"Mulai." Marvin melempar bola basket tersebut ke arah Zelda, isyarat agar istrinya memulai pertandingan antara keduanya. Zelda dengan senyuman percaya diri mulai memantulkan bola basket ke lantai. Dia menggiring bola, tentunya dihalangi oleh Marvin. Zelda sangat terkejut saat Marvin berhasil merebut bola darinya. Ah, sial! Dia terlalu meremehkan om-om saja. 'Aku pikir dia tahunya cuma buat anak doang. Aelah … ternyata bisa main basket. Saham incaranku terancam!' batin Zelda panik. Untungnya dia kembali berhasil merampas bola dari Marvin, dan dia berhasil melakukan shooting di mana bola berhasil masuk dalam ring. "Yesss!" Zelda bergumam senang dan sedikit angkuh. Dia kemudian menatap ke arah Marvin. "Satu kosong," ucapnya dengan bangga lalu buru-buru mengambil bola. Marvin berdecis ge

