kantor ini. Aku tidak mau dia digantikan tanpa alasan yang jelas!” Tekan Farzan langsung emosi. “ Sayang tenanglah, ibumu ini masih jajaran direksi bukan, ibu juga salah satu pemilik perusahaan itu. Ibu berhak memecat siapa pun, lagi pula Pricilia sudah tua. Dia tidak enak dilihat. Kamu membutuhkan sekretaris yang jauh lebih segar, pintar dan muda. Ibumu ini juga tidak memecat Pricilia, dia ibu pindahkan ke cabang lain dengan jabatan yang lebih tinggi.” Tuturnya menjelaskan Farzan mengambil napas panjang “ Ini untuk terakhir kalinya mama ikut campur. Setelah ini aku tidak mau mendengarkan alasan apa pun.” Tekannya “ Baiklah sayang. Semoga harimu selalu menyenangkan ya.” Tut tut tut Ponsel dimatikan. Farzan langsung meraih telefon kantor dan menghubungi salah satu karyawannya. Meminta agar sekretaris baru pilihan ibunya itu segera menemui dia di ruangannya. Tak lama kemudian... Tok tok tok “ Masuk!!” Teriak Farzan. Dan... Klek Pria itu langsung berdiri dari duduknya melihat siapa yang datang ke ruangannya. Sejauh apa pun ia mencoba menghindari masa lalu, terkadang masa lalu itu yang datang mengejar “ s**t! Kau memanfaatkan mama?” Tunjuk Farzan langsung memerah marah. Bagaimana tidak, Sekretaris baru itu tidak lain adalah Eliana. Sosok cantik nan anggun yang merupakan kenangan terindah dan paling menyakitkan dalam hidupnya. Bagaimana bisa Bumi memasukkan kembali Eliana ke dalam kehidupan putranya? “ Aku tidak memanfaatkan tante Bumi. Kemarin aku datang berkunjung, tante Bumi sedang sangat marah dan stres. Aku hanya menghiburnya dan dia memberikanku kesempatan untuk mendapatkan ampunanmu dengan menjadi sekretarismu. Aku baru tahu, tante Bumi tidak merestui hubungan kalian.” Senyum gadis itu senang. Farzan memalingkan wajah kemudian duduk kembali ke kursi kebesarannya. Mencoba tenang. “ Aku tidak ingin membahas masalah pribadi di sini. Berikan jadwalku hari ini!” Perintahnya “ Farzan, jika tante Bumi tidak menyukai Nayara, kenapa kau memilihnya. Usianya bahkan terlalu muda untukmu.” Eliana mendekat “ Sudah aku bilang kan, aku tidak ingin membahas urusan pribadi di sini. Jika kau masih ingin bekerja, kenapa tidak profesional saja!” Sorot mata Farzan menajam. Tatapan lekat yang begitu Eliana rindukan. Ingin rasanya ia tenggelam di d**a bidang sosok itu, tapi, Farzan bukan orang yang dengan mudah luluh dan memberi maaf. “ Aku akan menunggu sampai hatimu mencair.” Ujar gadis itu seraya menyerahkan jadwal Farzan ke mejanya. Farzan mengidahkan, ia bahkan sibuk melihat kertas kertas itu, menandatanganinya dan sama sekali tidak menatap ke arah Eliana. “ Atur meeting hari ini. Lakukan dengan rapi, aku tidak ingin ada yang terlambat. Karena setelah ini aku akan menjemput Nara ke kampusnya.” Ujar Farzan tanpa menatap Eliana menarik napas panjang kemudian mengangguk dan melangkah ke luar. Bola matanya memerah, melihat perhatian Farzan yang begitu besar untuk Nara. “ Seandainya kau tahu kenapa aku memilih pergi waktu itu. Sangat sulit menjelaskan pada watak keras sepertimu Farzan.” Gumamnya di luar sana Sementara itu, Farzan mengusap rambutnya dan memijit pelipisnya pelan. Ia tidak bisa membohongi diri, Seandainya ini adalah waktu yang sama seperti beberapa tahun yang lalu, sebelum Eliana meninggalkannya, Farzan pasti akan langsung memeluk dan menciumi mantan terindahnya itu. Ia merindukan Eliana, begitu dalam, sedalam kebencian yang terus membayangi. Hari itu, di meeting penting bersama klien baru. Eliana selalu memukau seperti biasanya, ia mampu menjelaskan semuanya, menarik perhatian dengan pesonanya, bahkan dengan mudah berkat Eliana, Klien itu langsung Deal investasi di proyek baru mereka. Sama seperti dulu, Eliana masih bersinar. “ Tuan, saya akui anda memilih sekretaris yang tepat. Nona Eliana tidak hanya cantik, dia begitu pintar dan menarik. Anda hebat, perusahaan anda bisa memperkerjakan talenta berbakat seperti beliau.” Puji klien saat menjabat tangan Farzan yang hanya bisa tersenyum kecut. “ Terima Kasih.” Jawabnya melepas kepergian mereka ke luar dari ruang meeting siang itu. Farzan bergegas merapikan laptopnya kemudian hendak beranjak, sebelum... “ Apa kau merasa bangga padaku?” Eliana menyentuh lengan putih Farzan, berdiri di sisinya begitu dekat, sorot kerinduan terlihat jelas di iris ambernya yang teduh. “ Sudah tugasmu.” Jawab pria itu acuh menarik tangannya kemudian beranjak ke luar, meninggalkan Eliana yang mematung meneteskan air mata. “ Aku masih sangat mencintaimu Farzan.” Gumamnya sedih. 1 jam kemudian... Di sana, Nayara telah usai dengan kelasnya dan hendak beranjak pulang. Sebelum itu, ia berniat mengunjungi makam ayahnya. Langit tampak mendung dan suara gemuruh mulai terdengar pekat. Berkali kali ponselnya berdering, Nara mengabaikan. Ia tidak ingin Farzan mengganggu Moodnya lagi. Gadis itu menyeberang untuk membeli seikat bunga kesukaan ayahnya. Bunga mawar merah yang indah dan cukup mahal. “ Yah, uangku mana cukup buat naik angkot ke pemakaman. Barusan kebeli bunga saja untuk ayah.” Gumamnya saat menyadari ia tidak punya cukup uang untuk menaiki kendaraan umum. Lagi lagi, ponselnya berdering, Farzan kembali menelefonnya. Nara mematikan ponsel pengganggu itu kemudian memutuskan berjalan kaki saja. Baru 20 menit melangkah, rasanya betisnya begitu nyilu. Suasana mulai sepi dan hujan mulai turun rintik rintik. “ Sial, hujan gak pake kompromi.” Decaknya kesal kemudian berteduh di emperan toko. Melihat ada gadis secantik itu sendirian dengan pakaian bermerek, sedikit basah dan tas yang menggiurkan, beberapa pemuda mendekat. “ Sendirian cantik? Boleh kenalan?” Tanya mereka mengganggu. “ Tidak.” Jawab Nara memalingkan wajah dan hendak beranjak. “ Etis tunggu! Mau ke mana! Hujan hujan begini kan dingin. Sini dong temani kita.” Salah satunya menarik lengan Nara kasar “ Lepas gak! Atau saya teriak!” Ancam Nara “ Wah galak juga ya. Bajunya bagus, boleh dong liat liat!” Bahkan mereka berani menyentuh tubuh Nara. Hingga... Plak Sebuah tamparan Nara layangkan ke pipi salah satunya. Membuat emosi mereka bangkit “ Pegang dia!” Teriak pemuda itu emosi. Nara memutuskan melawan dan berlari di tengah hujan. Tapi mereka mampu mengejar dan menarik paksa Nara menepi di sisi jalan. “ Tolong!!!” Teriak gadis itu ketakutan “ Jangan takut cantik, kami hanya mau bersenang senang.” “ Ambil saja tas ini dan isinya! Tapi lepaskan saya!” Nara melemparkan tasnya ke arah mereka yang langsung girang melihat isinya. IPhone terbaru. “ Tapi kita mau lebih dong. Sini!” Mereka bahkan menarik dan memeluk pinggang Nara yang terus berontak “ Wah mawarnya bagus!” “ Jangan ambil mawar itu! Mana!!” Nara mencoba kembali melawan saat mereka hendak mengambil mewah itu dari genggamannya. “ Kalian boleh ambil tas beserta isinya tapi jangan mawar itu!” Pintanya sedih “ Wah sepertinya mawar ini sangat berharga, bagaimana kalau ditukar dengan tubuhmu saja hmm?” Plak Sekali lagi Nara menamparnya. “ Sialan! Gadis ini benar benar perlu diberi pelajaran!” Pemuda yang baru saja ditampar hendak meninju wajah Nara. Sebelum... Deg “ Dia bilang jangan bukan? Apa kalian tuli hah?” Seseorang menahan tangannya di udara kemudian menarik tubuhnya dan memberikan tinjuan keras. Seseorang yang datang bagaikan malaikat dan menghajar mereka satu persatu. Membuat preman preman dadakan itu jera dengan tubuh yang babak belur. Nara menangis mengambil mawar mawarnya yang berserakan di tanah. Sosok itu kemudian menyelimuti tubuhnya dengan jas “ Terima kasih sudah datang menolongku.” Ucap Nara kemudian menangis di pelukannya Terima kasih Siapakah sosok itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN