CILAKA DUABELAS

1687 Kata

Mobil yang dikendarai oleh Agha terparkir di halaman kantor Tigor. “Ayo turun,” ajak Agha. Radjini menatap bimbang ke arah pintu kantor Tigor. Dirinya sebetulnya tidak enak hati. Bingung bagaimana reaksi Tigor jika dirinya menarik surat lamaran pekerjaan sementara pria itu bahkan sudah repot-repot mencarikan tempat tinggal dan banyak menasehatinya. Radjini tidak pernah melupakan kebaikan Tigor dan Tiur yang bahkan memperbolehkan ia tinggal di Los depan kedai buah mereka. Jika orang itu bukan dirinya, Radjini yakin pasti sudah diusir. “Ayo,” ulang Agha yang kini seraya mencondongkan tubuh membantu melepaskan kait sabuk pengaman dan mencuri cium pipi Radjini. Radjini reflek mengusap pipinya bekas kecupan Agha. “Abang ih ngagetin.” “Habis kamu melamun. Pasti mikirin Tigor?!” ujar Agh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN