Vano sudah cukup untuk melemaskan jari-jarinya. Sudah saatnya ia kembali mencari rizki halal untuk bertahan hidup. Kali ini ia pergi memulung sendirian karena Winda sudah menemukan pekerjaan baru yang jauh lebih layak.
Vano menyusuri jalan yang berbeda dengan jalan yang ia lalui tadi pagi. Namun, pekerjaannya tetaplah sama. Mengais tong sampah mencari benda berharga bagi para pemulung seperti dirinya saat ini.
Segerombol anak sekolah menengah atas berjalan tepat di depan Vano yang sedang mengorek tempat sampah. Mereka begitu ceria, saling bercanda membuat Vano merindukan masa sekolah. Ia sampai lupa bahwa dirinya masih berstatus pelajar.
"Sudahlah! Biarlah masa sekolah yang tak begitu menyenangkan ku kenang dalam angan," batin Vano.
Tak terasa Vano sudah jauh berjalan. Hari semakin sore. Karung besar yang ia bawa sudah terisi penuh. Tetapi tidak terasa berat karena hanya berisi botol plastik.
Vano kembali ke rumah. Pak Tio sudah pulang dan sedang memilih barang yang akan dijual besok. Ditambah karung milik Vano yang penuh. Syukurlah, semoga bisa mendapatkan uang yang lebih banyak dari sebelumnya.
Bu Wati sudah membeli empat bungkus nasi. Masih utuh tergeletak di atas meja. Wajahnya terlihat gelisah. Vano memperhatikan wanita paruh baya itu sambil berlalu menuju dapur untuk mengambil air minum.
Vano kembali membawakan air hangat untuknya. "Bu, minumlah! Kenapa terlihat cemas begitu?" tanya Vano.
"Ibu juga tidak tau, Van. Perasaan ibu dari tadi tidak enak."
"Tenang, Bu. Nanti jam sembilan Vano segera jemput Winda ya! Ibu makan dulu saja."
"Iya, kita makan sama-sama ya, Van. Ayo, Pak! Kita makan dulu," seru Bu Wati pada suaminya.
Untuk pertama kalinya selama Vano berada di sini merasakan makan tanpa Winda. Rasanya aneh, seperti ada sesuatu yang kurang.
Selesai makan, Vano keluar rumah menatap langit yang sudah menghitam. Tak ada bulan atau satu bintang pun yang terlihat. Dari jauh terlihat kilat yang menyambar. Malam ini mendung. Keluarga Pak Tio tidak memiliki payung. Vano berdoa agar tak hujan sebelum Winda kembali ke rumah.
Jarum jam di dinding bilik bambu menunjukan baru pukul delapan malam. Suasana hati Vano tiba-tiba saja menjadi tidak tenang. Sama seperti Bu Wati. Vano merasa sangat khawatir akan gadis tuna wicara itu.
Vano melangkahkan kakinya meninggalkan rumah menuju tempat kerja Winda. Jarak yang tak jauh membuatnya memutuskan untuk berlari di tengah gerimis yang mulai turun.
Vano terkejut ketika melihat rumah makan tempat di mana Fabio dan Winda bekerja ternyata sudah tutup. Namun, mobil sedan hitam milik pria muda itu masih terparkir di halaman.
Vano masuk melalui pintu samping sama seperti saat dirinya dan Winda masuk untuk memungut sisa buah dari rumah makan ini. Tak ada siapa pun di dalam. Lantas, Vano menelusuri setiap ruangan.
Samar-samar terdengar suara tangisan seorang wanita. Vano mendengarkan dengan seksama untuk mencari sumber suara itu. Semakin ia melangkahkan kakinya mendekati tangga, suara tangisan itu semakin terdengar jelas.
Vano berjalan naik ke lantai dua dengan penuh hati-hati agar suara langkahnya tidak terdengar.
Sebuah ruangan dengan pintu kayu bercat hitam tertutup rapat. Terdapat jendela kaca dengan tirai yang menutup. Suara tangisan itu jelas sekali bersumber dari dalam.
Vano mencari celah untuk mengintip dan mencari tahu apa yang terjadi di dalam. Untung saja tirai di ujung jendela sedikit terbuka. Ia melihat ke dalam dan emosinya tiba-tiba tak bisa ditahan.
Seorang gadis duduk di lantai sambil menangis. Rambut hitamnya tergerai berantakan. Tangan wanita itu terus menutupi dadanya karena baju yang ia kenakan robek. Baju baru berwarna pink dengan motif bunga kecil. Winda!
Vano mencoba untuk membuka pintu hitam dan ingin segera menolong Winda. Pintu itu terkunci. Ia terus memanggil nama gadis tuna wicara itu berulang kali seraya berteriak.
Tak ada jawaban dari Fabio ketika Vano mengetuk pintu itu. Vano sudah tak sabar, dengan sekuat tenaga ia mendobrak dengan tubuhnya dan sesekali menendangnya dengan kaki hingga akhirnya pintu itu terbuka.
"Winda!" teriak Vano, ia berlari menghampiri gadis itu yang terlihat sangat ketakutan.
Fabio menghalangi langkah Vano. Ia menarik baju Vano dan meninju pipinya.
Vano terlalu emosi hingga tangannya terasa gatal untuk tidak membalas pukulannya.
Vano mendorong tubuh pria m***m itu hingga ia terjatuh. Lantas, ia duduk di atas perutnya.
Vano melihat kancing bajunya terbuka. Emosinya semakin membara, hingga terus memukul wajahnya tanpa ampun.
Fabio berhasil menghindar. Ia mengambil sebuah asbak yang ada di meja kerjanya. Asbak yang terbuat dari keramik ia lemparkan ke arah Vano. Untunglah, Vano berhasil menghindarinya. Benda berbahan keramik itu mengenai kaca hingga pecah. Kaca jendela yang terhubung langsung ke luar, ke area rumah warga.
Kesempatan bagi Vano untuk berteriak meminta pertolongan. Tak sampai di situ, Fabio memukul Vano dari belakang hingga kepalanya terasa berkunang-kunang.
Vano berusaha harus tetap sadar demi Winda. Pria yang dianggapnya baik itu ternyata busuk dan hanya mengincar Winda sebagai pelampiasan nafsu bejatnya.
Vano masih tak bisa berdiri dengan tegak karena pusing. Samar-samar ia melihat Fabio yang akan memukulnya lagi. Namun, Winda menarik baju pria nakal itu.
Sebelum kejadian yang lebih buruk menimpa Vano dan Winda, beberapa warga datang. Fabio berbohong bahwa mereka adalah pencuri. Warga sempat percaya dengan pria busuk ini. Winda mencoba menjelaskan dengan menunjukkan bajunya. Sayangnya tak ada satu pun yang percaya meski Winda memberikan bukti robekan baju di dadanya.
Seorang lelaki paruh baya datang. Ia bercerita kepada warga yang merupakan tetangganya itu bahwa anak gadisnya dulu di minta bekerja di rumah makan ini. Diiming-imingi dengan bayaran tinggi. Namun, suatu hari anaknya menjadi murung dan tak mau bekerja lagi. Lelaki itu terus melanjutkan ceritanya. Hingga akhirnya aib Fabio terbongkar. Anak gadisnya telah ternodai pria b***t itu.
Beramai-ramai warga menyeret Fabio keluar. Mereka akan membawa Fabio ke kantor polisi. Vano siap jika harus menjadi saksi kejadian ini.
Vano menjelaskan kepada Winda semua akan baik-baik saja. Ia merangkulnya dan keluar dari tempat buruk yang membuat Winda trauma lagi.
Gerimis masih mengguyur di malam yang dingin ini. Bersamaan dengan air mata Winda yang terus jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya gemetar menahan takut. Vano menghentikan langkahnya, berjongkok di depan Winda dan ia menyuruhnya untuk naik ke punggungnya.
"Win, aku gendong saja ya!" ucap Vano.
Tanpa suara. Winda langsung meraih pundak Vano. Remaja pria ini menggendong gadis manis itu yang ternyata cukup berat.
Di bawah rintik hujan Vano menyanyikan sebuah lagu cinta kepada Winda. Tak ada maksud lain. Vano hanya ingin menghibur gadis tuna wicara ini agar menghentikan tangisnya.
Hujan semakin deras. Sesekali kilat menyambar. Vano mempercepat langkahnya agar Winda tak kedinginan.
Sesampainya di rumah, Pak Tio dan Bu Wati sudah menunggu di depan rumah. Wanita paruh baya yang Vano panggil dengan sebutan ibu itu langsung berlari mengahampiri putrinya yang sudah terlelap di punggung Vano.
"Winda!"