Malam hari terasa begitu dingin. Winda tidur di kamarnya bersama sang ibu. Rumah kecil ini memang hanya memiliki satu kamar. Terpaksa Vano harus tidur berteman tumpukan sampah bersama Pak Tio.
Hanya sesaat setelah Pak Tio memejamkan matanya, Vano melihat beliau sudah terlelap. Dengkurannya menandakan begitu lelahnya ia bekerja. Hanya mengenakan sebuah kaus tipis berlubang dan celana pendek, Pak Tio tak merasakan kedinginan.
Di saat seperti ini Vano merindukan kamarnya yang nyaman. Dengan pengharum ruangan dan kasur yang empuk. Serta selimut tebal yang selalu menghangatkannya di kala dingin.
Namun, malam ini Vano tidur bersama orang lain. Tanpa kasur, hanya beralaskan tikar lusuh. Apa lagi selimut jika pakaian saja mereka hanya memiliki beberapa helai saja. Apakah Vano anak yang kurang bersyukur?
Vano memaksakan diri memejamkan mata. Meringkuk ke kanan ke kiri, hingga akhirnya Vano benar-benar tidur.
Suara ayam jantan berkokok membangunkan Vano. Rasanya masih sangat mengantuk. Tak ingin beranjak dari tikar lusuh itu. Namun, Vano mendengar Pak Tio dan Bu Wati sedang bercakap.
Vano membuka matanya pelan, duduk dan melihat Winda, Bu Wati dan Pak Tio yang sudah bersiap memulung di pagi yang masih gelap ini.
"Kalian mau mulung?" tanya Vano penasaran.
"Iya, Vano," jawab Pak Tio.
"Apa aku boleh ikut?"
"Tentu saja."
Vano beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah karung besar. Winda memberikannya sebuah bilah panjang untuk memudahkan mengambil botol-botol plastik di pinggir jalan.
Mereka berempat meninggalkan rumah. Pak Tio membawa tumpukan sampah yang kemarin Vano pisahkan antara besi dan botol bekas. Ia membawanya kepada juragan barang bekas yang ada di daerah itu.
Satu kilogram botol plastik bekas hanya dihargai lima ratus rupiah. Pak Tio berhasil mengumpulkan sebanyak dua puluh kilogram dan dibayar sebanyak sepuluh ribu rupiah.
Melihat pemandangan ini Vano begitu terenyuh. Dengan uang sepuluh ribu mereka makan untuk bertiga. Dan sekarang Vano tinggal bersama mereka. Apakah Vano tak menjadi beban nantinya?
Mereka menyusuri jalan, selokan, tempat sampah dan mencari barang yang bisa dijual. Pak Tio dan Bu Wati berpencar. Sedangakan Winda diamanatkan untuk tetap bersama Vano. Winda membawa karung kecil dan bilah panjang berujung magnet untuk mencari besi bekas.
Vano tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Tak mungkin selama memulung ia terus diam. Namun, apa yang harus ia katakan?
"Em... Winda, kalian belum ada yang sarapan?" tanya Vano mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Gadis cantik di hadapannya ini hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk kearah Vano dan mengusap perutnya. Vano sedikit mengerti, mungkin dia menanyakan apakah Vano lapar?
"Tidak, aku tidak lapar. Ayo kita cari lagi biar dapat banyak dan bisa beli sarapan," ucap Vano.
Mereka mencari barang-barang dari tong sampah yang sekiranya bisa dijual. Tak ada rasa jijik dalam diri mereka.
Vano dan Winda berjalan menyusuri jalan sebuah gang perumahan. Lalu, Winda mengajak Vano untuk berpindah. Ia menarik lengan Vano menuju sebuah rumah makan yang cukup ramai.
"Win, kita gak punya uang," kata Vano.
Lantas Vano menarik lengan gadis tuna wicara itu agar segera menjauh dari tempat yang harum akan bau masakan yang membuat mereka lapar.
Winda menolak, ia justru masuk ke kawasan itu melalui gerbang samping yang bertuliskan hanya karyawan yang dapat masuk. Vano segera menyusulnya. Gadis berambut panjang ini terus berjalan menuju tempat pembuangan limbah di belakang.
Bilah panjangnya beradu dengan tumpukan sampah yang terbungkus rapi dalam kantong plastik besar. Vano tak mengerti dengan apa yang Winda lakukan. Bagaimana mungkin akan menemukan barang berharga bagi pemulung di tempat seperti ini.
Hati Vano sungguh teriris ketika melihat gadis itu mengambil kantong plastik berukuran sedang. Ia mengambil makanan sisa yang ada di sana. Buah-buahan yang hampir busuk ia masukan dengan wajah yang begitu bahagia.
Tanpa sadar air mata Vano menetes. Hanya buah busuk saja sudah membuat gadis itu sesumringah ini.
Hampir penuh kantong plastik itu berisi jeruk, apel, pisang bahkan irisan melon yang sudah berlendir. Vano meminta agar Winda menyudahi aksinya itu. Untung saja gadis cantik itu mau untuk segera keluar.
Baru saja mereka berada di pintu gerbang dan hendak keluar, dua orang security dengan pakaian hitam menghadang dan menuduh mereka telah mencuri. Winda begitu ketakutan hingga ia bersembunyi di balik punggung Vano sambil memegang erat baju remaja laki-laki itu. Ia menjatuhkan karung kecil yang ia bawa serta bilang panjang yang ada di tangannya.
Vano menoleh dan melihat wajah Winda yang pucat serta tubuhnya yang gemetar. Ia berusaha menjelaskan kepada security itu apa yang terjadi sebenarnya. Namun, tak ada yang percaya dan mereka tetap menganggap Winda dan Vano sebagai pencuri.
Bahkan salah seorang security dengan perawakan tinggi besar menarik baju Vano hingga tubuhnya sedikit terangkat lantas melemparnya kuat. Karung yang sedang Vano pegang pun terlepas. Lantas security itu menumpahkan semua isi dalam karung.
Sedang salah satu security lagi mendekati Winda yang sudah berjongkok sambil memeluk menyembunyikan kantong plastik berisi buah busuk itu di antara perut dan pahanya.
Winda terus mempertahankan plastik itu. Ia tak mau memberikannya pada sang security.
Vano segera berdiri dan akan menghampiri Winda namun, dicegah dan terus dipegangi oleh security yang mendorongnya. Vano kasihan melihat Winda yang menangis hanya demi satu kantong plastik buah busuk.
Keributan terjadi hingga beberapa karyawan di rumah makan itu keluar dan menonton adegan menyedihkan ini. Mereka menunjuk-nunjuk Winda karena percaya dengan omongan security yang mengatakan mereka adalah pencuri.
Seorang pemuda datang. Ia memakai celana panjang hitam, serta memakai kemeja biru muda lengan panjang. Semua orang yang sedang menonton Winda dan Vano terlihat begitu menghormati orang itu termasuk para security.
"Ada apa ini?" tanya pemuda itu.
"Mereka mencuri, Pak," jawab salah satu security.
"Tidak, kami tidak mencuri. Bahkan mereka sudah menumpahkan isi karung kami yang bagi anda mungkin hanyalah sampah," jawab Vano sambil berjalan menghampiri Winda.
"Lalu apa yang disembunyikan wanita bisu itu?"
"Buah, hanya buah busuk yang sudah di buang. Jika tidak percaya aku akan menunjukannya pada kalian."
Vano meminta Winda untuk memberikan plastik itu. Awalnya Winda menolak dan terus menyembunyikannya. Vano mengusap kepala Winda pelan dan membujuknya hingga ia memberikan kantong plastik itu kepada Vano.
Dengan penuh hormat Vano memberikan kantong plastik berisi buah-buahan busuk itu ke pemuda berkemeja biru muda yang ada di hadapannya.
Pemuda itu menerimanya dan membuka bungkusan itu. Jelas sekali terlihat ketika ia menarik napas panjang. Ia kembalikan bungkusan itu pada Vano lalu masuk ke dalam ruangan.
Tontonan bubar. Kedua security kekar itu pergi meninggalkan Vano dan Winda tanpa sebuah kata maaf.
Barang bekas, serta botol-botol plastik yang tercecer dimasukan lagi ke dalam karung. Karung milik Winda yang belum terisi pun Vano masukkan ke dalam karung miliknya.
Vano menuntun Winda yang murung sambil membawa kantong plastik yang sempat menjadi perdebatan.
"Sudah, jangan murung! Jangan menangis! Kita pulang ya!" ucap Vano seraya mengusap air mata Winda yang menetes.
Sebelum mereka pergi, pemuda berkemeja biru itu datang lagi membawakan satu buah melon segar yang masih utuh. Vano tahu dia iba melihat Winda yang memungut melon berlendir.
Vano menolak pemberiannya dengan sopan. Dan Vano meninggalkan rumah makan itu sambil menunutun Winda. Mata gadis tuna wicara ini terus tertuju ke belakang. Menatap sebutir melon yang dipegang pemuda itu.
"Maafkan aku Winda, suatu hari aku akan membelikan buah-buahan segar untukmu. Aku tidak bisa terima harga diri kita diinjak-injak hanya karena buah yang sudah tidak layak ini," batin Vano.