Hingga bayangan ayah-anak itu tidak lagi terlihat, barulah Jonathan berbicara tanpa melihat Emilia. "Mah." Emilia menoleh cepat. "Iya?" Suara Jonathan rendah dan datar, tapi kali ini ada sesuatu yang jauh lebih dingin. "Apa Mama yakin ..." Jonathan dia berhenti sebentar, "kalau Liana cuma kangen Tante Helena?" Emilia langsung menegang. Jantungnya berpacu cepat. "Joe … maksud kamu apa?" Jonathan menyandarkan badan ke meja, menatap pintu dapur yang baru saja tertutup. "Aku cuma tanya." Nada dinginnya membuat bulu kuduk Emilia meremang. "Soalnya ekspresi Liana tadi … bukan ekspresi orang yang cuma kangen mamanya." Emilia langsung menegur sang putra. "Joe, jangan mikir yang macem-macem. Liana masih—" Jonathan memotong, suaranya pelan tapi menusuk. "Sepertinya Berliana takut sam

