16 - Baku Hantam

1367 Kata
Tama mengendap-endap saat hendak masuk ke sekolah. Sudah beberapa hari ini dia dikejar-kejar fans yang tak terima dia off dari i********:. Mereka masih berharap Si Ganteng Maut itu kembali aktif membagikan foto-fotonya. Tak hanya Tama, imbas dari kejadian itu juga dirasakan oleh Bunga. Cewek itu dibully oleh beberapa orang. Bedanya dengan Tama, Bunga sangat berani dan bisa menghadapi mereka dengan mudah. Bunga itu iblis berkepala dua kalau menyangkut baku hantam.  Tama bergerak cepat saat jalanan mulai sepi. Ia tak boleh terlihat oleh satu orang pun. Ia tergopoh-gopoh mencapai kelas 11 IPA 1. Rasanya lelah dan menegangkan. Ia bernafas lega ketika sudah sampai. Fokus Tama selalu terganggu oleh tatapan sinis Debby. Cewek itu terlihat masih membencinya.  “Ah,,,, capek banget gue tiap pagi.”keluhnya pada Hasta yang sibuk belajar matematika. “Tahan aja. Bentar lagi kita kelas 3, lo nikmatin aja.” “Sampai kelas 3, gue bakal dikejar terus. Mungkin.” “Itu sudah pasti Tam.” “Ah sial, gue kasihan sama Bunga. Tiap hari dia harus menghadapi cewek bar-bar itu.” “Semua kan gara-gara lo.” “Ya iya sih. By the way, lo udah baikan sama dia?” “Emangnya kami pernah musuhan?” “Hmm, ternyata belum ya.” Hasta tak menggubris. Sejak kejadian di kemah beberapa minggu lalu, dia tak punya kesempatan untuk mengobrol dengan Bunga. Dia sibuk belajar dan Bunga sibuk menghadapi fansnya Tama. Sesaat Hasta jadi ingat lagi. Ia tak bisa lagi konsentrasi belajar. Semua ini gara-gara Tama Wijaya.  “Loh, mau kemana Has?” “Mau e*k. Lo mau ngikut?” “Gak usah deh.” Hasta bergegas pergi untuk mencari Bunga. Daripada pikirannya tak tenang, mending masalah ini diselesaikan dengan segera. Ia berjalan sampai tiba di depan gerbang sekolah. Ia seperti guru pengawas yang hendak memberikan hukuman pada murid-murid yang doyan terlambat. Ternyata sangat banyak orang yang terlambat. Bahkan ada yang dengan santai berjalan meskipun ia tahu gerbang akan segera ditutup.  Bunga datang dengan tampilan cantiknya. Dia tak seperti siswa lainnya, dia melewati guru dengan keangkuhan. Saat orang lain menyapa, dia malah cuek. Entah kenapa, Hasta tersenyum melihat tingkah cewek itu. Lucu, imut dan sangat menggemaskan.  Bunga tak sadar kalau Hasta ada disana. Ia hanya berjalan terus menuju ke kelas 11 IPA 1. Bunga tak mau melewati jalan yang penuh dengan siswa. Ia melewati jalan belakang sekolah yang tadi dilewati Tama. Dia tidak takut, dia hanya tidak mau menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang tidak penting.  “Bunga!!”teriak Hasta. Bunga menoleh dan melihat Hasta sedang berlari menyusulnya. “Baru datang?”tanya Hasta basa-basi. Bunga hanya diam dan tak membalas. “Sombong banget sih?” Bunga tetap berjalan. Hasta tak tahu lagi harus bilang apa. Tiba-tiba segerombolan adik kelas berjalan ke arah mereka. Bunga yang panik langsung menarik tangan Hasta untuk bersembunyi di balik meja-meja rusak yang ada disana.  “Kenapa?”bisik Hasta bingung. “Sssssst!!” Orang yang Bunga hindari semakin mendekat.  “Kita harus terus meneror Kak Bunga. Enak aja main putus-putus. Gak boleh gitu dong.” “Benar banget! Pasti dia yang salah, bukan Kak Tama.” “Siap-siap ya. Mungkin bentar lagi dia datang.” Mereka semakin mempercepat langkah dan meninggalkan tempat itu. Di belakang meja-meja rusak yang menumpuk itu, Bunga dan Tama bersembunyi. Saat sudah aman, Bunga hendak berdiri. Dan tiba-tiba, badannya ditarik paksa Hasta. Dia berusaha berontak tapi tetap tak biasa. “Apa sih, Has!” “Lo harus jelasin sekarang. Kenapa lo marah sama gue? Apa yang gue lakuin malam itu?” “Gue gak mau!” “Ya udah, kita tetap disini aja terus.” “Lo gila ya, Has.” “Gue gak mau ada masalah diantara kita.” “Oke gue jawab.”ucap Bunga dengan semakin emosional. Hasta menunggu dalam diam namun tangannya masih tetap memegang tangan Bunga. “Malam itu, lo cium gue! Dan lo semudah itu lupa? Ya, gue tahu itu cuma kesalahan karena lo mabuk!” Hasta sangat kaget mendengarnya. Ia tak menyangka apa yang akan ia dengar lebih buruk dari dugaannya. Sangat jauh dari ekspektasi. Bunga langsung melepaskan tangannya dari genggaman Hasta. Sebenarnya ia malu harus mengakuinya, tapi cowok itu memaksa. Bunga meninggalkan Hasta disana dengan wajah kagetnya.  ***** Saat bel istirahat berbunyi, Anin buru-buru ke toilet karena perutnya sangat sakit. Ia tebak kalau itu karena nasi goreng pedas yang ia beli kemarin. Ah, harusnya ia sadar kalau perutnya tak sekuat perut Tanboy Kun. Tanboy Kun adalah food vlogger yang suka makan dalam ukuran yang maksimal dan rasa pedas. Ia memastikan bahwa toilet itu sepi. Rasanya tidak nyaman jika ada orang. Kelegaan yang haqiqi ia terima saat benda menyesakkan itu sudah keluar dari perutnya.  Ada saja orang yang datang sesaat setelah Anin disana. Untungnya hanya satu dua orang. Dan tiba-tiba terdengar suara berisik dari kerumunan orang. Dan Anin mengenal betul suara itu.  “Gimana Deb, lo udah menyerah?” “Gue udah gak peduli. Setidaknya dia sudah off dari i********:. Si Ganteng Maut? Ish, menyebalkan. Andai dulu dia mati aja waktu gue dorong.” “Jangan gitu dong. Entar lo masuk penjara.” “Iya juga ya hahaha.” “Gue tuh kesal banget sama dia dan teman-temannya. Tapi yang paling bikin kesal tuh Si Anin. Cewek kayak dia kok bisa berteman sama Tama Hasta.” “Benar banget! Pake pelet kali dia ya. Dia tuh gak ada berkelasnya sama sekali. Udah jelek, sok asik lagi.” “Wakakak, pake pelet dong.” Dalam waktu yang bersamaan, Anin dan seseorang membuka pintu toilet dengan dentuman keras. Mereka sama-sama kaget. Disana ada Bunga yang terlihat kesal. Ia tak memperdulikan Anin yang melongo disudut. Ia menjambak rambut Debby hingga cewek itu meringis kesakitan.  “Apa sih? Lepasin gak?” “Lo sadar gak sih apa yang lo bilang?” “Lepasin gak?”ucapnya dan dengan terpaksa Bunga melepaskannya. “Emang benar kan yang gue bilang?” “Hati lo yang jelek itu, jauh lebih mengerikan dari apapun di dunia ini. Dasar cewek gila!” “Jangan sok-sokan lo. Lo kira lo keren? Jadi juara umum juga karena hoki. Pasti lo nyogok kepala sekolah.”ucap yang lainnya. “Sialan!”bentak Bunga sambil menjambak rambutnya. Mereka membalas dengan menjambak Bunga juga. Anin langsung membantu Bunga. Mereka berakhir di kantor BK. Rambut yang acak-acakan, wajah yang memar dan seragam yang berantakan. Enam orang murid perempuan duduk di kursi sambil menunggu datangnya guru BK. Guru BK yang akan datang itu adalah fans Tama garis keras. Dia adalah orang yang membuat Tama trauma kembali ke tempat itu. Rupanya wajahnya sangat galak. Tingkahnya pada laki-laki dan perempuan sangat berbeda.  “Bunga, mungkin dia akan benci sama lo.”bisik Anin di telinga Bunga. “Dia pasti tahu kalau lo mantan pacarnya Tama.” Sebuah informasi menyeramkan dari Anin. Bunga jadi khawatir pada keselamatannya. Guru yang tidak tahu diri itu mungkin akan menjadikannya sumber pelampiasan. Dan dia mendapat ide baru yang layak untuk direalisasikan. “Ada apa ini? Ada yang bisa jelaskan? Saya bingung sekali sama kelas 11 sekarang. Gak ada yang beres!”ucapnya dengan tegas. “Biar saya yang jelaskan bu.”seru Bunga dengan percaya diri. Ia tersenyum licik. “Empat cewek ini, benci banget sama Tama. Saya sebagai mantannya Tama, tidak terima dong. Meskipun sudah putus, saya tetap respect sama dia. Mereka malah fitnah Tama diam-diam. Saya jambak saja mereka karena kesal.” “Eh, siapa yang fitnah?” “Dan yang lebih parah bu, dia yang bikin Tama jatuh dari tebing waktu liburan kemarin. Tanya aja kelas saya, 11 IPA 1.” “Engga bu, bukan begitu.” “Lalu gimana? Bisa kamu jelaskan versi dari kamu?”tanya guru BK dengan bijak. Debby terpaku. Kalau jujur pasti ia juga yang kena.  “Tuh kan bu, saya gak butuh apa-apa. Saya cuma mau dia minta maaf atas semua yang dia bilang tadi.” Guru BK mencoba menimbang-nimbang. “Baik. Karena gak ada pembelaan, kalian berempat minta maaf.” Dengan berat hati, Debby dan ketiga temannya minta maaf. Bunga sangat bangga dengan apa yang sudah ia lakukan. Cewek-cewek menyebalkan itu memang pantas untuk diberi pelajaran. Guru BK tak butuh waktu lama membereskan masalah itu. Sudah ada penjelasan dan pengakuan.  “Lo jangan pikiran ya, apa yang diucapin sama Debby tadi.”seru Bunga sembari berjalan menuju ruangan kelas. “Ah, nggak mikirin kok.”balas Anin. Bisa dilihat dari raut wajahnya kalau dia sedang tidak baik-baik saja. “Mau main ke rumah gue gak?” “Hah? Buat apa?” “Jadi Tama udah pernah main ke rumah gue. Masa lo nggak sih. Sekalian gue mau kasih tunjuk lo sesuatu yang bisa bikin Debby sama teman-temannya mati langkah.” “Tapi kapan?” “Abis kelas hari ini. Lo gak kemana-mana kan?” Anin berpikir sejenak. Ia mengangguk setelah memastikan kalau hari ini sudah tidak ada kegiatan penting yang harus ia lakukan.  “Okey, tapi gak usah kasih tahu Tama. Biar ini jadi rahasia kita.” “Kalau Hasta boleh dikasih tahu gak?” “Dia juga jangan. Dia paling berbahaya.” “Berbahaya?” “Ah, engga. Aku cuma bercanda.” Anin baru sadar kalau Bunga sebenarnya teman yang baik. Selain cantik secara fisik, dia juga cantik dari hatinya. Dan tak hanya itu, dia punya keberanian di atas rata-rata. Bagaimana caranya dia bisa berpikir tentang solusi menghadapi guru BK. Diam-diam Anin jadi mengagumi Bunga. Rasanya ingin menjadikannya role model. Ah, tapi Anin bukanlah cewek cantik yang punya fashion di atas rata-rata. Saat teringat pada ucapan Debby di toilet, dia jadi sedih lagi. Sedih saat menyadari bahwa tampilannya mungkin menyebalkan di mata orang-orang itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN