Ruang pertemuan mendadak sunyi, seolah ikut merasakan aura suasana yang berubah tiba-tiba. Ada kerinduan tak terungkap yang terbaca di sorot mata masing-masing, ada cinta yang entah membuncah namun terbendung, bahkan ada keingintahuan yang begitu besar hingga membisukan suasana. “Ouw ... silahkan duduk, Pak Romi. Dan Ibu, silahkan melanjutkan presentasi anda,” ketua rapat lelang mencairkan suasana yang membeku tiba-tiba. “Oke, terima kasih,” jawab Romi lirih lantas duduk di kursi yang masih tersisa. Namun pandangannya yang tajam sarat kerinduan jelas tak lepas dari Rin yang dengan tatapan nanar mencoba bersikap tegar. Meski siapapun tahu, tak mudah menjadi tegar di hadapan laki-laki yang membuat hidupnya berantakan. Laki-laki yang telah menghempaskan kepercayaan cinta yang diberikanny

