Vano memandangi terus punggung mereka hingga tak terlihat lagi dari pelupuk mata. Melihat sekeliling, pemandangan yang tak jauh beda dengan rumah Pak Tio. Mayoritas orang di sini sepertinya bermata pencaharian sama seperti bapak penolongnya itu. Di setiap halaman rumah terdapat banyak karung besar berisi botol-botol plastik dan besi bekas.
"Nak, kenapa melamun?" Suara lelaki dari belakang mengagetkan Vano.
"Oh, tidak. Saya masih asing saja karena masih baru di sini."
"Kamu anak yang ditolong Tio di jalan itu kan?" ucap lelaki bertopi kusam dengan wajah lusuh yang baru saja pulang memulung.
"Iya, Pak."
"Aku tinggal di situ!" Ia menunjuk rumah di sebelah kanan rumah milik Pak Tio.
"Iya, Pak."
"Kalo ada apa-apa bilang ke saya, Pak Tio kalau mulung selalu bersama istrinya dan Winda."
"Memangnya kenapa harus bersama?"
"Sini masuk dulu ke rumahku, kita ngobrol."
Vano mengikuti pemulung itu masuk ke dalam rumahnya. Terlihat seorang wanita sedang memisahkan antara botol plastik dan besi.
"Eh, ada tamu, sini duduk, Nak," ucap ibu itu ketika melihatku masuk ke dalam rumahnya.
"Maaf ya, tempatnya kotor."
"Tidak apa-apa, kok, Bu."
"Kamu sekarang tinggal sama Tio dan Wati?"
"Iya."
Ibu itu tersenyum, sambil menuangkan segelas air putih dan disuguhkan pada Vano.
"Terima kasih, Bu."
"Maaf, cuma air putih."
"Tidak apa-apa."
"Nama kamu siapa, Nak?"
"Saya, Vano."
"Oh, saya Mirna, suami saya Joko. Kami tidak punya anak."
"Kalo mau kamu tinggal dengan kita saja, Van," ucap Pak Joko dari dalam kamar. Tak lama kemudian dia keluar dengan pakaian yang sudah ganti.
"Nanti saya pikirkan lagi, Pak."
"Jadi tidak mendengar cerita tentang keluarga Tio yang selalu mulung bersama?"
"Jadi, Pak. Saya penasaran."
"Jadi begini ceritanya, lima tahun lalu ketika Winda berusia dua belas tahun ....
"Kalo gak punya duit jangan utang!" bentak seorang debt colector pada pak Tio. Terlihat Winda bersembunyi dibalik punggung ayahnya. Sedangkan Ibu Wati berbaring tak berdaya di ranjang reotnya.
"Maaf, itu saja belum cukup untuk berobat istri saya, dia harus dirawat karena terkena demam berdarah."
"Itu bukan urusan saya! Saya mau uang!" Debt colector itu memukuli Pak Tio. Tak ada satu pun warga yang berani menolong. Winda mencoba menolong ayahnya yang jatuh tersungkur. Namun, sebuah hantaman keras dari tangan debt colector itu mengenai kepalanya hingga ia tak sadarkan diri. Setelah itu debt colector yang semua berjumlah lima orang melarikan diri.
Semua warga di kampung kumuh mengumpulkan uang mereka untuk membantu Winda dan ibunya ke rumah sakit. Beruntung ada seorang dokter dermawan yang mau membayar biaya pengobatan mereka selama di rumah sakit.
Semenjak hari itu, Winda menjadi penakut dan tidak mau bicara. Sudah satu minggu mereka dirawat di rumah sakit. Wati sudah menunjukjan kondisi yang semakin baik. Begitu pun Winda. Sebenarnya kondisi fisiknya sangat baik. Hanya saja dia trauma berat yang mengakibatkan dirinya tak mau bicara hingga saat ini. Sehingga warga menyebut Winda sebagai gadis bisu.
"O ... jadi sebenarnya Winda bisa bicara," ucap Vano setelah mendengar cerita singkat dari Pak Joko.
"Iya, dia jadi penakut dan tak mau bertemu dengan orang asing."
"Kasian sekali Winda."
Tak lama kemudian Vano memilih pulang ke rumah Pak Tio. Melihat ibu Mirna yang sedang memisahkan botol dan besi bekas, terbesit di pikirannya untuk membantu Pak Tio. Ya, Vano melihat dua karung besar hasil memulung yang belum dibuka. Tak sulit baginya jika hanya sekedar memisahkan botol plastik dan besi bekas. Semoga saja, hal yang ia lakukan dapat membuat pekerjaan mereka lebih ringan.
Hari semakin sore, mereka belum juga pulang. Vano sudah selesai dan menaruh botol dan besi bekas di tempat terpisah. Tak tahu lagi apa yang harus ia kerjakan untuk mereka. Cacing dalam perut mulai bernyanyi meminta asupan. Ah, harus makan apa Vano sekarang? Uang saja tak punya!
Vano melangkahkan kakinya menuju ruang tengah di rumah sempit itu. Terdapat satu meja dengan tudung saji di atasnya. Dengan segera Vano membuka tutup saji itu, berharap ada sisa makanan di bawahnya. Aish, sial! Kosong!
Vano keluar lagi menunggu mereka pulang. Baru saja ia duduk di kursi yang sudah hampir patah, mereka bertiga pulang membawa hasil memulung yang tak penuh.
"Kalian sudah pulang?" tanya Vano girang.
"Iya, ini ibu bawakan nasi bungkus untuk kamu!" Ibu Wati memberinya satu bungkus nasi.
Sigap Vano menerima nasi bungkus itu dan membukanya. Kalau ini nasi hangat dengan tempe goreng saja. Tanpa sayur, tanpa lauk lain. Vano tetap tersenyum menerima makanan itu. Meski pun dalam lubuk hatinya yang terdalam Vano merindukan ibunya, merindukan masakan harum dan enak yang selalu dimasak wanita itu.
"Ibu, sedang apakah kau di sana? Aku hanya bisa mendoakanmu dari sini. Semoga semua baik-baik saja."
"Nak, kenapa melamun? Maaf ibu hanya bisa memberimu lauk tempe saja," ucap Bu Wati.
"Oh, tidak apa-apa. Vano akan memakan ini."
Satu suap nasi Vano masukan ke dalam mulutnya. Ia mengunyah pelan butiran nasi dan satu gigitan tempe goreng.
Sambil melihat Winda, Bu Wati dan Pak Tio yang duduk berkerumun menikmati makanan mereka. Vano berdiri dan melihat apa yang mereka makan. Hatinya teriris sakit melihatnya. Satu bungkus nasi dengan lauk sama seperti yang mereka berikan pada Vano. Hanya saja, mereka makan satu bungkus nasi untuk bertiga.
Vano menundukkan kepala, tersenyum penuh rasa iba. Tak terasa bulir bening terbendung di sudut netra. Sebelum air mata itu jatuh, Vano menarik napas panjang. Mengambil nasi yang masih berada di atas kertas minyak. Ia mendekati mereka dan meletakkan nasi itu.
"Ayo kita makan bersama!" ucap Vano lirih hingga tak sadar air matanya jatuh.
"Kenapa kamu nangis, Vano?" tanya Pak Tio.
"Kamu tidak suka lauknya?" timpal Ibu Wati.
"Bukan, maafkan aku. Karena aku di sini, kalian harus makan sebungkus bertiga." Vano tak sanggup lagi menahan air matanya.
Sebuah tangan halus menyeka air mata itu. Winda, dia menghapus air mata Vano dengan jemarinya. Bibirnya tersungging membuat Vano sedikit terhibur.
"Kami sudah biasa makan seperti ini. Kamu jangan kaget, Van!" ucap Pak Tio meyakinkan Vano.
"Pak, aku rindu ibu," kata Vano dengan suara yang bergetar.
"Kamu mau pulang?"
"Tidak, Pak! Bolehkah aku tinggal bersama kalian? Aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan uang."
"Tinggallah di sini sesukamu hingga kau merasa tenang," jawab Ibu Wati.
"Terima kasih atas kebaikan kalian! Suatu saat aku pasti akan membantu kalian."
"Sudah ceritanya, ayo makan lagi!" tukas Pak Tio mencairkan suasana.
Winda mengambilkan satu potong tempe goreng dan memberikannya pada Vano. Tanpa suara, lagi-lagi hanya senyum manis yang ia torehkan.
"Terima kasih, Win. Kamu juga makan ya!" Vano menerima tempe pemberian Winda dan memakannya.
Dengan makan bersama seperti ini, Vano merasa sangat dekat dengan mereka. Seandainya saja dulu keluarganya seperti ini, mungkin Vano masih bersama mereka sekarang.
"Ibu, tunggu aku! Suatu saat aku akan kembali. Bertahanlah!" batin Vano.