Hanya Abang yang Boleh

1253 Kata

Sarapan pagi ini terasa sangat sunyi, Radjini pun merasa sedikit tida berselera karena masih banyak tanda tanya. Banyak pertanyaan yang berkecamuk, sampai ia pun bingung mana dulu yang akan ia tanyakan kepada Agha. Rasanya juga ingin untuk menunda ke Bandung karena ingin membereskan urusan di sini. Apalagi Sukanti mengabarkan kalau Tigor sempat lewat depan rumah Marwan. Seingat dan setahu Radjini, sebelum Tiur dan Tigor tahu tempat tinggalnya. Mereka tidak pernah terlihat lewat sana karena memang juga arah kantor, kedai buah dan rumah mereka berbeda arah. Tantri mengkode ke arah Agha, karena Radjini hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya. Sedari tadi hanya beberapa suap masuk ke mulutnya sementara Tantri sudah akan tambah di sendok nasi yang ketiga. Agha hanya membalas dengan mengedikkan b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN