Waktu berlalu begitu cepat
Bagai tangan kanan tuhan yang tak bisa dilerai...
Tak ada kematian atau kehidupan yang bisa melawan...
Karena hanya waktu... Yang mampu menjadi harap juga lekang
Takdir yang tergenggam di tangan, ya, setidaknya aku bisa memiliki itu.
Eliana begitu senang melihat wajah Farzan yang tampak berseri pagi itu. Sama seperti Farzannya di masa lalu.
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di Cafe itu. Melangkah cepat menuju kursi yang telah di tuju. Tampak tuan Hanum menunggu mereka di sana. Eliana berusaha bersikap tenang, benar saja, sosok itu bersikap seolah olah tidak ada apa pun yang terjadi diantara mereka berdua.
“ Selamat siang tuan Farzan. Senang bisa menjumpai anda di sini.” Ujar sosok itu menjabat tangan Farzan kemudian kembali duduk di kursinya. Farzan dan Eliana pun duduk di meja yang sama.
“ Saya sangat bahagia mendengar anda menyetujui perjanjian ini. Apa ada yang perlu kita sepakati?” Tanya Farzan
“ Tentu, sekretaris anda sangat berbakat. Bagaimana saya bisa menolak tawarannya.” Ujar tuan Hanum memuji. Tentu saja dalam arti lain
Farzan mengulas senyum ke arah Eliana. Gadis itu pun tersenyum senang.
Ya, kenapa ia harus takut? Bukankah itu rahasia..
“ Terima kasih.” Ujar Farzan pada tuan Hanum
“ Tidak tuan, jangan berterima kasih pada saya. Semua ini adalah atas persetujuan keponakan saja. CEO dari perusahaan kami sekaligus pemilik saham terbesar.” Tutur sosok itu. Eliana mengernyit, ada sosok lain yang lebih berkuasa?
“ CEO? Saya kira anda adalah pemilik perusahaan itu?” Farzan juga terdengar kaget
Mendengar itu, tuan Hanum mengulas senyum, menyesap teh yang ada di hadapannya
“ Saya hanya ajudan tuan, saya diperintah untuk menangani segala hal oleh CEO kami. Dia ingin bertemu dengan anda untuk menangani kontrak itu langsung.” Tutur tuan Hanum
Sebaliknya, Eliana mulai meremas roknya, wajahnya terlihat marah. Itu artinya, ia dimanfaatkan? Hanya oleh ajudan? Lalu siapa sosok dibalik semua ini? Siapa?
“ Sebentar lagi tuan kami akan tiba di sini. Anda pasti akan senang bertemu dengannya.” Imbuh pria tua itu melirik ke arah Eliana yang sudah semerah kepiting rebus.
Benar saja, tak lama kemudian...
Tap tap tap
Seseorang mendekat
“ Itu dia!” Tutur tuan Hanum berdiri. Farzan pun mengulas senyum kemudian berdiri dari duduknya, menoleh. Dan ..
Deg
Senyum di bibirnya seketika surut, melihat siapa yang melangkah tegap dengan setelan kantor yang memikat, senyum di bibirnya adalah senyum paling menyebalkan di dunia bagi Farzan. Ya, sosok itu tak lain adalah “ Vendra “
“ Kau!” Rahang Farzan mengeras.
“ Hai.” Senyum Vendra tenang
“ Ven-dra?” Eliana gemetar
“ Kenapa kau berada di sini hmm?” Tanya Farzan tak suka
“ Ya, dia adalah tuan Navendra Adelard. Pemilik sekaligus CEO perusahaan Adelard.” Senyum tuan Hanum memperkenalkan
“ Navendra Adelard?” Farzan menatap Vendra tajam. Tatapan yang sama dengan waktu itu, waktu mereka bertemu dan bertengkar karena Nayara
Hari ini...
Dendam yang sudah lama terkubur akan membuai
Karma yang tak pernah mampir akan mulai mengintai..
Ya, hari ini, semuanya akan dimulai..
“ Senang bertemu denganmu lagi tuan Farzan Adikara dan Eliana. Sepertinya kalian kaget melihatku di sini, apa ini terlalu mengejutkan?” Vendra mengulurkan tangannya. Namun tatapannya benar benar terlihat dingin dan penuh misteri
“ Anda tidak mau menjabat tangan saya? Tuan Farzan Adikara?” Tanya Vendra
Dengan berat, Farzan menerima uluran tangan itu. Dia harus bersikap profesional demi pekerjaan.
“ A-aku mau ke toilet!” Eliana langsung berlari
Terlihat jelas, ada sesuatu yang coba ia sembunyikan.
Farzan menghela napas panjang. Ia sangat terkejut, diantara jutaan manusia, kenapa harus Vendra? Farzan tidak menyukai sosok itu.
“ Paman, mana berkas yang harus saya tanda tangani?” Tanya Vendra yang kemudian duduk di sisi tuan Hanum.
“ Bagaimana bisa? Perusahaan Adelard dikuasai oleh sosok yang masih muda dan cukup labil seperti anda.” Celetuk Farzan menyindir, masih dengan nada tak suka
Mendengar itu, Vendra mengulas senyum
“ Kenapa tidak? Perusahaan ini memang sebelumnya dihandle oleh paman saya. Tapi itu selama saya diam di Australia. Saat saya kembali, saya yang harus memegang kendali. Oh ya, dan sekretaris tadi... Aku sangat mengenalnya di kampus.” Senyum Vendra
“ Eliana?” Tanya Farzan
Vendra mengangguk pelan
“ Saya mengenalnya sejak awal masuk kuliah dulu. Dia berbakat, sayang sekali, ia harus cuti selama beberapa tahun dari kampus karena sebuah kasus!” Senyum Vendra penuh maksud
“ Kasus apa?” Tanya Farzan mengernyit
“ Aah jadi anda belum tahu? Saya pikir sosok Farzan akan mengetahui segalanya. Sebaiknya anda menanyakan sendiri pada Eliana, kasus apa yang membuatnya harus cuti dari pendidikan.” Senyum Vendra kemudian merogoh ponselnya. Membuat Farzan berpikir
“ Dan saya harap, hal pribadi tidak akan mengganggu kerja sama ini. Sekretaris anda bahkan rela melakukan segala hal untuk mendapatkan kontrak ini. Cukup menakjubkan, jika saya tidak tahu anda adalah suami Nayara, saya akan menyangka ada hubungan lain diantara kalian berdua.” Vendra berbalik menyindir dengan tatapan tajam.
“ Apa yang Eliana lakukan?” Tanya Farzan curiga
Vendra mendekatkan wajahnya ke hadapan Farzan, ia kemudian tersenyum, senyum yang menyebalkan
“ Ini rahasia. Eliana tidak akan suka jika anda mengetahuinya.” Jawabnya membuat Farzan mengepalkan jarinya.
“ Ah ya tuan Farzan, saya ingin ke toilet sebentar. Paman, tolong urus sisanya ya.” Vendra kemudian berdiri, melangkah tegap menuju toilet.
----***----***----***----
Di sana, Eliana menangis sesak, rasanya seluruh dunianya hancur. Apakah hidup dan harga dirinya sedang dipermainkan? Jauh dalam sedihnya...
Drrrttt drtttt
Ponselnya bergetar, ada pesan yang masuk
Ia segera merogoh ponsel itu dan membuka whatsappnya.
Kletak
Ponsel yang ia genggam langsung jatuh ke lantai
Bagaimana tidak, saat ia membuka w******p, seseorang mengiriminya sebuah gambar video singkat. Video syur tentang dirinya dan tuan Hanum
“ Ke luar dari toilet sekarang!” Perintah sang pengirim di pesan berikutnya.
Dengan tangan gemetar, Eliana meraih ponselnya, merapikan diri dan ke luar dari dalam toilet. Ia tidak begitu kaget saat melihat Vendra tersenyum dengan tangan dilipat di depan d**a. Eliana hampir saja menampar Vendra, tapi... Dengan cepat pemuda itu menahan lengannya lalu menghempasnya kasar.
“ Apa maumu sebenarnya hah? Apa salahku padamu? Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa?” Teriak Eliana marah
“ SSSHH atau semua orang bisa mendengarmu. Kau lihat? Video itu bagus bukan? Kau seperti pemain yang berbakat!” Senyum Vendra dingin. Eliana menatapnya tajam
“ Apa yang kau mau? Apa Vendra? Apa ini karena aku menolak cintamu hmm?” Eliana menangis sesak
“ Kenapa kau menghancurkan hidupku?” Imbuhnya
“ Kau mau tahu? Aku tidak pernah benar benar menyukaimu Elena. Jika kau memang benar benar ingin tahu jawabannya, itu karena kau adalah orang yang disukai Farzan. Mulai sekarang kau harus melakukan apa yang ku mau. Jika tidak, kau akan tahu akibatnya.” Ancam pemuda itu dengan suara lembut
“ Jangan! Jangan sebarkan video itu! Ada apa denganmu Vendra? Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa?” Eliana menangis sesak
“ Kau paling tahu betapa menderitanya aku selama ini bukan? Kenapa kau melakukan semua ini? Apa semua yang terjadi adalah perbuatanmu? Preman itu? Si tua bangka itu? Apa itu semua kamu yang melakukan?” Tanya Eliana menarik kemeja Vendra marah
“ Jika memang iya, kau bisa apa?” Hanya jawaban itu yang diberikan Vendra. Tanpa ada alasan yang tepat
“ Tapi kenapa?”
“ Ke luarlah dan bersikap baik baik saja, jangan mengatakan apapun tentang Aiden. Jika Farzan sampai curiga, aku akan memberikan video itu padanya!” Tutur pemuda itu kemudian berbalik dan melangkah pergi begitu saja. Meninggalkan Eliana yang masih terguncang dengan kebingungannya.
Kenapa? Kenapa Vendra berbuat sejauh ini? Padahal selama di Australia, Vendra adalah orang yang paling dekat dan baik padanya. Pemuda itu seperti memiliki kepribadian yang tak bisa ditebak
Ia bisa menjadi sangat baik, bisa juga bertindak tanpa perasaan. Tapi apa yang membuat Vendra begitu membenci Farzan? Bukankah mereka tidak saling mengenal?
Ya, apa yang membuatnya begitu membenci Farzan?
“ Maaf Farzan, sepertinya saya harus segera pergi. Ada hal penting yang harus diselesaikan. Sampaikan salam saya pada Nayara, saya tidak ingin melihat dia terluka lagi.” Ujar Vendra menyindir seraya mengulurkan tangannya pada Farzan yang menjabatnya malas. Sudah jelas, itu karna Vendra melihat Nara terluka terakhir kalinya.
“ Tapi itu bukan urusanmu kan? Bukankah kau bilang jangan mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan?” Farzan membalikkan kata kata
“ Tapi, jika ini tentang Nara, saya tidak akan mentolelir apa pun. Apa anda mengerti?”
“ Kenapa? Apa dia sangat berharga?” Farzan menatapnya tajam
“ Ya, dia jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Semoga anda mengerti.” Vendra masih berusaha mengulas senyum kemudian berbalik dan melangkah pergi diikuti tuan Hanum di sisinya.
Seperginya Vendra, Eliana melangkah ke sana dengan wajah tertunduk
“ Kenapa lama sekali? Apa yang kau lakukan di dalam?” Tanya Farzan curiga. Apalagi saat melihat kelopak mata Eliana sembab
“ A- aku hanya merasa tidak enak badan.” Jawab gadis itu dusta.
“ Bukankah kau tadi ingin mengatakan sesuatu? Apa itu?”
“ Tidak, aku lupa! Tidak ada yang ingin aku sampaikan. Sebaiknya kita segera kembali. Ada meeting lain yang menunggumu.” Eliana berdalih kemudian mengawali langkah, menghindari pertanyaan Farzan berikutnya
Maafkan mama Aiden...
Mama harus merahasiakan tentangmu, demi masa depan kita
Maafkan mama...
Apa sebenarnya yang disembunyikan Eliana?
----***----***----***----
Beralih ke kampus Nayara...
Gadis itu tampak ke luar menuju gerbang, semua kelas sudah selesai, ini waktunya makan siang dan pulang. Ia melirik arloji
“ Masih ada banyak waktu, apa sebaiknya aku berkunjung ke makam ayah. Ya, aku sangat merindukannya.” Gumamnya kemudian bergegas mencari angkot
Tapi, baru saja ia memanggil angkot, seseorang tersenyum melangkah ke arahnya
Itu gadis yang sebelumnya mencari gara gara,
“ Hai, aku Adinda. Masih ingat?” Sapanya dengan tatapan menyindir.
Nara hanya mengangguk tak menatap, ia merasa jengkel hanya dengan melihat wajah gadis songong itu.
“ Bukankah katanya kau tunangan Farzan Adikara? Lalu apakah sudah putus? Kenapa malah naik angkot? Ops! Orang kaya ada ya yang naik angkot?” Senyumnya menyindir. Nara menatap gadis itu tajam
“ Kenapa kau tidak mengurus hidupmu sendiri? Suka banget ya mengurusi hidup orang? Apa hidupmu sendiri gak bahagia.” Nara melawan sindirannya
“ Kau.”
“ Kenapa? Marah? Makanya jangan suka kepo! Mau aku naik angkot atau naik kuda apa urusanmu!” Nara mengangkat dagunya.
Tapi...
Adinda tiba tiba terdiam, tatapannya seakan berbinar binar, ekspresinya berubah.. seolah olah ada malaikat yang ia lihat di belakang Nara.
“ Ganteng banget!” Serunya membuat Nara mengernyit. Ganteng? Siapa?
Nayara pun menoleh, ia mengambil napas panjang. Pantas saja Adinda terpukau. Vendra tampak tersenyum dengan tampannya di sana, melambaikan tangan dan mendekati Nayara
“ Kak Vendra di sini?” Nara terlihat senang
“ Ya, aku ingin menjemputmu. Makan siang yuk!” Ajaknya
Beberapa detik, pemuda itu melirik ke arah Adinda yang masih terpaku
“ Dia temanmu?” Tanyanya Vendra
“ Bu...”
“ Iya, namaku Adinda. Aku teman baik Nayara di kampus ini. Salam kenal.” Dengan ganjennya Adinda mengulurkan tangan
“ Navendra. Senang mengenalmu.” Vendra mengulurkan tangannya manis. Membuat gadis itu semakin berbinar binar
“ Kau apanya Nayara?” Tanyanya penasaran
“ Keluarganya.” Jawab Vendra ramah
“ Syukurlah.”
“ Kenapa?”
“ Ah tidak apa apa, aku akan menjaga Nayara selama di kampus ini. Kau jangan khawatir ya.” Tutur Adinda
“ Cih dasar bunglon! Ayo kak, aku lapar!” Ajak Nayara menggandeng lengan Vendra.
“ Dadaaa kak Navendraaaa!!” Teriak Adinda melambaikan tangan
Vendra memang sangat memesona
Ia bisa terlihat seperti malaikat dan terkadang bisa menjadi iblis.
Nayara menatap wajah itu senang, ia begitu tenang saat berada di sisi Vendra. Rasanya begitu bangga memiliki seseorang seperti dia
Sebaliknya, Vendra menatap Nara getir..
Tidak ada yang bisa menebak apa yang ia pikirkan. Vendra hanya bisa memegang tangan Nara erat dan berkata
“ Aku akan menjagamu.”