15 - Kembali ke awal

2043 Kata
“Bangun Tam! Sialan! Woy bangun!”teriak Anin kesal. Badan Tama sudah memar karena jatuh dari ketinggian. Anin sendiri tidak terlalu parah karena ia berlabuh di tempat yang tepat. Tempat itu menyeramkan dan membuat Anin menangis. Ia memanggil Tama dengan tangisannya. Cewek pengecut itu tak tahu harus berbuat apa.  “Ohokk….uuhuk uhuk.” “Tama, lo masih hidup?” “Ohok, ya..iya lah. Kenapa nangis?” “Gue kira lo gak bakal bangun lagi alias mati.”ucapnya sambil terus mengusap air mata di pipinya. Sayangnya air matanya terus mengalir.  “Jangan bodoh, An. Gue gak apa-apa.”ucapnya dan bangkit berdiri. Goresan kayu melukai kaki dan tangannya. Rasanya sangat menyakitkan. Namun dibanding itu, ia lebih kaget melihat wajah Anin yang memar dan berdarah. “Muka lo kenapa?”tanyanya lagi. “Tama,,aaa,,,,aaa,,,”teriak Anin sambil terus menangis. “Astaga, udah ah. Gak penting nangis-nangis segala. Itu ada kemah orang, kita minta tolong aja.”ucapnya. Tak jauh dari tempat mereka jatuh, ada beberapa orang yang sedang berkemah. Mereka bahkan tidak tidur saking terbuai oleh malam yang penuh bintang itu. Tama memapah Anin dan memeluknya. Kasihan sekali cewek itu. “Kenapa lo ikutan jatuh sih?”tanyanya kemudian. “Gara-gara Debby. Gue berantem sama dia. Gue lihat dia mendorong lo, Tam.” “Lo dengar semua obrolan gue sama dia?” “Dengar.” “Oke, tolong jangan salahin Debby.” “Tapi dia salah, Tam.” “Itu semua salah gue.” “Tapi dia mendorong lo ke jurang.” “Dia gak sengaja.” Anin kesal. Tak bisakah Tama percaya padanya sekali saja? Mereka sampai di tempat kemah orang di dekat sungai. Saat mereka sampai, orang itu kaget dan berteriak seperti baru saja melihat hantu. Setelah mengobrol akhirnya mereka mengerti dan membiarkan mereka bergabung. Ya, meskipun awalnya curiga karena mereka berpenampilan menyeramkan. Bayangkan saja, luka dimana-mana.Wajah yang berlumuran tanah semakin mendukung persepsi itu. “Kita udah baik-baik aja. Untung mereka mau bantuin.” “Tapi badanku sakit banget Tam. Pegel parah.” “Ga apa-apa. Tadikan udah ngabarin Hasta buat bawain alat P3K. Kita tunggu bentar lagi.” Anin mengangguk. Tama kasihan melihat Anin. Dia itu anak rumahan yang gak pernah kemana-mana. Ya sebenarnya Tama juga sama sih. Hanya saja, Tama itu cowok. Dan ia harus bertanggung jawab. Terlihat dengan jelas kalau Anin ketakutan. Pasti pikirannya kemana-mana karena kejadian ini. Tama berharap waktu cepat berjalan. Orang yang berkemah di tempat itu sangat mencurigakan. Mereka kelihatan terganggu dengan kedatangan Tama dan Anin. Tapi setidaknya mereka mau membantu dengan membiarkan keduanya duduk di sisi perapian agar tidak kedinginan. Tak terasa pagi pun tiba. Dan teman-temannya sudah datang untuk memberikan bantuan. Ketua kelas yang panik langsung pergi ketika hari mulai terang. Ia memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk menjaga semua orang yang ia bawa. Tak ada masalah serius kecuali badan mereka yang pegal tak terkira. “Aku, aku minta maaf!”ucap Debby sambil terus menangis. Semua orang tidak tahu harus berkata apa. Tak baik menyalahkan orang lain disaat masalah belum benar-benar selesai. “Iya, ga apa-apa kok Deb. Tak ada yang salah dalam kejadian ini. Debby gak sengaja.”ucap Tama menjelaskan. Apapun tujuan Debby, Tama menyesali apa yang ia lakukan pada adiknya. Rasa bersalah membuatnya tak ingin menambah masalah Debby. Ya, dia memang salah sudah membuat adik Debby berharap banyak. “Apa sih, Tam. Bilang aja yang sebenarnya.”bisik Anin protes. Tama tak menggubris. Masalah sudah selesai dan saatnya kembali pulang. Kegiatan kemah itu tak bisa dilanjutkan lagi karena akan sangat beresiko.  “Hasta, papah aku dong. Aku benci sama Tama.”ucapnya sambil berjalan menuju ke arah Hasta. Hasta mengiyakan. Ia melihat Tama tapi cowok itu tak memberikan reaksi apa-apa. “Ada apa lagi sih? Lo berantem sama Tama?”tanya Hasta sambil merangkul tangan Anin yang kesakitan. Perjalanan mereka masih sangat panjang sebelum sampai di tempat bus parkir. “Udah ah, gue kesal sama dia. Kenapa sih gak pernah percaya sama gue. Gue lihat dengan jelas kalau Debby itu sengaja Has.” “Tapi lo juga harus ngerti An. Bisa saja Tama gak mau memperpanjang masalah ini. Kita sekarang di kampung orang loh.” “Iya sih, tapi gue tetap kesal.” Hasta cuma tertawa. Dia berusaha menenangkan Anin. Anin kalau udah marah bisa menghancurkan benda-benda di sekitarnya. Emosinya sangat terlihat dengan jelas. Hasta berusaha memberitahukan cerita-cerita lucu yang pernah ia baca di Twitter. Untung saja cerita itu masih masuk di akal Anin. Tak jauh dari sana, terlihat Tama berjalan terseok-seok. Sifat manja Tama sedikit berkurang karena seorang Anin. Anin membuatnya lebih berani bertindak. Itulah yang terjadi dalam satu malam yang sudah berlalu itu.  “Sini gue bawa.”tawar Bunga sambil menarik jaket hitam yang sedari tadi ada di tangan Tama. Tas dan perlengkapannya sudah dibawa oleh teman-teman yang lain. Bunga hanya sedikit tidak nyaman melihat menderitanya cowok itu.  “Makasih loh..” “Lo harus ngasih tahu gue dong apa yang terjadi. Jelas gue harus tahu, sebagai pacar.”ucapnya lagi. “Hahaha, ga ada apa-apa.” “Gak mungkin dong. Gue lihat dengan jelas, ada orang yang minta maaf tapi gak tulus.” “Apa sih, jangan menuduh kayak gitu. Gak baik.” “Terserah deh. Gue kan gak tahu apa-apa. Gue diam ajalah.” “Lo sendiri gimana?” “Lah, emang gue kenapa?” “I can see it. Lo kenapa menghindari Hasta?” “Dia bilang gitu sama lo?” “Nggak. Gue lihat sendiri. Lo bertingkah gak kayak biasanya.” Bunga terperangkap dalam pertanyaan yang sukar dijawab. Ah, bukan tidak bisa, tapi tidak boleh. Bagaimana bisa tingkahnya terlihat jelas di mata Tama. Ah, sungguh tak disangka. “Ga ada apa-apa.” “Dasar pembohong.” “Lo juga.” “Hasta itu tipikal cowok yang susah dekat sama orang lain. Lo bisa lihat kan, dia cuma dekat sama gue dan Anin. Artinya, lo udah masuk ke tahapan lebih lanjut.” “Gak usah PHP. Dia juga udah punya pacar.” “Lah, lo belum tahu?” “Tahu apa?” “Dia udah putus.” “Hah? Kok bisa?” “Entah, tanya aja sendiri.” “Ihh, sialan, Ngasih informasi setengah-setengah.” Tama tertawa. Rasanya bahagia memancing perasaan orang lain. Walau mereka sedang marahan tetap saja perasaan sebenarnya tak bisa ditutupi. “Makanya kalau dia punya salah kasih tahu aja. Kasihan tahu, dimusuhi tanpa alasan.” “Iya bawel. Lo sembuh dulu deh, abis itu kita putus.” “Wah, kurang ajar ya. Biar lo bisa sama Hasta gitu?” “Gue bercanda. Entar bakal jadi masalah gak sih? Entar fanbase kita ngamuk lagi.” Tama langsung terdiam Baginya sulit membahas hal itu. Dulu dia sangat santai membahas mengenai fans. Punya fans itu menyenangkan karena bisa terkenal dengan mudah. Ia juga bisa mendapat perhatian lebih yang tak bisa didapat oleh orang lain. Dan sekarang, saat tahu ada orang yang terluka karena dirinya, ia merasa sangat bersalah. Ia tak ingin disebut Si Ganteng Maut yang punya banyak fans. Ia ingin mengubah dirinya yang sekarang. Ia lebih suka jadi orang biasa yang tak pernah menyakiti hati orang lain.  “Are you ok?”tanya Bunga saat melihat Tama bengong. Entah apa yang dipikirkan cowok itu.  “Hahaha, tapi mending kita putus deh. Biar fanbase itu gak ada lagi.”seru Tama. Bunga hanya diam. Ya, ada baiknya putus karena mereka juga tak saling punya rasa. Itu adalah ide paling cemerlang yang Tama dengar hari ini. Sebuah solusi untuk masalah yang membuatnya overthinking gak jelas. Tak berapa lama setelahnya, mereka tiba di tempat bus parkir. Semuanya dalam keadaan baik walaupun banyak yang kecewa karena pulang terlalu dini. Jika tidak ada insiden tadi, mereka pasti sedang bersenang-senang disana. ***** Tama duduk dibangku teras saat hujan sedang turun deras. Siang itu terasa sangat dingin. Ia membuka ponselnya dan melihat akun-akun fanbase yang dibuat untuknya. Tama membuka akun Instagramnya. Foto-foto lama yang diupload bisa mendapat like sampai ratusan ribu. Dengan segera ia menghapus semua foto-foto itu. Sudah dapat dipastikan bahwa akun fans nya syok dan ramai. “Hallo Bunga, jadi nih ya.”ucapnya di telepon. Terdengar suara tawa renyah dari Bunga. Cewek itu tak hanya cantik, ia juga punya suara yang layak untuk jadi penyiar radio sungguhan. Bukan bohongan ya. “Oke, siapa takut. Resiko ditanggung masing-masing.” “Ehmmm, ya sudah.” Telepon dimatikan. Tama mencari satu foto yang hendak ia upload sebagai kata perpisahan untuk akun itu. Dia sudah tidak berniat untuk melanjutkan perannya sebagai Si Ganteng Maut yang digandrungi para perempuan. Sudah cukup lama ia terjebak pada kondisi itu. Walau itu bukan keinginannya sendiri tapi rasanya sesak. Sebuah postingan berwarna hitam. Itulah pesan terakhir yang akan disampaikan untuk followernya. Ia menambahkan caption yang sudah ia diskusikan dengan Bunga. Dikarenakan satu dan lain hal, gue mau ngasih tau kalau ini adalah postingan terakhir gue. Gue memutuskan untuk gak lagi main i********:. Dan sebagai informasi, gue udah putus sama Bunga. Kami putus bukan karena suatu masalah. Ini adalah keputusan paling tepat saat ini.  Terakhir, gue ucapin terima kasih banyak buat semua yang udah support gue. Walau ini postingan terakhir gue, gue harap kita bisa menjalin hubungan yang erat di dunia nyata.  Sambil menarik nafas dalam-dalam, dia menekan tombol upload. Dia langsung melempar smartphonenya karena deg degan. Ia sudah mengatur notifikasi diam agar tidak ada yang mengganggunya. Sudah dipastikan bahwa akan ada orang yang meneleponnya. Anin, Hasta, teman sekelas bahkan guru BK. Mereka semua tidak akan mendapatkan apa-apa. Tama tak akan mau menjawab panggilan dari siapapun hari ini. Biar saja mereka hidup dengan rasa penasarannya. Tama memandangi langit yang terang meskipun hujan masih turun. Ada rasa puas dalam dirinya. Ternyata melakukan kata hati itu sangat menyenangkan. Tak baik jika terus mengikuti apa kata orang. Biar kita bahagia dengan cara kita sendiri. “TAMAAAA!!!”terdengar teriakan yang amat keras. Tama sampai kaget dan melonjak dari rebahannya. Anin datang memakai payung dengan ponsel di tangannya. Ia tak terima dengan apa yang Tama upload di i********:. Bagaimana bisa cowok itu tak memberitahunya? Ya memang, mereka masih musuhan sejak kemah beberapa hari lalu.  “Apa-apaan ini? Lo putus sama Bunga? Terus, lo mau off i********:?” “Duduk dulu Anindya k*****t!” “Apa? Jelasin.” “Intinya gue udah putus sama Bunga.” “Tapi kenapa?” “Gue mau minta maaf dulu. Lo mau maafin kan?” “Tergantung.” “Gak jadi gue kasih tahu.” “Ya udah, gue maafin.” “Sebenarnya, gue pacaran sama Bunga cuma pura-pura.” Anin terdiam. Ia tak menyangka sudah dibohongi selama ini. Semua yang terjadi hanyalah rancangan dari anak nakal itu. “Bisa-bisanya lo bohongin gue sama Hasta.” “Kan gue udah minta maaf.” “Menyebalkan.”ucap Anin dengan suara yang kini datar. Setidaknya Tama sudah jujur. “Terus kenapa harus off dari i********:? Gara-gara Debby?”tebaknya. Tama tak bisa menjawab pertanyaan itu. Seperti yang Anin tahu, cowok itu paling gak bisa membuat orang lain benci padanya. Ia hanya ingin disukai. Tapi ternyata apa yang ia lakukan selama ini malah menimbulkan kebencian di hati orang lain. Dia tidak mau rasa bersalah itu berlarut-larut.  Dering telepon dari Hasta menghancurkan keheningan diantara mereka. Anin segera menjawab video call itu.  “Anin, lo……” “Iya, gue udah lihat. Gue lagi sama Tama nih.” “Hai Has!!”sapa Tama tidak tahu diri.  “Hasta, ternyata si Tama sama Bunga cuma pura-pura pacaran. Mereka selama ini bohong Has.”curhat Anin dengan suara yang menggebu-gebu.  “Sorry ya Has, gue sama Bunga terlanjur buat janji kemarin. Sekarang, gue udah benar-benar jomblo. Sama seperti dulu.”ucapnya lagi. “Bangga banget.”seru Anin kesal. “ Udah ya Has, see you!”lanjutnya sambil melambaikan tangannya. Anin langsung duduk di kursi yang tepat di depan Tama. Ia sibuk melihat jumlah like dan comment di akun i********: Tama. Komentar disana bervariasi. Ada yang kesal, ada yang sedih bahkan ada yang menghujat. Tama, Si Ganteng Maut yang pesonanya bak selebgram dengan jutaan followers. Tama langsung mengambil ponsel itu dan meletakkannya dalam jarak yang jauh. “Udah, gak usah lihatin itu mulu.”serunya sambil tersenyum.  “Lo senang dengan semua itu?” “Iya. Senang banget.” “Bagus lah.” “Lo gak marah lagi?” “Ehmmm, mau gimana lagi.” Tama tertawa. Dalam persahabatan itu, marah bukanlah hal buruk. Marah membuat ikatan semakin erat. Itu adalah bagian dari hidup yang harus dirasakan. Tak apa jika marah, asal jangan lama-lama. Anin juga tak berkuasa menahan dirinya untuk tidak marah. Rasanya sangat aneh saat ia marah pada Tama. Rasanya seperti ada yang kurang. Tak ada orang yang bisa diajak bercanda. Bahkan sudah tiga hari ia tak datang ke rumah Tama.  Dalam berita yang menggemparkan itu, Anin merasa bahagia. Apalagi saat mengetahui hubungannya dan Bunga adalah kebohongan semata. Ia lega tanpa tahu alasannya. Mungkin saja karena ia tak akan lagi kehilangan sahabatnya itu. Atau ia cemburu karena baru kali ini Tama sibuk dengan orang lain selain dirinya. Entahlah. Ia tak yakin alasan pastinya. “Anin, ini donat nya sudah matang!”teriak Winda dari dapur di rumah.  “Kalian bikin donat?”tanya Tama. Anin mengangguk. Tama langsung berlari di tengah gerimis yang sudah hampir reda. Anin menyusulnya dengan teriakan. Sudah jadi hal biasa bagi kedua keluarga itu saling berbagi makanan.  Donat hangat tersaji dengan baik di atas meja makan. Tama langsung menikmati satu buah. Masakan Winda memang enak. Dia punya bakat dalam membuat kue-kue an. Sudah cukup banyak jenis kue buatan Winda yang pernah dimakan Tama. Hampir semuanya approved untuk dijajakan di muka umum.  Hujan kembali turun. Kali ini dengan deras dan disusul petir menyambar. Alam yang bergemuruh tak selamanya menggambarkan suasana hati. Alasannya sederhana. Setiap masa ada waktunya. Suatu tatanan bisa berbeda untuk tiap-tiap orang. Ada yang bahagia ketika hujan turun karena berguna untuk sawahnya. Ada yang menangis kala lupa membawa payung dan harus menunggu di halte. Begitulah uniknya rancangan di dunia ini.  “Jangan lupa bayar ya.”canda Winda membuat Anin dan Tama tertawa. Hari yang berarti karena beban yang mereka rasakan sedikit berkurang. Tak ada lagi kepura-puraan. Mulai sekarang, setiap hal yang mereka ambil harus mengandung asas kejujuran. Awalnya memang menyenangkan tapi bohong tetaplah bohong. Akan ada kejadian yang membuat bohong itu semakin berkembang lebih dalam. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN