Vano mencoba memejamkan matanya. Ia tidur bersebelahan dengan Pak Tio hanya beralaskan tikar. Sebenrnya perutnya sangat lapar. Ia juga baru saja sembuh dari sakit dan butuh nutrisi serta makanan agar kondisinya benar-benar kembali pulih. Akan tetapi Vano masih mementingkan harga diri Pak Tio dan Bu Wati yang sudah menolongnya. Jika saja Vano mendengar sendiri apa yang dikatakan pengasuh Bunga dan sopirnya, ia akan mengusir Bunga saat itu juga. Meski pun Bu Wati dan Pak Tio bukankah orang tua kandungnya, tapi Vano sudah menganggap mereka sebagai orang tua sambung. Kekecewaan mereka berarti juga kekecewaan Vano. Apa lagi harga diri kedua orang itu sudah direndahkan hanya karena masalah status sosial. Vano tidak bisa terima. Ia tidak bisa tinggal diam membiarkan orang kaya menindas merek

