Bab. 3

1083 Kata
Seperti kesepakatan tadi, akhirnya Ily mau menerima ajakan jalan bersama Arka dengan syarat Nayla harus ikut. Kini ketiganya sudah berada di dalam satu mobil, untung saja Arka hari ini kesekolah membawa mobil. "Mau kemana kita?" Nayla membuka suara. "Ily mau kemana?" Arka melirik Ily yang duduk di sampingnya. "Kok nanya aku, kan kamu yang ngajak." "Mungkin ada tempat yang mau di kunjungi gitu!" tanya Arka lagi. "Ke mall aja." sahut Nayla dari kursi belakang. Nayla dan Ily bertatapan dan keduanya mengangguk setuju. "Okey, kita ke mall." "Ly, kamu sudah ijin sama kak Lian?" tanya Nayla. "Buat apa?" "Yee, jangan sampai kak Lian datang jemput kamu, tapi kamunya gak ada." ucap Nayla, Ily hanya berbalik sekilas menatapnya. "Gak perlu, aku lagi malas." "Jangan bawa-bawa aku kalau kamu di marahin kak Lian nanti." "Kenapa Ily harus ijin, emang kakak kamu itu galak banget yah!" tanya Arka penasaran. "Banget, Ily kalau kemana-mana dan gak ngasih kabar ke kak Lian, bisa marah besar nanti." "Segitunya!" tanya Arka lagi. "Hummm,, adik kesayangan, makanya di jaga banget." ucap Nayla. Arka berbalik menatap Ily sekilas."Kalau kamu di marahin nanti aku yang tanggung jawab, biar aku yang jelasin sama kakak kamu." "Stop, apaan sih kenapa jadi bahas kak Lian. udah sih gak apa-apa, dia gak akan marah kok. Lagian kak Lian bukan cuma ngurusin aku doang." Moodnya makin gak bagus akibat percakapan ini. Dia masih mengingat kejadian pagi tadi, kenyataan bahwa Lian sudah mempunyai kekasih. Semuanya menjadi diam, menikmati perjalanan hingga sampai di mall tujuan. "Ly, temani aku ke toilet dulu yuk. Kebelet nih." tanpa menunggu jawaban Ily, Nayla langsung menarik tangannya dan mengajaknya buru-buru masuk ke dalam mall dan menuju toilet. "Arka tungguin di dalam saja yah, nanti aku chat." Ily setengah berteriak pada Arka. Lelaki itu mengancungkan jempolnya keatas. "Aku tungguin di luar yah Nay, cepetan jangan lama." "Iya, tungguin." Sambil menunggu Nayla, Ily mengirimi chat kepada Arka, dia menyuruh lelaki itu menuju kearah toilet. Pandangan matanya tiba-tiba melihat sepasang pria dan wanita berjalan melewatinya. Pria itu sangat tidak asing baginya. Nalurinya bergerak untuk mengikuti sepasang kekasih itu, mungkin? Ily mengikuti mereka dari belakang, benar dugaannya itu adalah Lian sedang bersama, kekasihnya mungkin? karena terlihat begitu jelas wanita itu menggandeng erat lengan Lian. Mereka berjalan menaiki eskalator hingga menuju salah satu tempat restoran di dalam mall itu. "Kamu mau makan apa sayang?" ucap sang wanita kepada prianya. "Apa yah!" Lian terlihat sedang berpikir sambil melihat deretan daftar menu. "Ngikut kamu aja deh." ucap Lian kemudian. Friska sedang melingkari beberapa menu makan dan minum diselembar kertas yang sudah di sediakan. Lian mengambil kertas itu, "Ini aja sayang?" bertanya pada Friska , dan Friska menjawabnya dengan anggukan."Ya sudah tunggu disini, aku ke kasir dulu." Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan dari arah cukup dekat. Ily tepat berada di belakang meja Lian dan Friska. Duduk menghadap belakang agar tak ketahuan sedang menguntit. Semoga saja dia tidak ketahuan. Tak lama Lian sudah kembali dan duduk di kursinya. Lian mengeluarkan handphonenya dan terlihat sedang mengetik sesuatu. "Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Friska. "Lagi ngirimin Ily chat, ini sudah jam pulang sekolah." melirik jam tangannya, waktu jam pulang sekolah Ily sudah lewat. "Lalu?" tanya Friska dengan bingung. Lian masih sibuk mengetik sesuatu di handphonenya,"Aku menyuruhnya sedikit menunggu, karena telat menjemput." Friska terlihat sedikit jenuh, apa tidak bisa Lian membiarkan adik kesayangannya itu pulang sendiri saja, kenapa harus di jemput. "Sayang, tapi setelah makan aku ingin melihat-lihat tas." Lian mengangkat wajahnya dan tersenyum melihat kekasihnya. Ily yang mendengar ucapan Lian, merasa jengkel. Untung saja nada di handphonenya dia matikan dan hanya pasang mode getar, jadi chat dari Lian yang masuk tidak kedengaran. Kak Lian? Ily, kamu masih di sekolah kan! bisa tunggu kak Lian sebentar lagi, kakak sedikit terlambat karena masih ada urusan. "Cih, urusan apaan, urusan lagi ngedate." kesel Ily, jelas-jelas dia melihat saat ini Lian membohonginya. Membalas chat Lian dengan satu huruf. Kak Lian? Y send, Hatinya bener-bener kesal. ___* * *___ "Bukannya dia bareng sama kamu Nay?" tanya Arka. "Tadi dia nungguin di luar, aku keluar sudah gak ada tuh anak." Nayla celingak celinguk mencari Ily, kemana perginya dia. "Coba hubungin Ily, Nay." kata Arka, dan dengan segara Nayla menelpon sahabatnya itu. Satu kali panggilan tak terjawab. Dua kali penggilan tak terjawab. "Aduh, Ily kemana sih. Di telfon gak diangkat-angkat." "Kita cari aja yuk Nay. Mungkin Ily sedang berkeliling melihat-lihat. Nayla pun mengangguk dan mereka pun bergegas mencari Ily. "Astaga itu anak kebiasaan deh, pergi gak bilang-bilang." ucap Nayla sambil berjalan mencari Ily, melihat kedalam toko-toko, tak ada tanda-tanda keberadaan Ily. "Naik ke lantai atas Nay, mungkin Ily ada disana." kata Arka. "Ini ke mall niatnya mau jalan-jalan kenapa jadi malah kayak nyari anak hilang." gerutu Nayla. "Kamu dimana sih Ly," cemas Arka. Saat berjalan di bagian deretan stand food and drink, mata Nayla menangkap sesosok yang sangat di kenalinya, sedang duduk di sebuah restoran. "Ka, itu Ily disana." menarik jaket Arka dan menunjuk ke arah Ily yang sedang duduk. "Ayo kesana." Keduanya berjalan menghampiri Ily. "Astaga Ily, kamu kenapa pergi gak bilang dulu sih, mana di telpon gak diangkat-angkat pula." Nayla langsung mengomeli Ily ketika dia dan Arka sudah sampai ke hadapan gadis itu. "sstt... jangan kenceng-kenceng nyebut namaku." menyuruh Nayla diam, bisa ketahuan sama Lian kalau dia saat ini berada tepat di belakangnya. "Kenapa sih, ada apa Ily?" Nayla tak mengerti maksud Ily. Ily menggerutu ingin rasanya menjitak kepala Nayla. "Ily.... sejak kapan kamu disini?" ucap Lian tiba-tiba sudah berdiri di samping Ily dan menatapnya dengan bingung. Nayla kaget, sejak kapan pula ada kak Lian disitu, dia menatap seorang wanita cantik yang sedang duduk satu meja dengan Lian. Pasti itu pacar kak Lian " batin Nayla berkata. Jangan-jangan," mata Nayla membola dan menatap Ily, Arka yang melihat ekspresi Nayla jadi bingung, ada apa dengan situasi ini. "Ily kakak nanya, sejak kapan kamu disini." Lian mengulangi pertanyaannya. Ily menghela nafasnya berat." Sejak kak Lian lewat depan mataku dan aku mengikuti hingga kesini." jujur Ily. "Kamu ngikutin kakak?" tanya Lian menyelidik. "Iya" Lian menghela nafas beratnya juga."Kenapa gak langsung manggil sih de, kenapa harus diam-diam dan membututin kakak begitu." Ily berdiri dan menatap Lian kemudian menatap wanita yang sedari tadi melihat mereka dengan tatapan tak kalah bingungnya. "Gak apa-apa, takut ganggu aja. Permisi Ily mau pulang, maaf sudah ganggu acara makan siangnya kak." Ily mengambil tas nya dan berlalu pergi. Arka yang menyadari ada yang aneh dari sikap Ily, dia pun berpamitan dan menyusul Ily. Nayla pun ikut menyusul keduanya. Lian menatap adiknya itu, merasakan seperti ada sesuatu yang aneh dengan adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN