Lari dari Rumah
Vano, seorang penyanyi solo yang tengah naik daun. Ia mempunyai istri bernama Winda. Wanita yang dicintainya. Wanita yang dipanggil dengan sebutan gadis bisu. Namun Winda mampu membuat menemukan jalan untuk kembali. Inilah kisah perjalan hidup Vano.
Plaaaak
Vano melihat dengan mata kepala sendiri. Tangan sang ayah mendarat memerahkan pipi wanita yang dipanggilnya dengan sebutan ibu. Sosok pria yang dulu amat Vano kagumi, kini telah berubah.
“Ibu!" teriak Vano. Tangisnya menghampiri wanita yang tengah kesakitan.
Ayah menyeret dan mengunci Vano di dalam kamar. Ya, saat itu Vano masih berusia sepuluh tahun. Saat pertama kali Vano melihat ayahnya berubah. Pria itu menjadi kasar dan tak menyayangi istri dan anaknya lagi. Namun, Vano tak mengerti mengapa ayahnya kini berbeda.
Semakin hari tingkah ayah Vano semakin menjadi. Tiada hari tanpa tangis sang istri. Sesekali Vano mengintip dari balik pintu kamar. Ibunya tengah mengusap air yang membasahi pipinya. Vano hanya bisa berdoa dalam hatinya agar wanita yang sudah melahirkannya itu tabah dan kuat.
Semenjak hari itu, Vano mulai membenci ayahnya. Anak penurut dan baik sudah tak lagi disematkan dalam namanya.
“Vano, anak ayah, anak penurut, pintar." Pujian dan kecupan dari sang ayah yang sudah lagi tak Vano dapatkan. Vano hanya bisa mengingat, entah kapan terakhir ayahnya memujinya.
Delapan tahun kini telah berlalu. Sinta, ibu dari Vano yang dulu wanita tegar, kini menjadi perempuan rapuh. Tubuhnya kurus kering. Rambutnya sudah tak terawat. Bagi Vano, Ia tetap cantik. Lalu bagaimana dengan Hendra, ayahnya? Masih sama seperti dulu. Sudah tak ada lagi keharmonisan di keluarga itu.
Vano yang beranjak remaja semakin membenci Hendra. Bolos sekolah, pulang malam, tak jarang pula ia mencoba minuman haram memabukkan hanya untuk mengalihkan rasa gundah gelisahnya.
Vano tahu jalannya salah. Ia hanya ingin perhatian ayahnya kembali dan ingin mereka bahagia seperti dulu lagi. Itulah pikiran dangkal seorang remaja sakit hati yang masih mencari jati diri.
Suatu malam Vano sengaja tak pulang seusai sekolah. Gawai ia matikan. Vano bersembunyi dari rasa sedihnya. Memandang air yang begitu luas di hadapan. Mendengar deru ombak, merasakan embusan angin, semua terasa menyenangkan. Cukup baginya untuk menghilangkan rasa penat yang memenuhi d**a.
Tak terasa bulan telah memancarkan cahayanya. Vano mengambil tas gendongnya. Memakai helm biru pemberian Sinta dan sepeda motor sport merah hadiah ulang tahunnya dari wanita yang sangat menyayanginya itu.
Dinginnya angin malam terasa menusuk tulang. Entah mengapa hati Vano begitu gelisah.
"Apakah ibu baik-baik saja di rumah?" batinnya.
Vano mempercepat laju motornya. Berharap tak terjadi apapun pada sang Ibunda.
Sesampainya di halaman, Vano memarkirkan motornya di samping rumah yang bercatkan kuning pudar. Ia melihat ayah dan ibunya sudah menunggu di teras depan. Mata Sinta begitu sayu, terlihat jelas ia habis menangis.
Vano melepaskan helm biru dan meletakannya di atas motor. Saat hendak menghampiri mereka, tangan Hendra mendorongnya kuat. Tubuh rapuhnya tersungkur. Sinta hendak menolong putranya namun, dicegah oleh Hendra.
“Tidak usah pulang sekalian! Anak tidak tau di untung!" bentak Hendra.
“Itu semua karena Ayah!" Vano berdiri dan berteriak di hadapannya.
Plaaakkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Vano. Sinta menangis mencoba menahan suaminya yang akan memukul anaknya lagi.
Sebelum air mata remaja itu jatuh di hadapan mereka, Vano melemparkan tas gendong, gawai dan kunci motornya. Lantas, ia berbalik dan berlari pergi menjauhi mereka.
Berlari sekuat tenaga, berteriak, menangis meluapkan emosi yang membara. Vano tak berani menatap kedua mata orang tuanya. Ia tak mau melihat air mata ibunya jatuh.
"Ibu, maafkan aku. Biarlah aku menyendiri."
Menghindar, menjauh, tak tahan dengan semua ini. Berlari tanpa tujuan tanpa uang. Bagaimana Vano harus melanjutkan hidupnya nanti?
Ia melihat segerombol anak punk menyetop sebuah truk. Mereka naik dan Vano mengikutinya.
"Kamu minggat ya?" Salah seorang anak punk bertanya pada Vano.
Ia hanya mengangguk. Membuat segerombol anak punk itu tertawa.
“Mau gabung?" tanya nya lagi.
Vano langsung menggelengkan kepala. Entahlah, Vano pun bingung apa yang harus ia lakukan.
Semalaman Vano berada dalam truk itu. Kini ia jauh dari orang tuanya. Ingin rasanya Vano kembali. Tetapi, bagaimana jika Vano melihat ibunya menangis karena ayahnya lagi? Bagaimana jika Vano melihat ayahnya menyakiti ibunya lagi? Bagiamana jika ... bagiamana jika ... begitu banyak pertanyaan dalam pikiran Vano. Ah, sudahlah! Vano pasti mampu tanpa mereka.
Vano turun dan berpisah dengan rombongan anak punk yang semalam bersama. Ia berada di ibukota. Tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Tempat tanpa saudara dan teman. Hanya sehelai pakaian yang menyelimuti tubuhnya sebagai bekal.
Perutnya lapar, Vano harus makan di mana? Semakin terik semakin lemas tubuhnya. Langkahnya mulai gontai dan....
Bruuuuukkkkk
Pandangannya kabur dan gelap.
Saat Vano membuka mata ia mendapati dua orang sedang duduk di dekatnya. Vano terbangun melihat sekeliling. Rumah yang kecil berlantaikan tanah, kumuh dan bau.
“Aku dimana?" tanya Vano pada mereka.
“Kamu di rumah kami, Nak. Maaf tempatnya begini," jawab lelaki paruh baya yang memakai kaos berlubang di sana sini.
“Oh."
“Minum ini dulu, Nak. Tadi bapak nemuin kamu pingsan di jalan," ucap wanita berdaster lusuh sambil memberinya segelas air putih.
“Terima kasih, Bu.”Vano mengambil gelas itu dan menghabiskan air di dalamnya. Tenggorokan yang kering kini terasa dingin.
“Kamu ketinggalan rombongan?" tanya bapak yang menolong Vano.
“Ehm ... anu ...." Vano perlu berpikir untuk menjawab.
“Minggat?”tanya wanita berdaster itu dengan tawa.
“I... Iya, Bu," jawab Vano dengan gagap.
“Kenapa?" tanya-nya lagi.
Vano menceritakan semua masalahnya pada mereka. Rasanya lega bisa mengungkapkan semua yang ada di hati. Selama ini Vano pendam sendiri dan rasanya begitu sesak.
Mereka sangat baik pada Vano. Ia menangis mengingat kedua orang tuanya.
"Ayah, ibu, maafkan aku."
“Sebentar, dari tadi kamu curhat tapi kita belum kenalan!" tukas bapak berkaus kusam.
“Saya Vano, Pak." Vano memperkenalkan diri.
“Saya Tio, pemulung. Ini istri saya, namanya Wati." Pak Tio menunjuk istrinya yang duduk berhadapan.
“Ada anak saya cewek, namanya Winda. Lagi beli nasi bungkus," ucap Ibu Wati.
Beberapa menit kemudian masuklah gadis berambut panjang membawa satu kantung plastik kecil di tangannya. Ia tersenyum dan menunjukkan lesung pipinya. Manis sekali. Ia memakai kaus biru muda dan rok rimpel panjang.
Gadis itu memberikan kantung plastik itu pada ibunya.
“Win, kenalin ini Vano, mulai hari ini Vano tinggal serumah dengan kita," ucap ibu Wati.
“Aku Vano." Berdiri dan mengulurkan tangannya.
Winda menyambut tangan Vano namun, tak berkata apa pun. Hanya tersenyum.
“Dia Winda, maaf dia tuna wicara," ucap ibunya.
“Oh, maaf.”
“Iya, tidak apa-apa. Tapi dia tidak tuna rungu, kok," jawab Pak Tio.
“Ini nasi bungkusnya dimakan! Lauknya seadanya ya!" Bu Wati memberikan nasi bungkus pada Vano.
Vano yang lapar menerima nasi itu dan memakannya. Sangat lahap. Meskipun hanya nasi putih dan sayur sawi, sungguh terasa nikmat. Hanya dalam hitungan menit makanan ini habis tak tersisa. Vano menatap mereka yang sedari tadi melihatnya makan.
“Lho ... kalian tidak makan?" tanya Vano.
“Kamu saja, kami mau bekerja. Istirahatlah!" Pak Tio berdiri mengambil karung besar dan bilah panjang. Tak lama kemudian ibu Wati juga mengambil karung yang lebih kecil, begitu pun Winda. Mereka pergi memulung bersama.
Melihat mereka Vano tersenyum. Meski pun hidup kekurangan tapi mereka adalah keluarga yang kompak. Sungguh membuat Vano iri.