Bab. 4

1462 Kata
Kini ketiganya sudah kembali kedalam mobil, Ily meminta pulang, suasana hatinya benar benar kacau. Arka melirik kearah Ily sekilas, dan fokus menyetir. Tak ada yang bersuara, hingga mobil Arka terparkir di depan rumah gadis itu. "Sorry aku udah ngacauin acara jalan-jalannya." ucap Ily penuh sesal. Dia menatap Arka dan Nayla secara bergantian. "No problem Ly, kamu istirahat aja dulu. Kalau mau curhat telpon aku." "Thanks Nay," Ily kemudian menatap Arka lagi. Lelaki itu hanya terdiam. "Ka, maaf yah." Hanya kalimat itu yang bisa di ucapkannya saat ini. Arka menatapnya dalam, dan seukir senyuman terlukis di wajah tampannya,"Gak perlu minta maaf Ly, masih banyak hari, next time kalau kamu udah baikan kita jalan lagi." "Aku masuk dulu, Ka antar Nayla sampai rumah yah." "Hmm,, masuk gih sana." ucap Arka. Ily keluar dari mobil Arka dan segera masuk melewati pagar putih. Arka berbalik menatap Nayla. "Apa...?" ucap Nayla karena di tatap. "Pindah di depan, aku berasa kek abang-abang grab," perkataan Arka mendapat tatapan tajam dari Nayla. Gadis itu langsung melompat kedepan,"Astaga Nayla, kan bisa lewat pintu." Arka kaget melihat kelakuan Nayla barusan. "Sssttt... berisik, dah jalan." *** "Itu tadi Ily?" tanya Friska. "Hmm..." Lian berdehem. Lian dan Friska pun kini sedang dalam perjalanan kembali menuju kantor. Friska sedikit kesal sebenarnya, rencana sehabis makan siang ingin membeli tas yang di inginkannya. Padahal Lian sudah berjanji, tapi lelaki itu ingin cepat-cepat kembali ke kantor. Harus Friska tahan, dia tidak ingin bertengkar dengan Lian. Sesampainya di kantor, Friska turun dari mobil dan berjalan duluan karena ingin mampir dulu ke toilet. Setelah memarkirkan mobilnya, Lian tak segera turun. Dia menelpon Ily dulu. Hingga panggilan ketiga kali baru lah adik kecilnya itu mengangkat telepon darinya. "Hmm, kenapa kak?" terdengar suara Ily bertanya setelah panggilannya tersambung. "Sudah di rumah?" "Hmm, sudah," "Nanti pulang kerja jalan sama kakak yuk," Nada suara Ily berubah senang, yang tadinya suara itu terdengar badmood,"Serius, beneran yah," "Iya, nanti terserah Ily mau kemana saja, mau beli apa saja, kakak turuti," "Yes, awas kalau bohong," "Iya, tapi jangan cemberut lagi yah, kak Lian gak suka." Ily terdiam, Lian paling tahu dan peka jika moodnya berubah. Tapi satu yang Lian tidak bisa tahu dan menyadarinya, bahwa Ily menyukainya lebih dari seorang adik menyayangi kakaknya. "Tergantung situasi," ucap Ily. "Situasi? kalau ada yang bikin Ily sampai gak mood, beritahu kakak. Akan kakak samperin orangnya." "Emang berani,?" tanya Ily. "Berani lah, demi kamu akan kak Lian lakuin apapun, untuk melindungimu," Ily terdiam kembali. "Yah, aku hanya adik kecil bagimu," berkata dalam hati. "Ya ya ya ya, aku mau tidur, ku tutup telponnya yah kak, sampai berjumpa di rumah," Belum juga Lian menjawab, sambungan telpon itu terputus. Lian tersenyum melihat layar persegi panjang, memikirkan adiknya yang sangat manja, dalam hidupnya dia sudah berjanji akan menjaga Ily dengan penuh kasih. Sebelum turun dari mobil, dia merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, setelahnya dilihat sudah cukup rapi, dia pun keluar dan bergegas masuk menuju ruangan kerjanya. Mata Lian tertuju pada meja kerja Friska, terlihat kosong,"Kemana Friska? apa dia masih di toilet?" tanya Lian dalam hati. Lian bergegas masuk ke dalam ruangannya. Duduk di kursi kerjanya, merenggangkan sedikit badannya, tubuhnya terasa sedikit lelah. Dirasa tubuhnya sedikit enakan, Lian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Kenapa rasanya ngantuk banget yah? harus minum segelas coffee, biar mata tetap melek," Lian berjalan keluar untuk menuju pantry. Bisa saja dia menelpon OB untuk membawakannya segelas coffee, tapi dia ingin pergi sendiri mengambilnya sekalian membasuh mukanya agar terlihat fresh. Kening Lian mengkerut, pandangan matanya tertuju pada meja Friska yang tak lain adalah sekretaris sekaligus kekasihnya itu. "Apa Friska belum balik sedari tadi?" "San, Friska kemana ? apa sedari tadi mejanya kosong?" tanya Lian pada salah satu karyawannya yang tak jauh berada dari meja kerja Friska. "Dari jam makan siang tadi saya belum melihatnya pak." ucap Santi. Lian melihat jam tangannya, sekarang waktu telah menunjukkan hampir pukul 4 sore. Tanpa banyak berpikir, Lian segera menghubungi kekasihnya itu. Hingga panggilan ke sepuluh, tak ada jawaban sama sekali dari Friska. Lian bertanya-tanya, bukan kah tadi dia masuk duluan karena ingin pergi ke toilet. Tidak mungkin dia di toilet hingga berjam-jam kan!. "Suruh Friska menghadap saya jika dia sudah datang," pesan Lian. "Baik pak, akan saya sampaikan." Lian kembali masuk kedalam ruangannya. Tidak jadi pergi mengambil coffee di pantry, akhirnya dia memutuskan menelpon OB untuk mengantarkan segelas coffee untuknya. Pikirannya sedikit terganggu karena Friska. Friska♥️ Kamu dimana? jika sudah kembali datanglah ke ruanganku. Isi chat Lian untuk Friska. Lian kembali melanjutkan kerjaannya agar cepat selesai dan pulang lebih awal. Dia sudah berjanji pada Ily untuk mengajak adik kecilnya itu berjalan-jalan. Ily akan marah jika janjinya tidak di tepati. Hampir pukul 5 sore, kerjaannya telah selesai. Lian bergegas keluar untuk segera pulang, mengambil tas serta jas nya yang dia letakkan di sofa tadi. Keningnya makin mengkerut, meja kerja Friska masih terlihat kosong sama seperti tadi. "Friska belum kembali?" bertanya pada karyawan yang berada disitu. Mereka saling melemparkan pandang satu sama lain. "Belum pak, dari tadi mejanya kosong," sahut salah satu dari mereka. "Baiklah kalau begitu. Kalian pulang lah, jam kantor sedikit lagi usai," "Baik pak," sahut mereka berbarengan. "Saya permisi dulu," Lian mencoba untuk menelpon Friska lagi, tapi nihil lagi-lagi panggilan dari nya tak ada jawaban. Friska♥️ Hubungi aku jika kamu membaca pesan ini. Aku menunggu. Lian mengirimi kekasihnya pesan singkat lagi. Ini bukan kali pertama Friska menghilang tanpa memberi tahunya. Beberapa hari yang lalu dia melakukan hal yang sama, alasannya saat itu adalah dia pergi karena ada urusan penting dan mendadak. Lian bertanya urusan apa itu, tapi Friska tak menjawabnya malah mengalihkan pembicaraan sehingga Lian lupa akan pertanyaannya. Tak menaruh curiga sedikit pun, Lian percaya kekasihnya itu tak akan berbohong, mungkin memang urusannya saat itu bersifat pribadi, dan Lian tak ingin mencampuri urusan pribadi kekasihnya. Jika ingin bercerita pasti Friska akan menceritakannya. Lian berjalan menuju mobilnya yang terparkir, saat memasuki mobilnya, dia melihat siluet seseorang mirip Friska sedang turun dari mobil di seberang jalan. Dia memicingkan matanya agar tak salah lihat, tapi kendaraan yang berlalu lalang menghalangi pandangannya. Dicarinya sesosok Friska yang dia yakini, namun hilang entah kemana. "Apa aku salah lihat, tapi itu sangat mirip," Lian ingin keluar dan memastikan penglihatannya tidak salah, tapi dia urungkan. Dia harus segera pulang, teringat akan janjinya pada Ily. "Kamu kemana sih Fris? semoga saja memang ada sesuatu yang mendesak hingga tak sempat mengabari aku," ucap Lian masih tetap memandangi ke arah seberang jalan, tempat Friska turun dari sebuah mobil mewah. Dia melaju kan mobilnya, menembus jalanan kota yang mulai macet. * * * Tok Tok Tok... (Suara ketukan dari pintu kamar Ily) "De, kak Lian boleh masuk?" tanya Lian dari luar. "Masuk aja, biasa juga langsung masuk," sahut Ily dari dalam. Alian membuka knop pintu dan berjalan masuk kedalam. Berjalan menuju Ily dengan tersenyum. "Kenapa?" tanya Ily heran. "Apanya yang kenapa?" Lian balik bertanya. "Tuh senyum-senyum gaje. Iya-iya tahu yang abis ngedate makan siang bareng pacar," menekankan kata pacar dengan penuh tekanan. "Maafin kak Lian yah," mengambil posisi duduk di samping Ily, gadis itu tengah duduk di pinggiran ranjang. Mengelus lembut surai rambut adiknya. Kening Ily mengkerut,"Kenapa minta maaf? emang kak Lian ada salah sama aku?" "Kak Lian tahu, Ily marah karena kejadian di mall tadi," "Kenapa kak Lian bisa seyakin itu, aku gak marah dan emang buat apa juga aku marah," "Entahlah, hati kakak mengatakan kalau adik kesayangan aku ini(mencubit pipi Ily lembut) marah sama aku," "Idih pede (menyingkirkan tangan Lian dari pipinya)," "Hmmm, pacar kakak cantik yah, modis dan juga sexy," "Serasi, pas yang satu ganteng yang satu cantik," timpalnya lagi. "Benarkah! nanti kakak kenalin kamu secara langsung sama Friska," "Ohh, nama dia Friska. Nama yang bagus," Ily tersenyum, namun di balik senyumannya menyimpan rasa sedih. Raut wajah Lian terlihat sedang memikirkan sesuatu, dan Ily menyadari itu. "Ada yang sedang kak Lian pikirkan?" menyadari pertanyaan itu, Lian dengan cepat berbalik kearah adiknya dan tersenyum kembali. "Memikirkan bagaimana caranya membuat Prilly Quenzha selalu tersenyum setiap saat," Blusshh,, tanpa Lian sadari pipi gadis itu bersemu kemerahan. "Idihhh, gombalin adiknya," "Emang kenapa, gak boleh?" tanya Lian. "Bahaya tahu, nanti akunya...."perkataannya terhenti dan enggan untuk melanjutkan. Lian masih menunggu Ily melanjutkan perkataannya. "Nanti kamunya kenapa?" tanya Lian gemesh karena Ily hanya terdiam. "Gak ada, udah sana kak Lian keluar, aku mau mandi," "Ya udah mandi sana, kakak tunggu disini, atau mau kakak yang mandiin?" menaik turunkan alisnya dan memasang raut wajah jahil. Tanpa Lian sadari pipi gadis itu tengah berwarna merah. "Ihhh, sana keluar. Aku panggil mamah nih, kak Lian ngejailin aku," Menarik tangan Lian dan menyeret kakaknya itu keluar dari pintu, setelah keluar dia mengunci pintu agar Lian tak masuk. Terdengar suara tawa dari bilik pintu, suara tawa khas yang terdengar begitu candu di telinga Ily. "Ya udah mandi yang bersih, kakak mau siap-siap juga," Tak ada sautan dari gadis imut itu, ternyata dia sudah bergegas menuju kamar mandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN