Rasa Bersalah

1132 Kata
Vano menuntun Winda kembali ke rumah. Padahal mereka belum mendapatkan banyak barang bekas. Saat sampai di rumah, Pak Tio dan Bu Wati belum pulang. Vano meletakkan karung berisi beberapa botol bekas ke tanah. Lantas, Winda membawa kantong plastik buah itu ke kamar mandi umum. Vano mengikuti Winda yang ternyata hendak mencuci buah itu. Melon berlendir ia guyur dengan air lalu memakannya dengan wajah bahagia. "Ya Tuhan, aku sungguh iba padanya," batin Vano. Satu potong melon itu sudah habis dalam sekejap. Winda berbalik dan tersenyum ketika melihat Vano yang berdiri mematung. Gadis cantik itu memberi Vano satu butir jeruk yang kulitnya sudah mengeriput. Tak ingin membuatnya kecewa, Vano menerima dan mengupas jeruk yang kulitnya sudah sangat tipis bahkan menempel erat pada buahnya. Satu siung jeruk yang berasa tak manis dan tak asam ini dimakan Vano di depan Winda. Mereka kembali ke rumah. Tak lama kemudian Bu Wati pulang. Kesempatan bagi Vano untuk pergi memulung sendiri. Vano tak menceritakan apa yang terjadi kepada wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibu pengganti. Mungkin saja perasaan Winda akan tergores jika Vano bercerita dan ia mendengarnya. Vano hanya meminta izin kepada Bu Wati untuk memulung. Vano mengambil karung yang sedikit lebih besar dan berangkat membawa sebuah bilah panjang. Entah mengapa langkah kakinya begitu bersemangat. Meski pun perut keroncongan karena matahari yang semakin tinggi dan perutnya hanya terisi jeruk busuk pemberian Winda. Vano melihat sebuah pasar tradisional yang cukup besar dan ia memutuskan mencari barang rongsokan di sana. Bak sebuah mukjizat. Bukan hanya botol plastik yang ia dapatkan dengan mudah. Banyak sayur dan bumbu-bumbu dapur berserakan. Vano melihat beberapa pengemis mengambilnya. Terbesit di pikirannya, pasti akan meringankan Bu Wati jika ia membawa sayur-sayuran itu pulang. Sehingga Bu Wati cukup membeli nasi saja untuk makan. Vano memungut sisa sawi, kol, tomat, cabai, dan masih banyak lagi jenis sayuran yang diambil. Sekiranya bisa dicampur menjadi satu dan dijadikan lauk untuk makan siang nanti. Vano melihat tukang buah di dalam pasar tradisional itu. Kebetulan melon yang ada begitu besar. Sangat menggiurkan. Winda pasti menyukainya. Ia mendekati penjual itu dan bertanya padanya, "Pak, harga melon berapa?" "Satu kilo sepuluh ribu, kalau beli utuh paling cuma dua puluh ribu, mau yang besar juga ada," jawab penjual itu. "Iya, Pak." Mendengar penjual itu mengatakan harganya yang hanya sepuluh ribu rupiah saja membuat Vano bingung. Sangat sulit mendapatkan uang itu. Padahal uang saku sekolahnya saja lebih banyak. Dan Vano jadi tahu betapa sulitnya mencari uang. Vano begitu bertekad bisa membelikan Winda melon segar. Namun, ia sadar untuk membeli melon itu tak mungkin bisa jika hanya mencari uang dengan mencari botol bekas di pasar. Tak jauh dari pasar tradisonal, ada sebuah komplek perumahan. Vano berharap menemukan besi-besi yang tak terpakai. Karena jika mendapatkan besi bekas tiga kilo saja, Vano bisa membelikan Winda melon segar. Vano sungguh beruntung ketika sedang mengais sampah di depan rumah warga, seseorang keluar dari pintu dan menyapanya. Lelaki paruh baya dengan rambut sudah beruban menawari Vano potongan besi bekas yang cukup banyak. Awalnya Vano menolak karena mengira besi itu harus ditukar dengan uang. Ternyata lelaki baik berkumis tebal itu memberi Vano secara cuma-cuma. Vano mengambil semua besi bekas itu dan memasukkan ke dalam karung. Karena tak muat, bahkan lelaki paruh baya ini memberinya karung dan membantu memasukkan barang berharga bagi para pemulung ini. "Dek, di ujung gang ini ada tempat penjualan besi dan botol bekas, kamu bisa jual di sana," ucap pria baik itu. "Baik, Pak. Terimakasih banyak atas semuanya." Karung yang Vano bawa sudah terasa berat. Ia sudah tak sabar untuk menjualnya agar bisa menebus rasa bersalahnya pada Winda dan membelikannya melon segar. Sesampainya di sana, botol dan besi ditimbang terpisah. Botol plastik yang belum seberapa ini hanya seberat dua kilogram dan dihargai seribu rupiah. Untung saja besi pemberian lelaki baik tadi sangat membantu Vano. Meski hanya tujuh kilogram namun, harganya empat ribu rupiah per kilogram. Sehingga Vano bisa mendapatkan dua puluh sembilan ribu rupiah. Penadah barang bekas ini memberikan bonus seribu rupiah sehingga total pendapatan Vano menjadi genap sebesar tiga puluh ribu rupiah. Vano melipat karung yang kini hanya berisi sayur mayur hasil memungut dan Vano segera kembali ke pasar untuk membeli melon. Vano hanya bisa membeli satu kilogram saja. Karena ia juga ingin membelikan nasi untuk keluarga yang telah menolongnya itu. Bibir tipisnya tak henti-hentinya tersungging. Di tengah perjalanan Vano melangkahkan kakinya menuju warung makan pinggir jalan. Uang sebesar dua puluh ribu rupiah ia berikan semua kepada penjual. Ia meminta empat bungkus nasi dengan lauk sesuai harga saja. Nasi putih dengan satu jenis sayur dan satu buah perkedel kentang. "Dua puluh ribu untuk lauk seperti itu hanya cukup untuk dua bungkus," kata penjual itu. "Jika nasi dan perkedel saja bagaimana?" tawar Vano. "Ya sudah, kali ini saya akan tetap memberimu empat bungkus dengan lauk sesuai permintaanmu. Tapi lain kali tidak bisa ya!" "Ya, Terima kasih." Vano sangat beruntung. Ia selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Sesampainya di rumah, Pak Tio dan Bu Wati sedang memisahkan hasil kerjanya. Vano melihat Winda yang sedang mengupas jeruk yang sudah tak enak lagi. Vano masuk dan mengambil jeruk yang ada ditangan Winda lalu meletakkannya di meja. Vano mengambil melon dari dalam karung dan memberikannya pada gadis bisu itu. Winda begitu bahagia. Bahkan ia terus memegang lengan Vano. "Kamu makan ini aja ya, Win," ucap Vano. Gadis bisu itu mengangguk dan segera memotong melon segar pemberian Vano dengan pisau. "Kamu dapat darimana, Van?" tanya Bu Wati yang berhenti melakukan aktivitasnya. "Rejeki, Bu. Dapet besi banyak dan langsung aku jual. Oh ya, kalian belum makan 'kan?" "Belum, Vano. Hari ini hasilnya baru sedikit. Harus dikumpulin dulu. Kalau dijual sekarang gak kekumpul uangnya," jawab Pak Tio. "Aku sudah beli nasi buat kalian, aku juga bawa sayur serta bumbu biar bisa dimasak dan menghemat pengeluaran kita. Jadi nantinya kita hanya beli nasi saja." "Terima kasih, Vano. Semoga rejeki kita semakin lancar. Kalau perlu kita beli beras jangan beli nasi," tukas Bu Wati. Kedua orang tua Winda menghentikan aktivitasnya dan makan makanan pemberian Vano. Membuka bungkusan itu lagi-lagi Winda bahagia karena mendapati lauk meski hanya satu potong perkedel kentang yang sangat jarang ia makan. Biasanya keluarga ini membeli nasi satu bungkus untuk bertiga dan hanya dengan satu jenis sayur saja. Perkedel yang makanan biasa adalah makanan mewah bagi mereka. Mereka menikmati makanan itu dengan sangat lahap. Vano bahagia melihat mereka juga bahagia. "Aku kan berkerja untuk kalian dan Winda. Apa pun akan aku lakukan demi keluarga sederhana nan baik ini," batin Vano. Satu lagi tujuan Vano adalah mengumpulkan uang dan memeriksakan Winda ke rumah sakit. Apa pun bisa terjadi dan trauma Winda harus segera disembuhkan. Agar gadis cantik ini bisa bicara dan tak perlu takut pergi sendirian. Selesai makan, Vano membantu Bu Wati memilih sayur yang akan dimasaknya untuk makan malam. Hanya saja belum ada uang untuk membeli nasi. Akankah malam ini hanya akan makan sayur tanpa nasi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN