Pagi ini, di SALEEM GROUP.
Terdengar percakapan resmi dari ruang kerja Pak Chandra. Terdengar suara perempuan dengan santun menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Pak Chandra.
“Oke, mulai hari ini dan tiga bulan ke depan, anda mulai magang kerja di Saleem Group. Setelah tiga bulan ke depan, kinerja anda akan diperhitungkan apakah layak untuk terus bergabung dengan perusahaan kami atau tidak.”
Perempuan di hadapan Pak Chandra mengangguk mantap. Dalam hatinya terikrar janji bahwa dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Demi perusahaan, pengalaman kerja, dan tentu saja agar Ayahnya tak sia-sia membiayai kuliahnya.
“Jenis pekerjaan yang akan anda pegang, nanti akan dijelaskan oleh mbak Desi. Selanjutnya, nanti Pak Romi yang akan menjadi atasan anda bisa membimbing dan memberitahu selanjutnya.”
“Baik, Pak.“
“Nah, selamat bergabung dengan kami. Loyalitas dan dedikasi yang tinggi menjadi tuntutan perusahaan yang harus Anda perhitungkan,” Pak Chandra menjabat tangan perempuan itu sebagai ucapan selamat bergabung.
Desi yang sebelumnya telah dipanggil segera memasuki ruangan Pak Chandra.
“Maaf, Pak, ada yang bisa saya bantu?” Desi bertanya sopan.
“Begini, Des…. Antarkan Ibu Rinjani ini menuju ruangan Pak Sultan. Beliau ini yang akan menggantikan Pak Sultan dan bergabung dengan divisi Pak Romi. Beberapa hal yang diperlukan, bisa kamu beritahukan pada Ibu Rin.”
Desi mengangguk dan tersenyum manis ke arah Rinjani, perempuan yang sedari tadi di wawancarai oleh Pak Chandra. Setelah berbasa-basi sejenak, Desi lantas mengantar Rinjani ke ruangannya.
“Bisa saya mendapatkan beberapa petunjuk teknis tentang pekerjaan saya, Mbak Desi?” Rin bertanya ramah pada Desi yang sekiranya seumuran dengannya.
“Oke, beberapa akan kita pelajari bersama. Tapi saya yakin, Ibu Rin akan cepat beradaptasi dengan Pak Romi,” Desi seperti biasanya, selalu ramah dan perfect sebagai sekretaris.
Rinjani manggut-manggut berusaha paham dengan apa yang dijelaskan Desi.
“Apakah Pak Romi seramah pak Dirut, Mbak Des?”
Desi menatap Rinjani yang berwajah sedikit tegang. Senyumnya terkembang tulus. Desi menyadari, Rinjani yang usianya tak terpaut jauh darinya itu memiliki sesuatu yang lain. Kecantikannya tak terlalu mencolok, kulitnya malah cenderung coklat bersih, tak seputih Silvi, mak lampir kesayangan boss.
Mengingat Silvi, entah mengapa Desi selalu mual.
“Pada dasarnya…Pak Romi orang yang baik, cerdas, dan punya dedikasi tinggi di perusahaan.”
Rinjani manggut-manggut. Mereka berjalan pelan menuju ruangan Rinjani. Interior yang minimalis dan modis sepertinya sengaja didesain untuk pekerja yang memiliki privasi maskulin.
Dan sedikitpun Rin tak ingin mengubahnya untuk menjadi feminine.
“Tapi Ibu Rin harap sedikit waspada dengan kekasih Pak Romi?” Desi berbisik, seolah takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Rin menatap Desi dengan pandangan penuh tanya.
“Jadi Pak Romi masih …. ???”
“Ya, beliau masih lajang. Bahkan belum bertunangan setahu saya.”
Rin kembali manggut-manggut, entah yang keberapa.
“Nah, ruangan ini akan menjadi tempat kerja Ibu Rin,” kata Desi.
Rin tersenyum penuh terima kasih.
“Terima kasih karena mbak Desi sudah banyak memberitahu saya tentang banyak hal.”
“Oke, jika ada yang perlu diketahui, Ibu Rin bisa menanyakannya kembali kepada saya.”
“Pasti. Pasti akan banyak yang saya tanyakan nanti, Mbak Desi. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih.”
Desi mengangguk lantas keluar dari ruang kerja Rin.
Sepeninggal Desi, Rin mencoba mengenal ruangan barunya yang dirasanya cukup mewah. Dibandingkan dengan kubikelnya di ROSA GROUP, tempat dia magang beberapa bulan setelah lulus kuliah.
Rin berjalan mengelilingi ruangan kerjanya yang baru saja dimasukinya, jendela lebar di sisi ruangan menampilkan pemandangan hiruk pikuk Jakarta. Rin menatap sesaat keluar jendela ketika telepon berdering.
“Selamat pagi, dengan Rinjani.”
“Ini Desi, Bu…Pak Romi ingin Ibu Rin menemui beliau di ruangannya.”
“Pak Romi?” Rin bertanya gugup.
“Ya.”
“Oke…oke ..”
Dengan hati sedikit gugup Rin keluar dari ruangannya dan menghampiri meja dimana Desi berada untuk menanyakan keberadaan ruangan Pak Romi. Setelah Desi memberitahukan letak ruangan pak Romi, Rin segera bergegas untuk menuju ke ruangan Pak Romi yang berada tak jauh dari ruangannya, setelah berterima kasih pada Desi. Mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan atasan adalah pelajaran dasar kuliahnya. Setelah terdengar aba-aba masuk, Rin membuka pintu.
Menutup pintu masih dengan memunggungi bos barunya, Rin mengembalikan posisi handle pintu untuk kemudian berbalik menghadap Boss Romi. Sesaat, kedua pasang manik mata Rin dan Romi bertemu.
Dan waktu kembali terhenti tak beranjak. Sebuah magnet tak kasat mata memaku mereka beberapa jenak. Debar kegugupan yang tadi menguasai jantung Rin kini kembali bertahta. Bukan hanya sekedar debar gugup, tapi lebih menggila dan liar. Menyentak seolah menembus setelan blazer yang dikenakannya.
Ada apa ini ?
Rin panik tak mengerti.
Dan keterpesonaan yang nyata kembali menguasai pikiran Romi. Rasa aneh yang beberapa hari lalu menggelenyar liar dan begitu menyebalkan itu kini kembali bergelora. Membuatnya terdiam dan hanya menatap Rin seolah tak percaya bahwa dia akan kembali bertemu dengan perempuan yang berhasil membuatnya kehilangan orientasi.
Keduanya terpaku dan terpana.
“Maaf…sepertinya kita pernah bertemu?” Romi mencoba mengawali pembicaraan setelah mempersilahkan Rin duduk di kursi di hadapannya.
“Bertemu?” Rin berlagak seolah tak ingat dan tak mengerti kemana arah pembicaraan laki-laki yang bernama Romi ini.
Romi diam seolah mengingat-ingat dan meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah ingat.
“Bukankah anda salah seorang pelayan di Rumah Makan Pak Rustam?”
Rin kaget dan mukanya bersemu merah.
Pelayan?
Dan, yaaa… tentu saja mereka pernah bertemu, batin Rin. Bosnya kali ini adalah laki-laki sombong yang tanpa senyum, yang beberapa waktu lalu membuat dunianya berhenti berputar beberapa jenak. Meninggalkan jejak jungkir balik atas logika yang selama ini dianyamnya kuat.
“Ya…ya…Saya memang pelayan di sana sebelum mendapat panggilan magang di sini,” Rin akhirnya mengaku dengan gugup. Dibiarkannya Romi tahu bahwa dia hanya seorang pelayan rumah makan.
“Mengapa Anda bekerja sebagai pelayan kalau histori akademis Anda bagus? Setidaknya itu menurut Pak Chandra karena akhirnya beliau bersedia menerima Anda untuk bergabung di SALEEM GROUP,” tanya Romi dengan nada yang sedikit sarkasme, mengandung ejekan yang membuat Rin mual sehingga harus menahan diri untuk tidak menyemprot bos barunya ini dengan makian. Feeling pertamanya tentang laki-laki ini sepertinya mendekati benar, bahwa yang dihadapinya kini adalah laki-laki sombong.
Rin menarik napas panjang sebeluk kemudian memberikan jawaban. “Saya butuh pengalaman lain setelah resign dari perusahaan tempat saya magang sebelumnya.”
“Jadi Anda sudah pernah bekerja sebelumnya?”
“Ya. Di ROSA GROUP, tapi hanya beberapa bulan karena ibu saya butuh perawatan.”
“ROSA GROUP? Bukankah itu perusahaan jasa arsitektur ternama?” Romi terpana dengan keterangan Rin.
Setahu Romi, ROSA Group adalah perusahaan jasa arsitektur yang lumayan punya nama.
“Ya. Ada yang salah?” Rin bertanya tak mengerti dengan keterpanaan Romi.
“Setahu saya itu perusahaan bonafide? Mengapa anda mengundurkan diri?”
Rin terdiam sejenak, mencari jawaban paling tepat atas resignnya. “Saya sudah katakan tadi bahwa ibu saya sakit. Jadi saya harus dekat dengan beliau sekedar memastikan bahwa beliau selalu terawat.” Rin menjawab tegas namun masih dalam koridor sopan.
Romi manggut-manggut.
Diamatinya wajah Rin dengan cermat seolah mencari sesuatu hingga membuat Rin kikuk karenanya. Tapi Romi sepertinya harus kecewa karena dia tak mendapatkan sesuatu yang dia cari.
“Maaf, masih ada yang lain?” Rin mengakhiri suasana janggal diantara mereka.
“Ah, ya… untuk sementara itu saja perkenalan kita hari ini. Untuk bidang kerja berikutnya, kita akan bekerjasama bukan hanya di ruangan ini saja.”
“Baik, saya akan selalu siap,” jawab Rin dengan tegas untuk menutupi getaran yang semakin menggila di dadanya.
“Baiklah, Ibu Rin, silahkan kembali ke ruangan anda dan mungkin beberapa pekerjaan akan segera menunggu anda. Segala hal yang kurang anda mengerti, anda bisa bertanya pada Desi atau kepada saya langsung.”
“Baik, Pak. Saya permisi,” jawab Rin lalu beranjak santun dan keluar dari ruangan Romi.
Sesampainya di ruangannya, Rin merasa ada sesuatu yang salah. Persendian tulang lututnya seakan lemas tanpa tenaga. Debaran jantungnya menunjukkan frekuensi yang tidak wajar.
Sementara Romi masih saja mencari jawaban atas tuntutan pikirannya tentang Rin. Pegawai baru yang direkrut ayahnya, yang beberapa waktu lalu membuat dunianya berhenti berputar di restorant langganannya, yang baru saja ada di hadapannya dengan pesona yang tidak kelihatan tapi seperti magnet yang menyedot perhatiannya sedemikian kuat. Pesona yang seolah tanpa sebab tapi menguasai akal sehat Romi sedemikian hebatnya.
Dan menit - menit berikutnya menjadi menit penuh siksaan karena Romi tak bisa berhenti berpikir tentang Rinjani. Daftar riwayat hidup gadis itu dibuka dan dibacanya dengan cermat. Beberapa prestasi gemilang sempat diraih di akademinya. Usianya yang terpaut agak jauh dengannya membuat Romi tercengang. Delapan tahun bukan jarak yang pendek untuk sebuah jarak usia. Tapi apa yang di raih Rinjani dalam usianya yang belia justru menjadi bahan pikiran lagi buat Romi.
Hei, Bung … mengapa harus memikirkan Rin ?
Hati kecil Romi tiba-tiba berteriak minta penjelasan.
Apa sih yang menarik? Tak ada!
Romi masih berusaha sombong.
Tapi entah mengapa kesombongannya leleh tanpa sebab. Kesombongan yang dibangunnya beberapa tahun belakangan, seiring sakit hatinya karena dilukai seorang perempuan. Yang kebetulan juga bernama Rin, bukan Rinjani, melainkan Rindu.
Sejenak, peristiwa menyakitkan itu kembali berkelebat.
Adalah Rindu, perempuan ayu yang dipacarinya semenjak SMU hingga masuk bangku kuliah beberapa tahun. Tapi badai sialan menghantam hubungan mereka, Rindu harus ikut dengan keinginan orang tuanya. Menikah dengan seorang laki-laki warga negara asing, pengusaha pemegang saham perusahaan ayahnya. Mister Andrew memang seorang pengusaha muda dari Kanada yang cukup mempesona untuk seorang Rindu. Dan bukan salah Rindu juga kalau ia rela dengan ikhlas meninggalkan Romi untuk seorang Andrew.
Apa yang bisa diharapkan dari seorang Romi? Kala itu, kehidupan keluarga Saleem sedang dalam cobaan. Perusahaan satu-satunya yang dipegang mengalami kebangkrutan. Kuliah Romi mengalami jungkir balik karena goncangnya kehidupan mereka di bidang financial. Bahkan, Nyonya Nilam Chandra, Ibu Romi meninggalkan keluarganya yang sedang dalam keadaan bangkrut untuk melenggang dengan pengusaha lain. Nyonya Nilam saja tak sanggup untuk hidup miskin dan terpuruk. Apalagi seorang Rindu ?
Kepahitan hidup menjadi cambuk buat Pak Chandra dan Romi untuk bangkit. Berbekal pertolongan modal dari seorang rekan lama yang hanya seorang pengusaha rumah makan, Pak Chandra bangkit memulai lagi bisnis property yang pernah digelutinya dulu. Kegigihan membuahkan keberhasilan bagi keduanya. Perusahaan kecil yang dipimpin beliau lambat laun memiliki banyak kolega dan mendapat kepercayaan. Dari satu proyek ke proyek lain, hingga kini SALEEM GROUP mampu menghandle beberapa proyek secara professional dengan hasil yang sangat memuaskan.
Hal itu terbukti dari makin banyaknya proyek yang mereka tangani. Seperti proyek GOR yang kini di handle kelompok Romi dkk, yang memutar dana milyaran rupiah.
Bertahun-tahun Romi mengalami patah hati karena ditinggalkan oleh Rindu. Hingga beberapa perempuan yang singgah silih berganti dalam hidupnya, tak mampu membuatnya bergetar. Bahkan Silvi yang dipacarinya kemudian, tak juga membuatnya merasa tunduk.
Tapi Rinjani?
Perempuan itu, yang entah siapa dan bagaimana kehidupannya, tiba-tiba saja datang dan berhasil membuat Romi kembali merasakan gelenyar aneh yang tak pernah dirasakannya beberapa tahun ini. Dan sialnya, Romi seperti pemuda lebay yang terus terbayang oleh perempuan itu, membuatnya kesal dan ingin mengenyahkan saja bayangan gadis itu.
Diam-diam Romi berharap bahwa Rinjani tak akan bertahan lama bekerja di Saleem Group. Karena kedekatan mereka pasti akan menimbulkan sesuatu yang berbahaya, bagi Romi terutama.
_ oOo _