Bab 22

1881 Kata

Adzan isya berkumandang menyambut Tiara yang baru sampai di depan rumahnya. Setelah membayar ongkos ojek dan mengucapkan terima kasih, gadis itu berbalik menatap bangunan rumah yang beberapa tahun ini ia tinggalkan. Rintik-rintik hujan membasahi tubuhnya yang berbalut jaket parka dan celana jeans panjang. Dingin khas pedesaan mulai menusuk ke tulang. Kampungnya yang terletak di lereng barat gunung Lawu itu memang terkenal dengan suhunya yang dingin. Pagar besi tua itu berderit saat Tiara menggesernya agar terbuka sedikit. Melangkah masuk ke halaman dan menutupnya kembali. Sebelum masuk ke teras samping rumah, gadis itu melepas sepatunya terlebih dulu. Tangan kanannya berpegangan pada tiang teras mengantisipasi jika ia nanti terpeleset karena pias air hujan yang membasahi lantai keramik. S

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN