Pangeran Petaka...

1892 Kata
Pagi itu, Hendri mencoba mengetuk pintu kamar putranya, mengecek kondisi apakah Farzan sudah baik baik saja. Tapi sepertinya tidak ada jawaban. Pria itu kemudian mengetuk lebih keras. Hingga ... Perlahan kelopak mata Nayara terbuka, entah kenapa rasanya begitu nyaman. Tubuhnya hangat dan ia memeluk guling yang tepat hingga rasanya ia ingin kembali tertidur. Sebelum... Kok gulingnya padat dan kotak kotak? Nayara meraba guling itu semakin ke bawah, hingga... “ Huaaa!!” Ia berteriak kaget. Terlonjak bagaimana bisa ia berada di atas tempat tidur, memeluk dan bahkan meraba raba tubuh Farzan yang hanya menatapnya tanpa ekspresi? Wajah Nara yang tadinya mengantuk langsung berbinar, pipinya memerah menahan malu. Apa tadi yang ia pegang?? “ Om kok aku di sini sih hah? Kenapa juga tadi meluk meluk? Jangan cari kesempatan! Apa yang semalam kau lakukan padaku? Kau meletakkan sesuatu di minumanku makanya aku tidak sadar? Ngaku deh om!” Teriaknya histeris Farzan yang entah sejak kapan membuka mata hanya menghela napas dalam. Ia bahkan terlihat terlalu tenang menghadapi Nayara yang overthinking “ Jawab Om!!!” Teriak Nara melengking “ Siapa yang memeluk. Kaulah yang memelukku tadi. Kau bahkan meraba raba tubuhku.” Celetuk Farzan duduk di atas ranjang. Wajahnya saat pagi hari benar benar terlihat makin cute saja. “ Gak pokoknya aku butuh penjelasan. Apa saja yang kau lakukan semalam? Kenapa aku berada di sini hah? Jangan... Jangan...” Bola mata Nara memerah. Gadis itu benar benar terlihat cute. Ia langsung beranjak turun dari ranjang dan memeriksa semuanya, mulai dari baju, bahkan bagian dalam yang masih lengkap. Nara bahkan memeriksa seprei dan selimut yang ia kenakan. Farzan ingin sekali tersenyum melihat tingkah istrinya yang konyol itu. “ Kau bertindak seolah olah kau masih Virgin saja.” Celetuknya kemudian turun dari ranjang Mendengar itu, Nara berkacak pinggang. “ Heh Om jangan mentang mentang aku ini gadis miskin dikira gampangan ya. Aku memang masih Virgin, jadi jangan macam macam. Kalau sampai kau macam macam aku akan mengadukanmu pada perlindungan wanita!” Tunjuk Nara menggemaskan. Farzan mengangkat sebelah alisnya “ Atas tuduhan apa?” Tanyanya. Nara terdiam, ia berpikir sejenak. Iya juga sih, tuduhan apa? Suami memperkosa istri begitu? Lucu dong. “ Ah sudahlah! Aku mau ke kampus. Nanti terlambat!” Gadis itu langsung gibrit ke kamar mandi usai meraih cepat pakaiannya di lemari. Nayara memegang jantungnya yang seakan berdebar lebih kencang. Ia menatap tangannya yang tadi meraba raba tubuh Farzan “ Dasar tangan memalukan! Aku jadi tidak punya muka di depan om itu kan.” Gerutunya kesal. Bahkan sampai sarapan pun, Nara menundukkan wajah. “ Om bisa antar aku gak? Hari ini aku ada kelas pagi.” Tanyanya memberanikan diri. Belum sempat Farzan menjawab, tiba tiba ponselnya berdering. “ Halo, tuan... Ada kabar gembira. PT. Adelard telah menandatangani kontrak kerja sama dengan kita melalui nona Eliana. Perusahaan kita akan sangat diuntungkan.” Kletak Farzan langsung meletakkan sendok di tangannya. Wajahnya langsung berbinar mendengar kabar itu. Ia bahkan belum menjawab pertanyaan Nara. “ Ayah aku ke kantor dulu.” Ujarnya kemudian langsung bergegas pergi. Nara mengembungkan pipinya kesal. Benar saja, di sana... Eliana hanya bisa menangis menggulung dirinya dalam selimut. Rasanya ia begitu marah, begitu benci pada dirinya sendiri, ia merasa jijik telah memenuhi keinginan b***t pria tua yang tampak senang usai membawa lembaran kertas kontrak di tangannya. Tuan Hanum melemparkan kertas itu ke wajah Eliana lalu duduk di hadapannya “ Ini adalah kontrak yang kau mau. Bawa ini pada Farzan Adikara, katakan padanya PT. Adelard sudah setuju.” Senyumnya senang. Eliana bahkan tidak berani mengangkat wajah. Ia hanya bisa memejamkan matanya sedih lalu meraih kertas kertas itu dengan perasaan terhina. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Tertera nama Farzan di sana. Raut sedih Eliana langsung berubah, ia mengulas senyum walaupun penuh beban. Akhirnya, untuk pertama kali setelah bertahun tahun, Farzan menelefonnya. “ Angkat saja! Aku akan ke luar dari hotel ini lebih dulu. Sampai bertemu di meeting berikutnya.” Tutur pria tua itu kemudian merapikan dirinya dan beranjak pergi. Eliana mengatur napas, ia mengangkat telefon itu dengan jantung berdebar “ Ha-halo.” “ Eliana, aku menuju kantor sekarang. Aku ingin kau segera datang.” Pinta Farzan. Terdengar jelas ia begitu bahagia. Eliana bisa merasakan hal itu. “ Aku akan segera datang.” Ujarnya dengan suara gemetar. Tentu saja, Eliana begitu bahagia. Gadis itu bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap menemui pujaan hatinya dengan dandanan secantik mungkin. Baru saja ia hendak bergegas... Tiba tiba... Drrrttt drrrrtttt Ponselnya kembali berdering. Keningnya mengernyit melihat nama Mom yang tertera di layar. Ada apa? Kenapa mamanya menelefon? “ Halo ibu.” “ El kapan kau pulang ke Australia? Aiden terus menanyakan dirimu.” Deg Bola matanya seketika memanas. Ya, selama beberapa waktu di sana, Eliana bahkan tidak sempat memberikan kabar apa pun. Terutama pada Aiden Siapakah Aiden? “ Apakah dia baik baik saja Bu?” Tanya Eliana berkaca kaca “ Ya, dia baik baik saja. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau baik baik saja? Suaramu terdengar penuh tekanan.” Tanya ibunya menyadari “ Aku baik baik saja bu.” Jawab Eliana berdalih “ Lalu apa kau sudah berbicara dengan Farzan?” Tanya ibunya lagi. Eliana mencoba mengambil napas berat “ Belum. Ini belum saat yang tepat, dia masih sangat marah.” Tuturnya Ibunya terdengar menghela napas “ Ibu berharap kau segera berbicara dengannya. Aiden terus menanyakan dirimu, Farzan harus tahu yang sebenarnya. Katakan itu secepatnya atau dia akan menemukan wanita lain yang akan menjadi pendamping hidupnya. Kau dengar itu Eliana?” Suara ibunya terdengar tegas Eliana mengangguk berat, berusaha menyeka air mata yang terus mendesak turun “ Ibu aku harus ke kantor. Jaga Aiden baik baik, aku sayang kalian.” Ujarnya kemudian mematikan ponsel. Eliana membuka galeri ponselnya, menatap foto anak kecil berusia sekitar 7 tahun di sana. Anak yang begitu mirip dengan dirinya. Air matanya tidak tahan untuk mengalir, dirabanya foto anak itu penuh kasih sayang. “ Maafkan mama sayang. Mama terpaksa meninggalkanmu untuk sementara.” Gumamnya sedih Ya, Aiden adalah anak Eliana, anak yang ia lahirkan 7 tahun yang lalu di Australia. Lalu apakah Aiden memiliki hubungan dengan Farzan? Atau justru Farzan adalah ayah kandungnya? Hanya waktu yang bisa menjawab Yang jelas, Eliana tidak seperti yang terlihat. Ia sangat penyayang, perjuangannya selama ini sendirian tidak ada yang tahu. Rasa sakit ia tahan seorang diri, tanpa mengeluh, menghilang dibalik gelap berharap agar bayangan gelapnya tidak akan menaungi Farzan. Eliana hanya bisa menangis sesak. ----***---***---***---- Sudah hampir 20 menit Nayara menunggu angkot di sisi jalan. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat sebuah mobil mendekat. Lamborgini merah yang tak lain adalah mirik Vendra. Benar saja, sosok bak dewa asmara itu berhenti melaju di hadapan Nara. “ Kau menunggu angkot? Naik! Aku akan mengantarmu ke kampus!” Ajaknya. Nara langsung memasuki mobil itu tanpa gengsi dan melaju bersama sepupunya menyusuri padatnya jalanan kota. “ Bagaimana kabarmu bersama keluarga itu?” Tanya Vendra memulai percakapan “ Kak Vendra tahu?” Nara menatap cogan di dekatnya dengan mata membulat. Vendra hanya mengulas senyum “ Cincinmu.” Ujarnya. Benar juga, Nara mengenakan cincin pernikahan dengan Farzan “ Maafkan aku kak, aku tidak memberi tahumu. Aku takut akan mengecewakan dirimu.” Tuturnya sedih “ Mengecewakan?” Vendra mengernyit “ Iya, tapi ini hanya pernikahan sementara. Ya, semacam timbal balik karna kondisi paman Hendri tengah drop. Sebagai balasannya, Om Farzan akan membatu mencari tahu tentang masa lalu ayah dan ibu. Kakak tahu? Ternyata ayah dulunya sangat kaya.” Tutur Nara Deg Vendra menghentikan laju mobilnya. Ia menatap wajah Nara lekat, seakan kata kata Nara mengganggu pikirannya “ Kakak tahu sesuatu?” Tanya Nara curiga Namun... Vendra justru memegang sudut bibir Nara dan mengernyit, membuat jantung gadis itu deg deg ser. Bagaimanapun Vendra adalah sosok yang kagumi sejak kecil. “ Kau terluka? Kenapa?” Tanyanya seakan mengalihkan pembahasan “ Oh ini, a-aku.. itu kak.. sebenarnya. Aku...” “ Kurang ajar! Farzan berani memukulmu?” Tebak Vendra. Raut wajahnya berubah memerah Nara hanya bisa menundukkan wajah tak menjawab “ Aku akan membuat perhitungan dengannya.” Tutur Vendra kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Nara mengulas senyum melihat kemarahan di wajah tampan Vendra, itu artinya Vendra memang benar benar peduli padanya. Nara semakin yakin, Vendra menyukai dia. Vendra sempat berhenti di apotek, membeli semacam salep dan mengoleskannya di bibir Nara. “ Kak.” “ Hmm?” “ Apa aku begitu berarti untukmu?” Pertanyaan Nara saat Vendra mengoleskan cream itu membuat pemuda itu mengangkat wajah menatapnya. Wajah mereka begitu dekat, seolah Nara bisa merasakan hembusan napas idamannya itu. Vendra mengulas senyum yang selalu sukses membuat jantungnya maraton “ Apa aku harus menjawabnya?” Tanyanya s*****l. Nara mengangguk menggigit bibirnya Pemuda itu mendekat, memegang dagu Nara kemudian... Deg Nara kehabisan kata kata, seluruh tubuhnya gemetar, ia memejamkan mata, bahkan gadis itu seakan bisa merasakan seluruh aliran darah dalam tubuhnya memanas. Saat... Vendra mengecup pipinya lembut. Mimpinya selama ini seakan menjadi kenyataan. Vendra mengulas senyum membiarkan Nara membelai wajahnya, hidung mancungnya, “ Kak, ini nyata kan?” Tanyanya sekali lagi. Sosok di depannya itu hanya mengulas senyum kemudian mengangguk pelan. “ Aku akan selalu melindungimu.” Tutur Vendra. Perbuatan Vendra membuat Nara melayang tinggi. Bahkan saat tiba di kampus, gadis itu tiada henti memegang pipinya yang merona. Bekas ciuman tadi seakan masih membekas. Vendra adalah impian Nara sejak kecil, pangeran idaman dan pujaan hatinya. Sejak dulu, Nara hanya bisa menatap Vendra dari jauh, merasa tidak pantas untuk mendekat. Sekalipun keluarga, Vendra begitu berbeda dengan dirinya. Ia sangat populer dan banyak diidolakan sejak dulu, bagaimana gadis sesederhana Nara bisa mendekat? Jika yang mengelilingi Vendra justru mereka yang terlihat sempurna? Tapi apakah Vendra memang benar benar menyukainya? Usai mengantar Nara ke kampus, tatapan sosok itu berubah tajam. Ia mengingat seberkas kenangan di masa lalu.... “ Pergi dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Kau dan ayahmu, menghilanglah dari kota ini!” Tekan ayah Nara begitu marahnya siang itu. “ Jangan mendekati Nara dan jangan membayangi dirinya. Pergi! Dasar gila! Jangan pernah menampakkan dirimu di hadapanku atau putriku! Menjauh!” Vendra mengulas senyum mengingat semua kenangan itu. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang. “ Putrimu menyukaiku paman. Bagaimana bisa aku melepaskannya?” Gumamnya dengan sorot mata menajam. Sosok misterius itu kemudian merogoh ponselnya dan menghubungi nomor tuan Hanum. “ Paman, atur pertemuan dengan Farzan secepatnya. Aku ingin memberikan kejutan pada mereka. Sudah saatnya aku muncul bukan?” Perintahnya “ Kau yakin?” Tanya tuan Hanum “ Ya, aku sangat yakin. Sudah terlalu lama aku bersembunyi.” Celetuknya “ Baik.” Ponsel itu pun di tutup Ya, sudah saatnya aku muncul. Di lain tempat, Eliana menghentikan laju mobilnya. Ia bergegas memasuki kantor, berjalan cepat menuju lift. Rasanya tak sabar ingin bertemu dengan Farzan dan mengatakan semuanya. Setibanya di ruangan Farzan, Eliana mengetuk pintu “ Masuk!” Teriak suara dari dalam. Dengan senyum lebar, Eliana membuka pintu. Benar saja, Farzan langsung menyambutnya dengan senyum. Pria itu kemudian memeluk Eliana penuh kegembiraan “ Terima kasih.” Tuturnya Eliana hampir menangis menerima pelukan yang sangat ia rindukan itu. Akhirnya, setelah bertahun tahun... Ia bisa merasakan pelukan itu kembali. “ Farzan... Ada yang ingin aku sampaikan.” Tuturnya dengan wajah memerah. “ Apa?” Farzan mengernyit “ Alasan kenapa a....” Belum sempat Eliana menyampaikan kata katanya... Tiba tiba ponsel Farzan berdering. Pria itu langsung mengangkat telefon saat melihat nama yang tertera di layarnya. “ Kita bicarakan nanti, tuan Hanum ingin bertemu dengan kita di Cafe Alfa. Ayo!” Ajak Farzan. Deg Dia mengajak bertemu? Tapi... Kenapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN