Mengamen

1103 Kata
Tak mungkin Vano hanya berdiam diri melihat mereka menahan lapar dan hanya makan satu kali sehari. Vano meminta izin keluar lagi membawa karung dan mencari botol bekas kemana pun agar bisa membeli nasi. Saat keluar rumah, Vano berpapasan dengan Pak Joko yang baru saja pulang memulung. Ia membawa sebuah gitar yang sudah pudar warnanya. Namun, jumlah senar masih lengkap. Vano meminjam gitar itu dan ia mengembalikan karung ke rumah Pak Tio. Memang tak terlalu mahir. Namun, Vano bisa bermain gitar dan bernyanyi. Tujuan pertama Vano adalah komplek perumahan. Dari pintu ke pintu ia bernyanyi lagu band Indonesia yang ia bisa. Di saat jam siang seperti ini banyak orang yang menutup pintu karena mereka bekerja. Tapi banyak juga yang memberi Vano meski hanya uang receh lima ratus rupiah. Setiap uang yang Vano dapat dimasukkan ke dalam kantong celana. Ia belum menghitungnya. Harapanya agar uang yang ia dapatkan cukup untuk membeli nasi atau pun beras untuk makan malam. Vano memutuskan untuk mengamen di pasar yang tadi ia kunjungi. Berjalan pelan sambil bernyanyi dan memainkan gitar. Baru sekitar lima penjual yang didatangi Vano. Preman pasar datang dan mengusirnya. Vano terpaksa keluar dan berjalan lagi mencari tempat yang bisa membuatnya menghasilkan uang. Sebuah tangan menepuk bahunya. Membuat Vano terkejut dan menoleh pelan. Preman pasar itu mengikuti Vano. Ia menarik baju dan menyeret Vano ke sebuah gang sepi di pinggiran gedung tinggi. Dengan kasar ia mendorong Vano hingga tubuhnya tersungkur. Semua uang diminta preman itu. Vano tak memberikannya. Hanya ini uang yang bisa membuat mereka makan malam nanti. Vano berusaha melawan. Namun, postur tubuh preman itu membuat Vano terjatuh hanya dengan sekali pukulan. Darah keluar dari sudut bibir Vano yang pecah karena sebuah tinjuan. Vano tak kuasa menahan rasa sakit itu. Vano menjadikan gitarnya sebagai tumpuan untuk berdiri. Namun, dihajar sekali lagi dengan tendangan tepat mengenai d**a. Rasanya sesak. Sampai Vano tak kuat berdiri lagi. Tak ada tenaga untuk melawannya. Semua uang dalam kantong celana Vano berhasil diambil dan tak menyisakan sepeser pun. Vano langsung membayangkan wajah Winda dan kedua orang tuanya. "Maafkan aku, keinginanku agar kalian tak lapar harus musnah begitu saja," batin Vano. Remaja yang kabur dari rumah itu masih terbaring di tanah. Meringkuk memegangi dadanya yang sakit. Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan gang. Pria itu lagi, pria di rumah makan yang ia tolak pemberian buah segarnya untuk Winda. Samar-samar Vano melihat langkah kakinya mendekat. Ia membantu Vano untuk duduk tegak dan mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Ia usap darah segar yang masih keluar dari sudut bibir bocah malang itu. "Kau tak apa?" tanya pemuda itu. "Ya," jawab Vano singkat. Lantas ia berdiri terhuyung-huyung. Pria itu membantu mengambilkan gitar dan memberikannya pada Vano. "Apa kau masih ingat aku?" tanya pemuda itu lagi. Vano menatap wajahnya tajam. Tentu saja ia masih mengingat kejadian memilukan tadi pagi. "Tentu saja," balas Vano. "Perkenalkan, namaku Fabio. Aku manager di rumah makan itu." "Aku, Vano." Mereka berjabat tangan dan saling berkenalan. Setelah mengobrol banyak Fabio mengeluarkan dompet dan memberi Vano uang. Vano menolak. Lantas ia pergi meninggalkan Fabio yang masih berdiri mematung. Sesampainya di rumah, warga sekitar berkerumun melihat wajah Vano yang lebam. Pak Joko dan Bu Mirna sampai datang ke rumah Pak Tio untuk menanyakan keadaan dan kejadian yang menimpa Vano. Tak hanya itu, Pak Tio dan Bu Wati terlihat sangat cemas. Wanita paruh baya itu mengambilkan air minum serta air hangat untuk mengompres lebam di pipi dan mengelap darah kering yang ada di bibir Vano. "Kamu kenapa sampe begini," tanya Bu Wati penuh perhatian. Vano menceritakan semuanya dan menunjukkan sisi Vano yang lemah. Air mata yang ia bendung akhirnya jatuh. Vano mengembalikan gitar yang ia pinjam kepada Pak Joko. Pria paruh baya yang tak memiliki anak itu menolak dan memberikan gitar itu cuma-cuma dengan alasan tak laku dijual. Vano melihat sekeliling ruangan dan tak melihat Winda. Ia bertanya pada Bu Wati dan ternyata Winda berada di belakang. Ia takut melihat luka karena trauma akan kejadian lampau yang menimpa Pak Tio saat dikeroyok debt colector. Vano menghampiri Winda yang sedang jongkok. Matanya terpejam erat, kedua tangan menutupi telinganya. Vano mendekatinya dan mengusap kepalanya. Ia meyakinkan gadis tuna wicara itu bahwa keadaannya baik-baik saja dan hanya mengalami luka kecil. Winda melepaskan tangan yang menutupi telinganya. Lantas, Vano menggenggam erat hingga ia mau membuka mata. Air matanya Winda mengalir. Vano menghapus dengan tangannya dan kembali mengusap kepalanya. Vano mengatakan sekali lagi bahwa dirinya baik-baik saja. Bibir tipis Winda mulai tersungging. Gadis itu ceria lagi. Saat Vano memegang pundaknya, ia baru menyadari bajunya berlubang dan penuh jahitan. "Ya Tuhan, apa lagi ini?" Vano teringat ibunya sendiri di rumah yang sering membelikannya baju baru. Tak pernah sekali pun Vano mengenakan baju lusuh, pudar warna apalagi sampai berlubang. "Ibu, aku terus merindukanmu." Tak kuasa menahan rindu, Vano keluar dan menghampiri Bu Wati yang sedang memasukkan sayuran yang ia peroleh ke dalam plastik. "Bu, untuk apa itu?" tanya Vano. "Mau dijual, buat beli nasi bungkus nanti. Mudah-mudahan saja laku." "Bu, apa boleh aku memanggilmu ibu?" Air mata Vano tak sanggup ia bendung. Membuat Bu Wati terheran. "Kamu kenapa?" "Bolehkah aku memanggilmu ibu?" Vano mengulang pertanyaannya. "Tentu saja, panggil saja aku ibu." Pak Tio yang sedang duduk terus memeperhatikan Vano yang menangis sesenggukan seperti anak kecil yang mencari ibunya. "Bolehkah aku memelukmu?" Mendengar kata itu, Bu Wati meletakkan kantong plastik yang sedang ia pegang. Ia memeluk Vano dan menepuk punggungnya pelan. "Aku rindu ibu, aku rindu ibuku," tangis Vano dalam pelukan hangat Bu Wati yang menenangkan. Suasana haru pun pecah. Pak Tio berdiri dan mengusap punggung Vano. Bahkan ia bersedia mencarikan uang agar Vano bisa pulang. Vano menolaknya. Meski pun ia sangat merindukan ibu kandungnya, namun, Vano tak ingin pulang. Vano ingin suatu hari bisa membahagiakan Pak Tio dan Bu Wati agar bisa hidup layak tanpa kelaparan. Membelikan rumah dan pakaian yang layak. Ia akan selalu mengingat kebaikan mereka. Dari keluarga ini Vano mengerti arti sebuah kehidupan. Semua materi yang didapatkan dengan mudah sejak kecil tak bisa ia nikmati di sini. Vano belajar bertahan hidup dengan keadaan kekurangan. Namun, sesuatu yang tak bisa dibandingkan dengan uang dari keluarga mereka adalah sebuah kasih sayang tulus dari Pak Tio dan Bu Wati. Bukan berarti Vano melupakan kedua orang tuanya. Apalagi ibunya yang membesarkan penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Vano akan selalu merindukan mereka. Suatu saat ia akan menemukan jalan pulang. Dan berharap ayah dan ibunya kembali bahagia seperti saat ia kecil. "Apa kau tahu, Bu? Aku sangat merindukan belaianmu. Merindukan perhatianmu, merindukan segala-galanya yang membuat aku menjadi anak laki-laki yang manja." Vano bersumpah akan menunjukkan pada ayahnya kelak, bahwa Vano lelaki kuat dan hebat yang bisa melindungi ibunya. Agar ayahnya tak semena-mena memperlakukan surganya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN