Bab. 2

1065 Kata
Tiba-tiba seseorang memeluk Lian dari belakang, pelukan itu terasa begitu erat, "Sayang, lama banget kamu sampainya", ucap wanita cantik yang memeluknya. Lian berbalik dan berhadapan dengan wanita itu, membelai lembut rambut wanita itu dan tersenyum padanya. "Kan aku sudah bilang, lagi ngantarin Ily dulu kesekolah. Hmmm" mencubit gemesh pipi wanita itu. Yah, itu adalah Friska. Kekasih sekaligus sekretaris Alian. "Tiap hari kamu harus nganterin dia ke sekolah, emang nya gak bisa pergi sendiri gitu?" "Ily itu adik aku, udah kewajiban aku buat nganterin dia, aku gak bisa biarin dia pergi sendiri. Terlalu berbahaya jika dia sendirian." "Adik kamu sudah besar Lian, sudah remaja anak SMA yang bentar lagi lulus kan! Jangan terlalu di jaga." "Iya aku tahu," berjalan menuju kursi di balik meja kerjanya, menatap kekasihnya itu dengan senyuman. "Nanti aku kenalin sama adik aku, kamu mau kan bie?" Friska berjalan kearah Lian, memeluknya lagi,"iya aku mau." "Aku yakin kamu pasti senang jika bertemu dengannya, anak nya memang sedikit agak manja." Friska mengadakan kepalanya keatas menatap wajah Lian dan mengangguk. "Aku keluar dulu, jangan lupa janjinya kita mau makan siang bareng." "Iya," Tangan Friska di tarik dengan cepat hingga tubuhnya menabrak d**a bidang yang menjadi kesukaannya untuk bersandar. 'Cup' satu kecupan singkat mendarat di bibir wanita cantik itu, sebelum wanitanya itu bergegas keluar. Friska sangat cantik, untuk ukuran wanita dewasa dia mempunyai porsi tubuh yang ideal, dan bentuk tubuh yang sexy. ...***... "hahhhh," suara hembusan nafas dari seseorang di sebelahnya yang terdengar seperti sedang frustasi. "Ly, kenapa gak confess aja sama kak Lian. Biar dia tahu perasaan kamu sebenarnya." saran Nayla. "Gila, gak lah Nay, mau taruh di mana muka ku. Bagus kalau di terima, kalau di tolak? bukan di tolak sih, lebih tepatnya aku di ketawain, pasti dikiranya aku bercanda." saran Nayla sama saja mempertaruhkan harga dirinya. apa kata mamah papahnya nanti, terlebih kak Lian. "Terus? apa yang mau kamu lakukan sekarang?" Menenggelamkan wajahnya pada kedua tumpukan tangan di atas meja, "gak tau, mau tenggelam aja rasanya kedasar samudera". "Ppff, ya udah sana, aku antarin mau? tapi cuma di pinggir pantai." Nayla menggeleng kepalanya. "Diam deh Nay," "Kantin yuk, daripada galau mulu, mending isi perut. Yang lain sudah pada ke kantin tuh." saat ini memang sedang jam istirahat. Hanya ada Ily dan Nayla yang masih berada di dalam kelas. "Hmmm, yuk," Keduanya pun berjalan keluar menuju kantin. Seseorang tiba-tiba duduk disampingnya, memamerkan senyuman konyol, selalu saja seperti itu. "Ily mau makan yah?" tanya Arga. "Arga sudah tahu kan, kalau ke kantin itu berarti mau makan. Kenapa di tanya lagi." cowok selalu saja mengganggunya dan bertanya hal-hal yang sudah dia tahu jawabannya. Masih dengan senyuman konyol. "Mau makan mie ayam, biar aku pesanin." tanya Arga. "Sudah di pesanin Nayla, kamu pesan makananmu saja." ucap Ily. "Gak, aku cukup ngeliatin kamu saja, sudah kenyang." Ily bosan mendengar gombalan Arga. Dia malas menanggapinya, lebih baik dia diam dan menunggu Nayla kembali dari memesan makanan. "Pulang sekolah jalan yuk," ucap Arga. "Gak," jawaban singkat dari Ily. "Ayolah Ly, sekali saja nerima ajakan aku." sudah lama Arga menyukai Ily, bahkan sejak pertama kali mereka masuk ke sekolah ini. Tepatnya 3 tahun lalu, saat masa orientasi. Flashback... "Astaga bisa di hukum aku, aisshhh ini gara-gara bang Ken semalam ngajakin main PS," ucap Arga. Ini hari pertama dia mulai menjalankan masa orientasi siswa di sekolah menengah atas. "hei kamu sini" panggil seorang guru yang melihat Arga sedang berlari terburu-buru menuju aula tempat para calon siswa siswi baru yang telah berkumpul. Arga berjalan mendekati guru itu. "kenapa bisa terlambat, ini kamu sudah telat lebih dari 10 menit. Rapihin pakaianmu, masukin bajunya kedalam." "Maaf pak saya telat bangun," jujur Arga. "Ya sudah, masuk sana. Sebentar lagi akan pembagian kelempok." "Baik pak, saya permisi." syukur saja dia tidak kena hukuman dari guru itu. Arga berjalan dengan cepat, memasuki aula yang sudah di penuhi calon teman-teman barunya. Dia mengambil posisi tempat duduk di bagian belakang. Mereka sudah mendapatkan kelompok masing-masing. Dan ternyata Arga sekelompok dengan Ily. Setiap kelompok di tugaskan untuk mengumpulkan 10 tanda tangan kakak tingkat dari masing-masing kelas XI dan XII. Agar cepat selesai, di kelompok Arga dan Ily membagikan tugas untuk berpencar ke masing-masing kelas. karena semuanya sudah ada pasangan, Ily belum ada. Dan dia melihat Arga berdiri sendirian, "sepertinya sisa dia yang belum mempunyai teman," ucap Ily dalam hati. "hai, mau bareng sama aku gak? aku belum ada pasangan." gadis ini begitu to the point bertanya. Arga melihat ke kiri dan ke kanan, mungkin saja gadis ini bertanya berbicara pada orang lain. hingga suara gadis itu terdengar lagi. "Hallo, kok bengong, mau gak pasangan sama aku?" tanya Ily lagi. Dan Arga tersadar gadis itu beneran bertanya padanya. "Apa sisa kita berdua yang belum ada pasangan?" Ily mengangguk menjawab pertanyaan Arga. "Baiklah," Arga kaget, Ily langsung menarik tangannya agar segera pergi menuju kelas. "Pelan-pelan Neng," ucap Arga menahan tawanya, karena Ily berjalan begitu cepat. Refleks melepas tangan Arga yang di pegangnya, "Sorry," "Santai aja, tugas kita ke kelas mana nih?" tanya Arga. "Kita ke kelas XII IPS 1, di lantai 3," ucap Ily, keduanya berjalan berdampingan menuju ke lantai 3. Berawal dari sini lah, rasa suka Arga pada Ily bersemi. Next time seiring berjalannya cerita akan di bahas. Flashback off ... "Jalan sendiri aja sana," ucap Ily ketus. "Kenapa nih, kamu apain Ily lagi sih Ga?" tanya Nayla yang baru saja datang dan membawa pesanan 2 porsi mie ayam dan 2 botol minuman dingin. "Ngajakin jalan tapi gak mau. Bantuin bujukin dong Nay," pinta Arga dengan muka memelas pada Nayla. "Udah Ly, terima aja ajakan dia (menunjuk Arga dengan sumpit mie ayam), itung-itung nyenengin hati biar gak galau mulu." "Ily galau? kenapa?" tanya Arga penasaran. "Siapa yang galau, gak ada, ngaur aja." ucap Ily cepat dan menarik mangkok mie ayam kehadapannya. "Kalau gitu mau yah, jalan barang sama aku." "Oke, tapi Nayla harus ikut juga." Nayla terbatuk mendengar ucapan Ily, untung saja mie ayamnya tidak terhempas keluar dari dalam mulutnya. Dengan cepat membuka botol minuman, dan segera meneguknya. "Ngapain aku harus ikut, nggak,, nggak,, kalian berdua aja yang jalan." "Kalau gitu gak jadi, Nayla gak mau ikut." "Nay, please ikut yah, pleaseee..." Arga memohon agar Nayla mau ikut. "Ya ampun, kenapa harus aku yang jadi sasaran" batin Nayla berkata. "Iya iya aku ikut, puas kalian berdua." Ily tersenyum, sedangkan Arga sudah pasti makin tersenyum seperti orang konyol, hingga deretan gigi-giginya terlihat. Akhirnya Ily mau jalan bersamanya, meski Nayla jadi tumbal. terlalu wkwkwkwk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN