Keesokan paginya, ketika matahari masih bersembunyi dari tempat peraduannya. Vano dan Winda bersiap untuk bekerja. Begitu pun Pak Tio dan Bu Wati.
Seperti yang dikatakan wanita paruh baya ini kemarin. Ia akan pergi ke pasar untuk mengais sayuran sisa dan layu yang masih layak konsumsi untuk ditukar dengan nasi bungkus.
Mereka berpencar, Vano bersama Winda menuju komplek perumahan yang berbeda dengan perumahan yang sudah Vano datangi kemarin. Berjalan menyusuri trotoar sambil mengorek tempat sampah di pinggir jalan.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Vano melihat seorang pengamen yang sedang menyanyikan lagu sembari membawa gitar di lampu merah. Suaranya parau. Namun, Vano melihat banyak pengendara mobil maupun motor memberinya uang.
"Ah, aku jadi berpikir untuk mengamen lagi," batin Vano.
Sesekali Vano memegang dadanya yang masih terasa ngilu akibat tendangan preman pasar kemarin. Luka di wajahnya memang sudah tidak memar meski masih meninggalkan sedikit warna biru di pelipis kanan.
Tak terlalu lama Vano dan Winda berkeliling komplek perumahan serta tempat-tempat sampah yang mereka temui. Vano memutuskan untuk pulang karena lapar.
"Semoga saja Bu Wati sudah kembali membawa nasi bungkus untuk sarapan."
Bukannya Bu Wati dan Pak Tio yang mereka dapati. Justru Fabio sudah berdiri di depan pintu.
Hari masih pagi, matahari belum terik. Harusnya Fabio bekerja mengapa malah ada di sini?
"Winda, kamu tidak datang? Aku tunggu kamu dari jam tujuh. Sekarang sudah jam sembilan, lho," ucap Fabio dengan lembut.
Winda menggelengkan kepalanya dengan sedih. Vano menjelaskan pada Fabio dan lelaki tampan ini terlihat begitu iba pada gadis itu.
Pria baik ini mengajak Winda dan Vano untuk ikut naik ke mobilnya. Vano mengira Fabio akan membawa mereka ke rumah makan miliknya dan mengantar Winda bekerja. Ternyata dugaan Vano salah. Ia mengajak mereka ke sebuah toko baju yang baru saja buka.
Winda dan Vano turun. Vano terus menggandeng tangan gadis manis ini. Mereka berdiri mematung karena tak mengerti apa yang Fabio maksudkan dengan menepikan mobilnya di toko pakaian ini.
Fabio mengajak Vano dan Winda masuk ke dalam. Tentu saja mereka berdua menolak. Untuk makan saja sulit. Tak mungkin Vano dan Winda mampu membeli sehelai baju di toko sebesar itu.
"Kalian kenapa, sih? Ayo masuk!" ajak Fabio.
Vano menolak dengan lembut ajakannya. Namun, ia memaksa dan Vano tak bisa menolak lagi.
Winda diminta untuk memilih baju apa pun yang ia sukai. Sebanyak apa pun. Begitu juga dengan Vano.
Justru Vano bingung dan hanya diam mematung. Karena tak ada respon dari Vano dan Winda, Fabio asal mengambilkan beberapa helai pakaian dan membayarnya di kasir.
Fabio memberikan baju yang sudah terbungkus rapi itu pada Vano. Kemudian mengantarkan mereka berdua pulang.
Dalam mobil, Fabio mengatakan bahwa Winda harus bekerja hari ini. Ia akan menunggunya untuk mempersiapkan diri dan berganti pakaian yang sudah dibelikannya. Winda begitu bahagia mendengarnya. Melihat gadis cantik ini ceria, Vano pun ikut bahagia.
Sesampainya di rumah, Pak Tio dan Bu Wati sudah pulang. Karena tak sabar, Winda langsung berganti pakaian dan masuk ke kamar tanpa menyapa kedua orang tuanya.
"Kalian dari mana?" tanya Pak Tio.
Sebelum Vano menjawab, Fabio terlebih dulu menjawab dan menceritakan semuanya. Kedua orang tua ini senang. Akhirnya putri mereka dapat bergaul dengan orang lain. Semoga ke depannya bisa menjadikan obat agar Winda tak trauma lagi dengan orang asing.
Winda keluar, ia memakai gaun pink bermotif bunga kecil. Rambutnya dibiarkan tergerai. Tanpa make up yang menempel di wajah cantik alaminya.
Ia berpamitan kepada orang tuanya dan pada Vano. Bu Wati terlebih dulu menyuruh anak gadisnya untuk sarapan namun ditolak. Lantas pria baik ini berjanji untuk memberinya makan di tempatnya bekerja.
Fabio membukakan pintu mobil untuk gadis manis itu. Kemudian ia berpamitan dan pergi meninggalkan kampung pemulung yang kumuh.
"Vano, sarapan dulu, yuk!" ajak Bu Wati pada Vano.
Mereka bertiga makan nasi bungkus seperti biasa dengan lauk seadanya. Bu Wati berhasil mengumpulkan banyak sayuran sisa dan bahkan kabar bahagianya adalah ketika pemilik warung makan langganan wanita paruh baya ini meminta agar Bu Wati bersedia menjual sayurannya padanya.
Selesai sarapan, Vano membantu Pak Tio memisahkan barang-barang bekas yang diperoleh kemarin dan hari ini. Hasilnya sudah lumayan banyak dan akan dijual ke penadah hari ini.
Ketika Pak Tio pergi, Vano melihat Bu Wati yang sedang menghitung uang receh. Ia masukan dua koin uang lima ratusan ke dalam celengan dari botol bekas.
"Ibu nabung?" tanya Vano.
"Iya. Ibu dapat ide dari kamu. Tadi ada sisa uang dari penjualan sayur, dapat uang lima ribu sama nasi bungkus empat, lumayan 'kan?"
"Iya, Bu. Syukurlah. Vano istirahat sebentar, nanti siang Vano mulung lagi, sekalian jemput Winda sorenya."
"Emang Winda pulangnya sore bukan malam?"
"Oh, iya. Rumah makan itu kan tutup jam sembilan malam. Ya sudah, Vano jemput nanti malam saja."
"Iya."
Vano mengambil gitar yang bersandar di tembok bilik bambu rumah keluarga ini. Sudah lama ia tak bermain gitar. Jarinya terasa kaku. Perlu melemaskannya dengan latihan.
Jreng ... jreng ... jreng ....
Vano memetik senar gitar itu dan menyanyikan sebuah lagu.
Ada yang lain disenyummu, yang membuat lidahku gugup tak bergerak. Ada pelangi di bola matamu, yang memaksa diri tuk bilang aku sayang padamu.
"Van, suaramu bagus," ucap Bu Wati yang sedang duduk menikmati segelas air putih tanpa camilan.
"Benarkah? Ibu mau dengar aku bernyanyi?"
"Tentu saja."
"Baiklah, Bu."
Jreng ... jreng ... jreng ....
Maha besar kau telah berikan ku hidup. Dia segalanya di hidupku. Bunda yang ku cintai di dalam hatiku. Dia terbaik di mataku.
Tanpa terasa Vano menangis menyanyikan lagu itu. Ia teringat ibunya lagi.
Bu Wati menghibur Vano dan memintanya menyanyikan lagu bahagia. Vano menurutinya. Beberapa lagu Vano nyanyikan dan tanpa sadar Pak Joko dan Bu Mirna sedang menguping di balik pintu depan.
prok ... prok ... prok ...
Suara tepuk tangan mengagetkan Vano. Mereka masuk dan memuji suara Vano yang merdu. Mendapat pujian itu justru membuat Vano tak percaya diri.
"Tak sia-sia aku memberikan gitar itu padamu, Nak," kata Pak Joko.
"Terima kasih, Pak Joko."
Pak Joko menyuruh Vano untuk mengamen lagi. Namun, dengan keras melarang untuk mengamen di pasar. Ia tak mau ada preman yang akan memukuli Vano lagi.
Beruntungnya Vano dikelilingi oleh orang yang sangat perhatian dan baik. Apakah memang sudah takdirnya hidup bersama mereka?
Materi bisa dicari. Namun kebahagiaan seperti ini sangat sulit Vano dapatkan ketika ia tinggal bersama orang tua kandungnya.
Untuk mengisi waktu luang sembari beristirahat, Pak Joko meminta Vano untuk mengiringi ia bernyanyi lagu lawas milik penyanyi terkenal yang berjudul 'Bento'.
Suasana begitu menyenangkan. Mereka bergembira. Hanya dengan gitar tua semua bahagia.