Pelukan dari seorang ibu yang penuh kasih sayang mampu menenangkan Vano yang amat merindukan ibunya sendiri yang jauh di sana.
Winda menghiburnya dan memberi Vano satu potong melon yang tadi ia beli. Vano menolak karena melon itu memang sengaja dibelinya untuk Winda.
"Untukmu saja, aku tak suka melon." Vano menolak halus.
Bu Wati sudah meninggalkan rumah untuk menjual sayur hasil memungut di pasar. Vano berharap semoga saja ada yang membelinya.
Winda membantu Pak Tio memasukan barang bekas yang sudah terpisah ke karung. Sebuah ketukan lirih di pintu membuatnya dan Pak Tio menoleh. Betapa terkejutnya Winda melihat pria itu. Ia langsung berlari bersembunyi di belakang ayahnya.
"Fabio, bagaimana kau tahu rumah kami?" tanya Vano heran.
"Aku mengikutimu, maafkan aku."
"Jadi kau sudah berada di situ sejak tadi?"
"Tidak. Setelah aku mengetahui rumahmu, aku pergi lagi membeli ini untuk kalian." Fabio membawa kantong plastik besar berisi berbagai buah-buahan segar.
Winda mengintip di balik pundak sang ayah. Vano memberitahukan padanya bahwa dia pria baik. Vano mengenalkan Fabio pada Pak Tio dan Winda.
Gadis lugu ini enggan bersalaman dengan pemuda berbaju biru muda yang ada di hadapannya. Fabio mengerti dan tak mau memaksa.
Vano membujuk Winda lagi hingga ia keluar dari persembunyiannya. Dengan penuh keramahan Pak Tio menyuruh Fabio masuk. Sesekali mata pria ini berjalan melihat sekeliling rumah yang bisa dikatakan tidak layak huni.
Karena hasil hari ini masih sedikit, Pak Tio meninggalkan mereka bertiga di rumah. Winda duduk menempel di sebelah Vano. Tangannya memegang erat baju yang Vano kenakan. Terlihat sekali ia masih trauma dengan kejadian tadi pagi di rumah makan.
"Aku baru melihat kakak beradik sedekat ini," ucap Fabio.
Vano hanya tersenyum padanya. Winda terus menunduk dan semakin erat menggenggam baju Vano.
Fabio mengatakan pada Vano bahwa akan mempekerjakan Winda di rumah makan miliknya. Ia cukup di dapur untuk mencuci piring dan mencuci bahan makanan. Jadi tak perlu bertemu dengan pelanggan.
Vano menanyakan pada Winda apakah dia bersedia bekerja atau tidak. Sebenarnya ini tawaran bagus. Winda akan memiliki penghasilan tetap dan tak perlu lagi mengenakan pakaian yang sudah robek di mana-mana.
"Mungkin aku tanyakan dulu pada ayah dan ibu," ucap Vano.
"Tentu saja, jika Winda mau langsung temui aku di rumah makan."
Winda masuk ke dalam dapur reot di belakang dan mengambilkan segelas air putih untuk Fabio. Vano lega, akhirnya Winda mau berinteraksi dengan pria baik ini.
Cukup lama Vano dan Fabio mengobrol. Vano memperhatikan Fabio yang sepertinya menyukai Winda. Beberapa kali Vano memergoki pria kaya itu sedang mencuri pandang pada gadis di sampingnya itu.
Vano melirik Winda dan terlihat sepertinya dia juga menyukai Fabio. Senyum merekah kecil di bibir Vano. Tetapi dalam hati kecil yang terdalam Vano tak mengerti mengapa ada rasa kesal dibuatnya.
Bu Wati pulang membawa empat bungkus nasi dan diletakan di meja. Wanita paruh baya ini berkenalan dengan tamu yang sedang duduk di kursi lapuk yang hampir ambruk.
Fabio juga menceritakan kedatangannya untuk mempekerjakan Winda di rumah makan meski sebagai buruh cuci. Tanpa pikir panjang Bu Wati menyuruh Winda untuk menerima pekerjaan itu. Jarang ada orang yang mau mempekerjakan mereka yang tak berpendidikan.
Memang Winda menyukai Fabio. Ketika ibunya mengijinkannya bekerja di rumah makan itu, gadis berambut hitam ini begitu antusias dan terlihat senang.
Pria kaya ini pulang dan berpesan agar besok pagi Winda langsung datang mengenakan pakaian yang rapi dan bersih.
Setelah kepergian Fabio, Winda berlari menuju kamarnya. Karena penasaran Vano mengikutinya dan mengintip di balik pintu kamar. Ternyata gadis ini membuka kardus berisi pakaiannya. Semua dicoba satu persatu dan gadis ini kembali murung.
Kaki Vano terasa ingin melangkah mendekatinya. Namun, Bu Wati dengan mata sayunya menarik tangan Vano dan menggelengkan kepalanya.
Bu Wati mengajak Vano keluar. Ia tahu apa yang dirasakan anaknya saat ini. Sejak kecil ia tak pernah memiliki baju baru. Semua baju bekas pemberian orang atau bahkan baju buangan yang diambil di tempat sampah.
Pak Tio pulang dengan raut wajah lesu. Karung nya rak terisi penuh.
"Bu, hari ini kita tak makan," ucap lelaki tua itu.
"Berkat Vano yang memungut sayur di pasar, kita bisa makan satu orang satu bungkus nasi, Pak."
"Maksud ibu?"
"Sayurnya ibu jual ke warung nasi langganan ibu dan mereka membayar dengan nasi empat bungkus meski hanya lauk sayur."
"Syukurlah."
Sebelum Pak Tio masuk, Bu Wati menceritakan semua yang terjadi hari ini. Kedua pasangan yang sudah membina rumah tangga cukup lama ini begitu sedih. Anak gadisnya sudah semakin dewasa dan mereka tak pernah mampu membelikannya sehelai baju.
"Pak, Bu, besok Vano mungut sayur sisa lagi saja biar bisa ditukar dengan nasi bungkus," ucap Vano pada mereka.
"Tidak usah. kalau kamu ketemu preman itu lagi bagaimana? Biar ibu yang mungut sayur, kamu sama bapak mulung ya?"
"Baiklah."
Mereka bertiga masuk. Winda sudah keluar dari kamarnya. Ia Sedang mengupas jeruk segar dari Fabio.
"Van, kamu mau makan sekarang?" tanya Pak Tio pada Vano.
"Nanti saja bareng kalian."
Winda melambaikan tangan dan menyuruh Vano dan kedua orang tuanya duduk menikmati buah yang ada.
Meski banyak hal yang terjadi, namun, semua ada hikmahnya. Hari ini mereka makan nasi satu bungkus satu orang. Tak seperti kemarin. Lantas mendapatkan buah-buahan juga merupakan rizki yang sangat besar bagi Winda dan keluarga.
Saat sedang makan, Winda berkata dengan bahasa isyarat yang menyatakan bahwa besok ia tak jadi bekerja karena tak memiliki pakaian bagus. Semua bajunya hampir memiliki lubang. Ia masih sanggup tersenyum meski dalam hatinya menangis.
"Win, besok mulung bareng aku mau?" tanya Vano.
Gadis berambut panjang ini mengangguk sambil mengunyah buah jeruk hingga mulutnya penuh.
"Besok kita cari botol bekas yang cukup besar, nanti kita nabung ya! Kalau sudah penuh buat beli baju baru."
Mendengar ajakan Vano, gadis tuna wicara itu begitu senang. Bu Wati bahkan memuji Vano. Setelah kehadiran Vao di tengah keluarga kecil ini, hari-hari mereka semakin berwarna. Winda menjadi lebih ceria dan entah kenapa ada saja rizki yang datang menghampiri keluarga pemulung itu.
Vano begitu tersanjung mendengar ucapan Bu Wati.
"Syukurlah jika kehadiranku membawa kebahagiaan di rumah ini."
"Win, mulai sekarang aku akan jadi kakakmu, aku akan menjagamu, aku janji," sambung Vano seraya menunjukkan kelingkingnya kepada Winda di depan Bu Wati dan Pak Tio.
Winda tersenyum lagi. Entah berapa kali ia menjawab pertanyaan Vano dengan senyuman. Ia lingkarkan kelingking kecilnya ke kelingking Vano.
"Janji kelingking ini akan aku ingat. Aku pasti bisa membuatmu bahagia, Winda," batin Vano.
Semoga saja trauma Winda segera berkahir dan ia bisa berbicara pada Vano.
"Mintalah sesuatu padaku sebagai kakakmu. Aku akan berusaha mewujudkannya. Apapun caranya asal kau bahagia," kata Vano.
Akankah Vano melupakan keluarganya dan hidup sebagai kakak dari gadis bisu ini?