“ Farzan!!!” Teriak Bumi saat tiba tiba anaknya jatuh tak sadarkan diri usai pulang dari kantor dengan wajah memerah seakan menahan marah.
Sementara itu...
Eliana terduduk pucat di apartemennya. Ia menatap kosong ponsel yang digenggam sejak tiba dari kantor.
“ Aku sangat menginginkan kerja sama ini. Jika ini terjalin, maka Adikara akan berada di puncak kejayaannya.” Ucapan Farzan tadi terngiang ngiang di benak gadis itu
Betapa marahnya Farzan saat kerja sama itu tidak berjalan dengan baik. Maka dengan berat hati, Eliana mencoba mencari tahu nomor tuan Hanum dan menghubunginya. Ia bahkan merendahkan dirinya demi Farzan.
Menerima telefon dari model cantik itu, tentu tuan Hanum sangat bahagia. Ia meminta Eliana menemuinya secara langsung hari itu juga. Eliana menyanggupi permintaan itu kemudian bergegas pergi. Ini semua demi Farzan, Eliana berharap, setelah ini Farzan akan mulai memaafkannya
Berhadapan dengan pria itu membuat Eliana pucat, kenangan kekerasan pada malam sebelumnya membuat gadis itu trauma. Tua Hanum mempersilahkan Eliana duduk pada sofa empuk di sisinya, menatap Eliana dengan tatapan liar.
“ Aku tidak menyangka kau akan menghubungi diriku secepat ini. Apa kau merindukanku sayang?” Tanyanya meletakkan tangan di atas paha Eliana. Eliana mengangkat tangan itu risih
“ Tuan, hubungan ini sebatas pekerjaan semata. Saya minta, tolong tanda tangani kontrak kerja sama itu.” Pinta Eliana merendah. Mendengar hal itu, sosok pria di sisinya tertawa lepas
“ Kenapa? Apa tuan Adikara itu kekasihmu? Kau bahkan rela datang demi membuatnya senang.” Celetuknya memainkan rambut Eliana gemas. Gadis itu diam, tak menjawab, tatapannya masih tertunduk.
“ Saya mohon terima perjanjian itu.” Pintanya lagi
“ Kalau aku menerimanya, apa keuntungan yang aku dapat hmm?” Tuan Hanum semakin mendekat.
Eliana mengambil napas panjang kemudian memberanikan diri menatap sosok itu
“ Jika anda tidak menerimanya, saya akan membongkar kejahatan anda malam itu. Anda telah melecehkan saya.” Ujarnya mencoba mengancam. Lagi lagi sosok itu tertawa renyah, gertakan Eliana seakan tidak berarti baginya. Tentu saja, gertakan itu sudah diprediksi Vendra. Ia bahkan telah merancang jawaban untuk tuan Hanum.
“ Saya tidak main main.” Celetuk Eliana meyakinkan
“ Oh ya? Kalau begitu lakukan saja. Katakan pada semua orang bahwa Eliana telah menjadi korban pelecehan tuan Hanum. Siapa yang akan rugi? Entertain sepertimu bukankah dianggap dekat dengan dunia kupu kupu malam? Menurutmu nama siapa yang akan jatuh? Namamu? Atau aku? Hahaha.” Tawanya
Eliana terdiam, benar, ia yang akan rugi jika melaporkan hal itu. Terlebih, Bumi akan memandangnya hina.
“ Begini saja, datang padaku malam ini di hotel Guardian lantai 6 nomor 204. Layani diriku dan lakukan apa pun yang aku mau. Maka aku akan memikirkan tentang perjanjian itu. Bagaimana?”
Plak
Eliana langsung berdiri dan menampar sosok itu kuat
“ Anda pikir saya ini apa? p*****r? Jika anda berpikir saya serendah itu maka anda salah! Saya tidak akan merendahkan diri saya demi apa pun. Anda mengerti itu!” Tunjuknya dengan wajah marah.
Tuan Hanum terdiam memegang pipinya yang memerah, sorot matanya menajam.
“ Baiklah! Pergi saja! Asal kau tahu. Tanpa Adikara, perusahaan kami sudah di atas angin. Pikirkan hal itu baik baik. Aku akan menunggumu.” Ujarnya. Eliana hanya menatapnya tajam kemudian beranjak pergi dengan amarah yang meluap.
Gadis itu memukul bangku setir mobilnya berkali kali. Wajah cantiknya benar benar diliputi amarah. Ia tidak menyangka, sosok seperti Hanum akan memperlakukannya serendah itu. Eliana tidak mungkin menggadaikan harga dirinya demi hal ini. Tapi...
Tatapannya terarah pada foto dirinya dan Farzan yang sengaja ia pasang di mobil. Foto semasa mereka SMU, kenangan yang indah. Bola mata gadis itu tiba tiba berair, rasa ragu mulai membiak.
Sementara itu, di sana...
Vendra melangkah tegap dari balik ruang rahasianya. Ia menatap mobil Eliana dari jendela kantor. Senyum licik terbentuk di bibir merah pemuda itu.
“ Dia akan menemuimu nanti paman, aku yakin itu.” Ujarnya
“ Dia menamparku dan kau yakin dia akan datang. Gadis itu memiliki harga diri yang lumayan tinggi.” Tuan Hanum menyesap nyeri di sudut bibirnya
“ Kau bisa mengembalikan tamparan itu berkali kali lipat nanti.” Ujarnya melirik tuan Hanum dengan tatapan puas.
“ Kenapa kau sangat membenci gadis itu?”
“ Aku tidak membencinya.”
“ Lalu?”
“ Apa harus ada alasan untuk setiap tindakanku? Tidak bukan? Jadi nikmati saja.” Tutur sosok 20 tahun itu dengan tangan di dalam saku, bahkan memikirkan hal keji, Vendra masih bisa bersikap tenang. Seperti apa sosok Vendra sebenarnya?
Akankah Eliana datang?
----***----***----***----
Beralih ke kediaman Adikara..
“ Dia hanya kelelahan, imun tubuhnya turun akibat terkena hujan. Cukup dirawat intensif maka tuan Farzan akan segera sembuh.” Tutur dokter membuat Bumi mengambil napas panjang. Ia mengantar dokter pribadi keluarganya itu ke luar ruangan. Dan saat kembali, Bumi membawa masuk beberapa pelayan di sisinya.
“ Rawat tuan Farzan dengan baik ya. Aku harus ke luar kota.” Celetuknya enteng. Mendengar hal itu, Nara mengernyit. Bagaimana bisa, seorang ibu berpikiran untuk pergi disaat anak satu satunya sakit?
“ Tante maaf.” Nara langsung memberanikan diri menghadang langkah Bumi yang hendak beranjak.
“ Minggir! Aku tidak ingin melihat wajahmu!” Tukasnya dengan tatapan penuh kebencian
“ Tante, Om eh kak Farzan sedang sakit, apa tidak lebih baik tante di sini saja? Om eh kak Farzan pasti membutuhkan tante di sisinya. Ia akan segera sembuh.” Pinta Eliana. Namun sosok itu justru melipat tangannya di depan d**a dan mengangkat dagunya angkuh
“ Aku ibunya, aku tahu semua hal tentangnya. Kenapa anak kemarin sore sepertimu mengajariku apa yang baik dan tidak? Aku ada arisan penting di luar kota. Farzan sudah dewasa, kau dengar kata dokter tadi? Dia tidak apa apa. Lagi pula, Farzan memang terbiasa begini sejak kecil. Lalu apa aku harus merawatnya? Minggir!” Bumi mendorong Nara menyingkir lalu melangkah ke luar seakan tanpa beban
“ T-tapi tante..” Nara berusaha mengejar, tapi... Salah satu pelayan menahan lengannya
“ Nyonya memang seperti itu. Dia tidak pernah merawat tuan muda saat sakit. Biarkan saja, jika tidak dia akan sangat marah nona.” Tuturnya.
Nayara mengerti, ia kemudian melangkah mendekati ranjang Farzan. Menatap wajah tampannya yang begitu pucat. Suhu tubuh Farzan juga naik.
Pantas saja, sikap Farzan begitu tegas, dingin dan keras. Itu karena ia sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang semasa kecil. Entah kenapa, rasanya begitu miris. Nara duduk di sisinya kemudian mengompres Farzan dengan telaten
“ Kalian bisa buatkan aku bubur sumsum kan? Aku akan merawat Farzan di sini.” Senyumnya tulus. Bahkan Nara lupa, saat Farzan sehat, mungkin Farzan akan kembali menyiksanya.
Hendri mengulas senyum memperhatikan Nara dari pintu. Sikapnya yang lembut saat merawat Farzan, Nara yang tanpa pamrih, Nara yang bahkan lupa mengisi perut saat dengan telaten merawat putranya.
“ Aku tidak perlu khawatir lagi.” Gumamnya senang.
Benar, bahkan hingga larut malam, Nara terus menjaga Farzan, mengganti kompresnya dan lain sebagainya. Ia tidak berangkat ke kampus. Hingga... saat jam berdenting 9 kali...
Bola mata Farzan akhirnya terbuka, ia menatap Nara yang tertidur di kursi sembari menggenggam tangannya. Mungkin gadis itu sangat lelah, sampai sampai matanya tak sanggup terbuka. Farzan mengulas senyum, bola matanya berkaca kaca, untuk pertama kali saat ia sakit ada yang merawatnya dengan tulus. Farzan bahkan mendengar pertengkaran Nara dengan Bumi tadi. Apakah Nara pantas mendapat kebencian darinya.
“ Tuan muda, anda sudah bangun?” Celetuk pelayan saat memasuki ruangan.
“ Sstt ke luarlah!” Pinta Farzan meletakkan telunjuknya di bibir. Pelayan itu pun mengerti kemudian bergegas ke luar. Entah kenapa, genggaman tangan Nara terasa begitu hangat dan tenang. Beberapa menit, Farzan menatap mata Nara yang terpejam. Pria itu kemudian melepaskan genggaman Nara, turun dari tempat tidurnya, dan meraih selimut kemudian mengangkat tubuh Nara ke tempat tidur. Nara bahkan tidak terbangun saat Farzan membopong tubuhnya dan membaringkan gadis itu di ranjang. Ia pun kemudian berbaring di sisi Nara dan tidur di dalam selimut yang sama.
Sementara itu, di lain tempat...
Eliana tampak kalut, ia menatap bayangan wajahnya di cermin. Apa yang harus ia lakukan? Jika ia tidak datang, Farzan akan semakin kecewa dan membenci dirinya. Tapi jika ia datang, maka itu sama saja dengan Eliana menyerahkan diri dan menjadi hina. Beberapa kali ponselnya berdering, Eliana mengabaikan hal itu. Kemarahan Farzan di mobil tadi memenuhi pikirannya.
“ Come on El, ini hanya sekali bukan? Mungkin setelah ini Farzan akan lunak dan memaafkanku.” Gumam Eliana meyakinkan dirinya.
Ia kemudian menghela napas panjang. Ya, itu Cuma sekali bukan? Farzan ataupun Bumi tidak akan tahu. Maka dengan berpikir panjang, Eliana memutuskan untuk mendandani dirinya dan menemui tuan Hanum.
Vendra yang menunggu di mobil tak jauh dari apartemen Eliana mengulas senyum saat melihat Eliana ke luar.
“ Apakah semua kamera sudah terpasang?” Tanyanya melalui telefon kepada seseorang.
“ Ya tuan.”
“ Bagus.” Vendra kemudian mematikan ponselnya dan melaju pergi.
Langkah Eliana gemetar saat menapaki lobi hotel, ia menutupi wajah dengan masker karna walau bagaimanapun Eliana cukup dikenal. Gadis itu bergegas menuju lift dan menuju ruangan yang diminta.
Setibanya di depan ruangan kamar itu, Eliana ragu untuk mengetuk pintu. Haruskah ia kembali?
Apakah ia bisa kembali?
Haruskah Eliana menjual harga dirinya hanya demi kesepakatan?
Bagaimana dengan masa depannya?
“ Tidak! Aku tidak harus melakukan hal ini. Tidak! Ada banyak cara untuk membuat Farzan memaafkanku. Aku tidak harus merendahkan diri. Ya, aku tidak harus melakukan hal ini.” Gumamnya berubah pikiran kemudian hendak berbalik. Sebelum...
Klek
Seseorang membuka pintu, menghentikan langkahnya
“ Jadi kau datang?” Senyum sosok itu yang tak lain adalah tuan Hanum. Eliana menoleh dengan mata berkaca
“ Tidak, aku tidak ingin melakukan hal ini.” Ujarnya hendak beranjak. Tapi tuan Hanum dengan cepat menahan pergelangan tangannya.
“ Saat sudah tiba, kenapa kau ingin pergi. Masuklah! Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu seperti sebelumnya. Aku sudah menyiapkan surat kerja sama itu di meja. Kau bisa melihatnya!” Tunjuk pria itu.
Benar saja, Eliana bisa melihat ada beberapa berkas di meja yang sengaja di letakkan di dekat pintu. Pikirannya kembali berkecamuk
“ Kau hanya perlu menikmati permainan ini, malam ini saja. Setelah itu, aku tidak akan mengungkitnya lagi.” Senyum pria tua itu membujuk. Eliana masih terdiam, ia mematung
“ Bagaimana?”
“ Kau berjanji tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun? Kau tidak akan berbuat kasar?” Tanya Eliana gugup
Tuan Hanum mengangguk pasti
“ Kau hanya perlu menikmati permainan ini. Kenakan baju tidur yang aku siapkan di ranjang dan mulailah bermain denganku.” Pintanya.
Berat memang, Eliana memejamkan mata kemudian menghela napas panjang. Dengan langkah berat, ia memasuki kamar itu. Mencoba berpikir, itu adalah terakhir kalinya ia merendahkan diri. Menjual dirinya demi Farzan, apakah hal itu merupakan dosa? Tentu, tapi Eliana terpaksa menikmati dosa ini hanya demi sebuah harapan “ Ampunan dari Farzan “
Air matanya meleleh melihat gaun tidur transparan berwarna merah menyala yang tergeletak di atas ranjang. Harga dirinya benar benar telah hilang.
Sementara di lain ruangan...
“ Apa kamera sudah siap?” Tanya Vendra yang baru tiba kepada beberapa pria yang tampak telah menunggunya di sana dengan komputer di depan mereka.
“ Iya tuan. Ini akan menjadi karya yang sangat mahal. Bagaimana bisa anda membuat bintang ternama seperti Eliana menjadi tokoh utama dalam adegan seperti ini?” Tanya salah satunya kagum
Vendra hanya menjawabnya dengan senyum tipis
“ Karena aku ingin mengatur takdir seseorang.” Ujarnya penuh arti