“ Kenapa kamu bersikeras ingin pulang? Padahal paman sudah siapkan kamar di rumah.”
Nara menghela napas kemudian membuka pintu mobil setelah mencium tangan ayah calon mertuanya
“ Nara ingin di rumah sendiri saja paman. Lagi pula Nara dan Om itu kan masih bertunangan, bukan menikah. Jadi tidak baik tinggal serumah. Nara juga mau mengurus pendaftaran kuliah.” Jawab Nayara dengan sopan
Mendengar itu, Hendri mengulas senyum
“ Farzan sudah mengirimkan uang ke rekeningmu. Mendaftarlah di tempat yang bagus. Belajar yang rajin, buat ayahmu bangga.”
Nara mengangguk pelan kemudian melangkah ke luar, melambaikan tangan dan menuju ke rumahnya. Beberapa saat kemudian, mobil itu pun melaju pergi.
“ Huft Drama lagi. Demi bisa sekolah begini amat ya nasibku.” Celetuk Nara hendak berbalik, sebelum...
“ Hai.”
“ Astaga!” Kagetnya mengelus d**a saat membuka pintu dan mendapati tunangan menyebalkannya tengah duduk di ruang tamu. Sejak kapan Farzan ada di sana? Bukankah tadi ia masih terlihat sangat sibuk di acara bersama teman temannya?
Apakah sosok ini punya ilmu membelah diri?
“ Ikut aku!” Ujarnya berdiri dan dengan gampangnya memegang lengan Nayara. Tentu saja gadis itu langsung menepis ajakannya
“ Ikut? Ke mana? Aku lelah om, aku mau tidur!” Tolaknya hendak beranjak. Tapi... “ Macet?”
Tentu saja, Nara tidak bisa menggerakkan kakinya saat Farzan menahan pundaknya.
“ Om lepaskan gak? Atau teriak nih!” Ancam gadis itu mulai kesal.
“ Ikut!” Tekan Farzan menyeramkan
“ Enggak! Lagian tadi kan kamu di rumahmu, sama teman temanmu. Apa jangan jangan punya kagebunsin, makanya ada di sini?”
“ Kebanyakan nonton kartun! Ayo!” Tarik Farzan paksa.
Dan inilah penampakan beberapa saat kemudian...
Gadis itu manyun, setelah om sexi di depannya memaksa sebuah mal untuk buka dan memilihkan banyak baju untuknya. Mulai dari atasan, bawahan, sampai sepatu dia pilihkan, tas tas mahal diambilnya begitu saja tanpa melihat harga.
“ Mulai besok, pakai baju baju ini!” Tekannya
“ Ya tapi Om di rumahku masih banyak baju. Lagi pula kenapa sih sampai baju pun jadi masalah, buang buang uang saja!” Nara membuang muka
Tapi... Ekspresinya berubah saat tiba tiba Farzan mendekatkan wajahnya, membuat pipinya merona. Sosok itu menatap Nara tajam
“ Semua pakaian di rumahmu sudah saya buang ke tempat sampah!”
“ Eh? Apa? Om berani sekali ya! Itu privasi tahu! Kurang ajar banget sih.” Gerutu Nara kesal.
“ Tunangan seorang Farzan Adikara tidak boleh terlihat seperti kucing kampung ke cebur got. Kau harus terlihat sepantaran denganku, sejajar! Aku tidak mau malu saat media meliputmu! Cepat ganti bajumu. Yang kau kenakan ini juga tidak pantas!” Perintah Farzan dingin.
Sial, seenaknya dia nyuruh ini nyuruh itu,
Dia pikir dia siapa?
Hanya tunangan saja tapi belagu
Berasa dunia ini miliknya kali
“ Aku gak mau!” Nara melempar semua baju yang diberikan padanya ke lantai
“ Apa?” Alis Farzan mulai berkedut. Sepertinya, ayahnya memang mencarikan kucing garong sebagai calon istrinya. Nara benar benar tidak mau menuruti kemauannya.
“ Pakai!”
“ Enggak!”
“ Pakai atau...”
“ Atau apa hah? Bodo amat! Aku mau pulang! Lagi pula apaan sih baju segala diributkan. Belum jadi suami saja sudah ngatur. Udahlah, aku mau pulang. Bye!!” Teriak Nara kemudian berlari pergi meninggalkan Farzan yang mematung kesal
“ NAYARA!!” Teriaknya dengan wajah memerah
----***----***----
Esok paginya...
Nara bingung mencari baju baju di lemari. Bahkan di tempat sampah bajunya sudah tidak ada. Ingin rasanya ia menangis, apalagi hari itu adalah hari pertamanya mendaftar di kampus. Apa yang harus Nara kenakan? Baju yang ia pakai sejak semalam?
“ Dasar tunangan gila! Bisa bisanya dia membuang semua bajuku.” Celetuknya bingung. Sebelum...
Tok tok tok
“ Pagi pagi siapa sih yang ngetuk pintu? Gak ada kerjaan saja.” Gerutunya kemudian melangkah malas membuka pintu. Kening gadis itu mengernyit melihat seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di depan pintunya dengan banyak sekali tas belanja di tangan
“ Saya pelayan keluarga Adikara, ini kiriman dari tuan Farzan.” Tuturnya membuat Nara menghela napas panjang
“ Ya sudahlah! Baju bajuku juga sudah gak ada lagi. Boleh bantu masukkan semua belanjaan ini?” Pinta Nara menyerah
“ Baik nona.” Pelayan itu kemudian membantunya memasukkan semua belanjaan ke dalam rumah.
Alangkah terkejutnya Nara melihat harga barang barang yang dikirimkan Farzan untuknya. Bagaimana tidak, harga barang barang itu paling murah jutaan.
“ Aku rasa aku akan gatal gatal memakai semua baju ini.” Celetuk Nara. Uang bagi Farzan bagaikan kertas tak berseri
Gadis itu terpaksa memakai semua pemberian Farzan.
Saat ia bercermin, ia bagai melihat orang lain di pantulan wajahnya, bagaimana bisa berubah penampilan saja bisa membuat seseorang terlihat berbeda. Benar saja, saat tiba di kampus untuk pertama kalinya, semua mata memandang Nara kagum. Ia terlihat sangat cantik dan berkelas.
Farzan yang melihatnya dari kejauhan mengulas senyum.
“ Cantik juga. Ini baru pantas disebut tunangan Farzan Adikara.” Pujinya
“ Tuan, nona Eliana sepertinya akan kembali. Seseorang melihatnya di bandara tadi pagi.” Celetuk pelayan yang tadi mengantarkan baju baju itu ke rumah Nara. Farzan yang berada di jok belakang mengulas senyum penuh kemenangan mendengar apa yang dikatakan supir pribadinya.
“ Bagus, aku akan membuat gadis kampung itu terlihat lebih pantas. Semakin ia terlihat pantas, Eliana akan semakin terluka bukan?” Celetuknya memakai kembali kaca mata hitam, menghiasi hidung mancungnya
“ Tapi tuan, bukankah ini sama saja memanfaatkan nona Nayara. Saya merasa kasihan padanya.”
“ Apa kau pantas memberi komentar? Nayara hanya orang miskin yang kebetulan harus masuk dalam permainanku. Aku memberikan segalanya untuknya. Jadi seharusnya dia mengucapkan terima kasih bukan?”
“ Tapi tuan..”
“ Sudahlah! Ada banyak gadis yang ingin berada di tempatnya saat ini. Mengenakan pakaian mahal bermerek tanpa mengeluarkan uang sedikit pun. Cepat nyalakan mobilnya! Aku ada meeting penting di kantor!” Perintah Farzan membuang muka. Pelayan bernama Riko itu hanya bisa melihat Nayara dari balik kaca mobil, ia merasa kasihan. Karena dirinya juga berasa dari kalangan bawah yang kebetulan ditolong oleh ayah Farzan. Pria berusia sekitar 43 tahunan itu hanya bisa menghela napas, setidaknya takdir tidak akan buta dan karma tidak akan memihak
“ Semoga nanti anda benar benar jatuh cinta padanya.” Gumamnya pelan
“ Apa? Kau mengatakan sesuatu?” Tanya Farzan mengernyit
“ Ah tidak apa apa tuan. Nona Nayara terlihat sangat cantik.” Dalih pelayan itu kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi.
Benar saja, di sana...
Saat Nara menjadi pusat perhatian...
Seseorang tiba tiba mendekat
“ Tas mu bagus, itu asli?” Tanyanya. Nara menatap gadis berambut pirang di depannya kemudian menghela napas panjang
“ Mungkin iya, aku juga tidak tahu.” Jawabnya terlalu jujur
“ Hmm jadi dibelikan seseorang ya? Sugar daddy? Atau...” Tebak sosok itu duduk di hadapan Nara kemudian mengulas senyum menebak
“ Kenapa menatapku begitu?”
“ Berapa?” Tanya gadis itu dengan senyum yang sukar diartikan
“ Apanya?” Nara mengernyit bingung
“ Tidak usah pura pura bodoh. Hargamu? Apa kau mendapatkan penampilan ini dengan menjual diri?” Tebaknya yang seketika membuat Nayara menatap gadis itu tajam
“ Jangan asal bicara ya! Ini semua pemberian tunanganku!” Lawannya berkacak pinggang. Gadis itu mengulas senyum menjajari Nayara
“ Tunangan? Apa dia orang berpengaruh? Siapa? Siapa tahu aku mengenalnya. Jangan tersinggung, kau tahu kan zaman sekarang ini seperti apa. Melihatmu mengenakan barang barang seperti ini membuatku iri. Namaku Adinda, salam kenal.” Gadis itu mengulurkan tangan ke hadapan Nara
Nara tersenyum sinis menatap uluran tangan itu. Ia bukanlah tokoh dalam novel yang bisa dengan mudah dihina dan memaafkan. Karakter Nara memang tangguh sejak kecil.
“ Kau mengulurkan tanganmu setelah menghinaku. Maaf, terima kasih, tapi aku tidak butuh teman seperti itu.” Tolaknya, hendak berbalik.
“ Dasar sombong!” Gadis itu meraih botol air mineral yang ia bawa dan hendak menyiramkan isinya pada Nayara. Sebelum...
Deg
Seseorang menahan lengannya
“ Cukup! Kamu tidak tahu siapa dia hmm? Bermasalah dengannya bahkan bisa membuatmu di DO dari universitas ini.” Ujarnya tegas. Nayara berbalik melihat siapa yang membelanya. Itu seorang gadis, gadis yang sangat cantik dengan rambut hitam panjang yang diombre ungu bagian bawahnya.
“ Memangnya dia siapa?” Tanya Dinda kesal
“ Dia Nayara, tunangan dari Farzan Adikara! Donatur utama di sini. Jadi jaga sikapmu.” Jawab gadis itu
“ Kau bercanda?”
“ Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Sebaiknya kau segera pergi dari sini dan perbanyaklah membaca koran. Itu penting untuk orang dengan mental sepertimu.” Gadis itu melepas pegangannya pada tangan Adinda yang kemudian bergegas pergi.
“ Terima Kasih.” Senyum Nayara
Gadis itu pun mengulas senyum, menatap Nara dengan mata ambernya yang indah. Dilihat bagaimana pun, gadis di depan Nara ini sepertinya memang terlahir dari kalangan berada. Kulit yang seputih porselen dan seluruh tubuh yang terlihat begitu terawat, penampilan yang anggun dan sikap yang begitu elegan.
“ Hai, aku Eliana Andara. Sahabat Farzan sejak kecil, senang bisa mengenalmu.” Tuturnya mengulurkan tangan
“ Nayara.” Nara menjabat tangan halus itu grogie.
Pantas saja ia terlihat begitu cantik, teman Farzan sudah pasti bukan kalangan bawah.
“ Terima kasih atas bantuanmu tadi.” Ucapnya
Gadis bernama Eliana itu menatap Nayara dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nayara terlihat begitu cantik, bahkan hampir sempurna walaupun ia mungkin tidak menyadari hal itu. Pantas saja, Farzan memilihnya.
“ Tidak masalah. Apa kau sudah lama mengenal Farzan dan keluarganya? Sadis sekali, aku temannya, tapi dia sama sekali tidak menghubungi dan memberi tahuku soal ini. Bukankah itu sangat keterlaluan.” Senyum Eliana dengan wajah memerah. Jelas sekali, gadis itu sepertinya menyembunyikan sesuatu.
“ Apakah kau sangat mengenalnya?” Tanya Nayara dengan wajah polos
“ Tentu, kami bahkan selalu ke sekolah bersama. Tante Bumi, ibu Farzan sangat dekat denganku. Apa dia juga menyukaimu?” Pertanyaan Eliana seperti hantaman bagi Nara. Jangankan menyukai, Bumi bahkan tidak mau bicara dengannya.
“ Hei, kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa tante bumi juga dekat denganmu. Kau pasti tahu, tante Bumi sangat sulit dekat dengan siapapun bukan. Tapi... Kami biasa ke salon bersama, belanja, aku dulu bahkan sering menginap di rumah Farzan.” Cerita Eliana dengan nada berat
“ Emm itu, sebenarnya. Aku tidak terlalu...”
Belum selesai, Nayara melanjutkan kata katanya... Tiba tiba seseorang datang kemudian tanpa permisi mengaitkan tangan ke pinggangnya. Seseorang yang seketika membuatnya menjadi pusat perhatian.
“ Kenapa harus dekat dengan ibumu, kalau sudah menjadi pilihanku?” Ujarnya yang tak lain adalah...
“ Farzan?” Eliana terlihat berkaca kaca menatap sosok itu.
“ Om kok ada di sini sih? Benar benar seperti penampakan ada di mana saja.” Celetuk Nayara yang langsung mendapatkan sambaran tatapan tajam dari Farzan.
“ Hai Farzan. Lama tidak bertemu, apa kabar.” Eliana mengulurkan tangannya, bola matanya berkaca kaca, terlihat ada begitu banyak kerinduan di dalamnya. Tapi, bukannya menjabat tangan gadis itu, Farzan justru menatap Nayara seakan penuh perhatian
“ Aku datang untuk membawamu ke sebuah tempat. Ayo! Jangan bicara dengan ORANG ASING!” Celetuk Farzan kemudian membawa Nayara beranjak pergi. Ia bahkan tidak menjabat uluran tangan Eliana yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan wajah memerah.
“ Aku telah menyerahkan segalanya padamu, dan sekarang kau menganggapku seperti orang asing?” Gumam Eliana sedih
Ya, bagaimana perasaan kalian jika berada di posisi Eliana?
Mencintai seseorang yang sudah tidak mungkin dimiliki?
Sementara itu, Nayara merasa risih karena menjadi perhatian banyak orang dengan Farzan di sisinya. Terutama kaum Hawa yang seakan terhipnotis oleh ketampanan sosok milyarder muda itu.
Farzan membawanya ke kantin kampus, bersikap seolah olah ia tunangan yang baik
“ Ganteng banget!!”
“ Itu Farzan kan?”
“ Whoaa keren!!”
“ Gantengnya!!”
Seruan itu seakan menggelitik telinga Nara. Ia menatap wajah Farzan lekat. Ganteng sih, tapi menyebalkan!
“ Om, tadi itu mantanmu ya?” Celetuk Nayara membuat Farzan menatapnya dingin
“ Sudah aku bilang! Jangan memanggilku Om, paman atau apa pun sejenisnya. Aku ini tunanganmu dan bersikaplah seperti seorang tunangan yang baik.” Tekan Farzan
Nara menarik napas panjang, ia mengulas senyum
“ Tapi tadi itu mantanmu kan?” Tebaknya
“ Bukan urusanmu!” Balas Farzan
“ Baiklah! Itu memang bukan urusanku. Tapi setidaknya ada harapan untukku membubarkan pertunangan ini kalau ada gadis secantik itu yang menunggumu.” Ucap Nara bernapas lega
“ Setiap wanita ingin menjadi istriku. Kenapa kau justru tidak? Apakah otakmu itu sudah benar benar terbalik?” Farzan mengernyit
“ Aku masih muda, aku tidak mau usiaku sia sia dengan menikahi pria lanjut usia sepertimu.” Jawab Nara Spontan
“ Uhuk uhuk. Kau!”
Melihat Farzan memerah, Nara tertawa. Tawa yang sangat cantik dan lepas.
Di sana, Eliana memperhatikan mereka dari jauh, air matanya menetes turun
“ Mungkinkah, Farzan sudah melupakan diriku?” Gumamnya sedih
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?